Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 43


__ADS_3

...Jangan lupa vote...


...****...


"Aku berangkat dulu Mah, Pah,," Davina beranjak dari duduknya. Pamit pada mereka dan bergegas pergi dari ruang makan bersama Farrel.


"Jangan ngebut-ngebut Rel,," Ujar Edwin.


"Siap Pah,," Farrel mengacungkan jempol sambil terus berjalan di belakang Davina.


Sementara itu, Dave hanya diam memperhatikan kepergian mereka. Dia tidak bisa mencegah Farrel untuk mengantar Davina, walaupun sebenarnya tidak rela melihat Davina berangkat bersama Farrel.


Namun karna dia belum memberitahukan hubungannya dengan Davina pada Edwin dan Sandra, Dave jadi tidak punya alasan untuk melarang Farrel mengantar Davina.


Dave belum bisa mengakui pada mereka kalau dia dan Davina memiliki hubungan. karna dia masih ingin tinggal di rumah ini untuk mengawasi Davina. Tak hanya itu, dia juga ingin selalu berada di dekat gadisnya.


"Sudah sejauh apa persiapan kamu Dave.?" Suara Edwin membuyarkan pandangan Dave yang masih menatap kepergian Davina.


"Sudah seratus persen, tinggal menunggu acara itu untuk membongkar keburukan Jasmine dan kecurangan orang tuanya." Tutur Dave berapi-api, dia tidak sabar melihat keluarga Jasmine hancur. Meski itu tak sebanding dengan kematian Mama dan Papanya yang ternyata ada campur tangan Diana, Ibu kandung Jasmine sekaligus Ibu tiri Dave.


"Aku berangkat dulu Mah, Pah,," Davina beranjak dari duduknya. Pamit pada mereka dan bergegas pergi dari ruang makan bersama Farrel.


"Jangan ngebut-ngebut Rel,," Ujar Edwin.


"Siap Pah,," Farrel mengacungkan jempol sambil terus berjalan di belakang Davina.


Sementara itu, Dave hanya diam memperhatikan kepergian mereka. Dia tidak bisa mencegah Farrel untuk mengantar Davina, walaupun sebenarnya tidak rela melihat Davina berangkat bersama Farrel.


Namun karna dia belum memberitahukan hubungannya dengan Davina pada Edwin dan Sandra, Dave jadi tidak punya alasan untuk melarang Farrel mengantar Davina.


Dave belum bisa mengakui pada mereka kalau dia dan Davina memiliki hubungan. karna dia masih ingin tinggal di rumah ini untuk mengawasi Davina. Tak hanya itu, dia juga ingin selalu berada di dekat gadisnya.

__ADS_1


"Sudah sejauh apa persiapan kamu Dave.?" Suara Edwin membuyarkan pandangan Dave yang masih menatap kepergian Davina.


"Sudah seratus persen, tinggal menunggu acara itu untuk membongkar keburukan Jasmine dan kecurangan orang tuanya." Tutur Dave berapi-api, dia tidak sabar melihat keluarga Jasmine hancur. Meski itu tak sebanding dengan kematian Mama dan Papanya yang ternyata ada campur tangan Diana, Ibu kandung Jasmine sekaligus Ibu tiri Dave.


Ya, Jasmine dan Dave adalah saudara tiri sejak Diana merebut Papa Dave 23 tahun yang lalu. Disaat usia Dave baru 9 tahun, dia harus merelakan Papanya hidup bahagia bersama wanita lain yang telah memiliki 2 orang anak.


Saat itulah penderitaan Dave dan Sandra di mulai. Ketika Diana berusaha menguasai semua harta dan kekayaan Papanya.


Yang lebih menyakitkan lagi, Diana menjebak Mama Dave bersama laki-laki lain, seolah-olah Mama Dave memiliki hubungan terlarang dengan laki-laki itu hingga akhirnya Papa Dave menceraikannya dan benar-benar memilih Diana dibandingkan memilih wanita yang sudah mengandung dan melahirkan darah dagingnya.


Sejak saat itu kehidupan mereka semakin menyedihkan, Sandra bahkan harus berjuang untuk mencukupi kehidupan mereka disaat dia baru duduk di bangku SMA.


Sebagai anak tertua, Sandra sudah menjadi tulang punggung keluarga di usianya yang masih remaja. Dia bekerja keras bukan hanya untuk dirinya sendiri yang berambisi untuk memiliki perusahaan. Tapi juga untuk Dave dan Mamanya. Sandra juga yang selalu memberikan semangat pada Dave agar menjadi orang yang sukses dan berhasil di kemudian hari.


Tapi pada kenyataannya, penderitaan mereka tak hanya sampai di situ. Disaat Papa Dave mulai menyadari kesalahannya dan ingin menebusnya dengan cara membiayai semua kebutuhan Dave dan Sandra, Diana malah berbuat nekat dengan membuat kehidupan Dave dan Sandra semakin sulit. Menarik kembali semua fasilitas dan uang yang selalu diberikan oleh Papa Dave.


Selang 3 tahun, Mama Dave mengalami kecelakaan. Saat itu Dave yang baru berusia 12 tahun tak menaruh curiga sedikitpun pada kematian Mamanya. Dia hanya tau kematian Mamanya murni karna kecelakaan, tanpa tau bahwa ada wanita keji dibalik insiden itu.


Beruntung sebelum sang Papa meninggal, dia sudah menjodohkannya dengan Jasmine. Disitulah Dave bertekad untuk membalas semua perbuatan keji yang dilakukan oleh Diana pada keluarganya.


...*****...


"Makasih Kak,," Ucap Davina kemudian turun dari mobil Farrel.


"Eh,, mau kemana kamu.? Tungguin, aku mau keliling kampus dulu sebelum resmi jadi mahasiswa disini." Seru Farrel. Dia lalu bergegas turun dan berdiri di samping Davina.


"Tapi aku harus ke kelas, Kak Farrel keliling sendiri saja. Atau mau aku panggilin temen buat nemenin Kak Farrel.?" Tawar Davina.


"Siapa.? Cewe atau cowo.?" Tanya Farrel penasaran. Tentu saja dia akan menerima tawaran Davina dengan senang hati jika teman Davina adalah perempuan. Memiliki jiwa petualang membuat Farrel selalu tertarik untuk berurusan dengan wanita, terutama wanita yang belum dia kenal sebelumnya.


"Cewe. Tapi jangan coba-coba di godain ya, dia masih polos banget. Belum pernah dekat sama cowo."

__ADS_1


Penuturan Davina langsung mengundang gelak tawa Farrel. Bagaimana mungkin dia tidak tertawa saat mendengar ada wanita yang jauh lebih polos dari Davina. Bagi Farrel, Davina saja sudah menjadi satu-satunya wanita terpolos yang pernah dia temui. Jika Davina yang polos menilai orang lain polos, lalu seperti apa wanita itu.?


"Iih,, kenapa malah ketawa.? Emangnya ada yang salah sama ucapan aku.?" Davina menatap dengan dahi berkerut.


"Nggak ada. Ya udah cepetan dimana temen kamu.?" Tanya Farrel. Dia memilih tidak mengutarakan pikirannya dari pada harus menjelaskan pada Davina. Pasti akan membutuhkan waktu lama karna Davina akan banyak bertanya.


Daripada menjelaskan hal itu, Farrel lebih tertarik untuk segera bertemu dengan wanita yang menurut Davina masih polos itu.


"Kalau gitu aku ke kelas dulu. Telfon saja kalau Kakak ku macam-macam, aku akan adukan pada Mama agar dia dideportasi lagi." Seru Davina sembari berlalu meninggalkan Farrel dan temannya.


Sementara itu, Farrel tak menggubris ucapan Davina. Mata keranjangnya sudah terjerat pada gadis cantik di depannya. Gadis yang usianya 1 tahun lebih muda dari Davina.


...*****...


"Vin,,,"


Langkah Davina terhenti tepat di depan ruangan yang akan dia masuki. Suara yang sangat familiar itu memaksa Davina untuk menoleh ke arahnya.


Sebenarnya Davina sudah malas untuk berurusan dengannya. Sejak kejadian hari itu, Davina memutuskan untuk tidak lagi menganggapnya ada meski awalnya sempat balas dendam dengan menunjukkan padanya kalau dia baik-baik saja setelah penghianatan itu.


"Apa lagi Arga.?! Sampai kapanpun aku nggak akan kembali sama kamu lagi.!" Ketus Davina tanpa basa-basi.


Sudah beberapa hari ini Arga selalu menemui Davina, dia mengucapkan permintaan maaf berulang kali pada Davina atas pengkhianatan yang dia lakukan dengan Bianca.


Tak hanya itu saja, tanpa rasa malu dan bersalah, Arga mengungkapkan keinginannya untuk kembali pada Davina. Meminta gadis itu agar memaafkannya, melupakan semua kekhilafan dan mau memulai kembali hubungan yang sudah kandas akibat ulahnya sendiri.


Demi kenikmatan dan kesenangan sesaat, Arga rela menggadaikan kesetiaan dan ketulusan cinta Davina. Tak heran jika Davina bisa dengan mudah melupakan Arga dan hubungan yang sudah berjalan selama 2 tahun itu.


"Aku menyesal,, aku benar-benar minta maaf." Arga menunduk sendu. Jelas sekali kalau dia sangat menyesali perbuatannya.


"Percuma saja, penyesalan kamu nggak berarti apapun untukku.!" Ucap Davina tegas. Dia lalu masuk ke dalam kelas dan meninggalkan Arga begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2