
"Nabila,,,!!" Teriak Davina sembari berlari mengejar Nabila yang kebetulan lewat tak jauh dari kelasnya. Davina baru saja keluar dari kelas untuk istirahat.
"Ada apa kak.?" Nabila tersenyum tipis.
"Mau temenin aku makan di resto depan nggak.?" Tanya Davina. Sudah lama dia tidak bertemu dan mengobrol dengan Nabila. Selain ingin menanyakan kabar keluarga Nabila, Davina juga ingin tau sudah sejauh apa hubungan Nabila dan Farrel. Kabar terakhir yang dia dengar, Farrel sempat pergi makan malam dengan Nabila beberapa waktu lalu.
Nabila langsung menoleh pada temannya.
"Tapi kita mau ke kantin, bagaimana kalau ke kantin saja.?" Tawar Nabila.
"Di kafe aja, Ayu juga boleh ikut kok. Aku yang traktir,," Katanya sembari mengulas senyum pada Ayu yang setiap hari bersama Nabila.
"Ayo,,," Davina langsung menggandeng tangan Nabila.
Ketiganya lalu pergi ke restoran yang terletak di seberang kampus.
"kalian boleh pesan apa saja,," Kata Davina saat pelayan restoran menyodorkan buku menu ke meja mereka.
"Makasih kak,," Nabila dan Ayu kompak menjawab. Keduanya terlihat senang menerima kebaikan Davina. Karna bukan beberapa kali saja Davina mentraktir mereka, tapi sudah sangat sering.
Mereka berdua mahasiswa semester 2 yang mendapatkan beasiswa di universitas swasta itu yang cukup ternama dengan biaya terbilang mahal.
Davina mengenal Nabila secara tidak sengaja saat Nabila mengejarnya dari halaman parkir kampus untuk mengembalikan ponselnya yang terjatuh.
Dari perkenalan itu berlanjut menjadi pertemanan.
"Bagaimana kabar kakak kamu.? Apa dia sudah sehat.?" Tanya Davina pada Nabila.
Beberapa bulan yang lalu, Nabila sempat bercerita kalau dia memiliki seorang kakak yang sedang sakit keras.
Sebelumnya Nabila hanya menceritakan kedua orang tua dan adiknya saja yang tinggal di salah satu kota di Jawa Timur.
__ADS_1
Tapi ternyata dia juga memiliki seorang kakak yang tinggal di luar negeri setelah menikah. Dan dia kembali tinggal di Indonesia beberapa bulan lalu karna sedang sakit.
"Sudah lebih baik setelah menjalani beberapa kali operasi,," Jawab Nabila.
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Semoga suatu saat aku bisa bertemu sama keluarga kamu."
...****...
"Tuan, dia sudah kembali,,," Kata Raka. Orang kepercayaan Dave yang masuk ke dalam ruang kerja dan langsung menyodorkan map hitam pada Dave.
"Apa dia yang kamu maksud adalah Sisy.?" Tanya Dave. Matanya menatap Raka dengan tajam.
"Iya Tuan, Nona Sisy kembali." Jawab Raka.
Seketika Dave terdiam. Sorot matanya menerawang jauh. Sudah hampir 8 tahun dia mencari dan menunggu Sisy kembali. Bertahun-tahun tak bisa membuka hati karna perasaan cintanya pada wanita itu belum juga hilang dari hatinya.
Sejak dulu, Dave selalu berharap akan ada kabar tentang Sisy.
"Tuan.?" Ucap Raka lirih.
Lamunan Dave seketika buyar. Kini pandangannya tertuju pada map hitam yang ada di hadapannya.
Dave mulai membukanya, melihat satu persatu bukti yang menunjukkan kalau Sisy benar-benar kembali setelah hampir 8 tahun menghilang tanpa jejak. Bahkan kedua krang tua Sisy juga tidak tau di mana keberadaan putrinya itu.
Dave membacanya bukti riwayat penerbangan yang dilakukan oleh Sisy dari Jerman ke Indonesia 2 bulan lalu.
"Apa selama ini dia tinggal di Jerman.?" Tanya Dave tanpa mengalihkan pandangan pada kertas yang ada di tangannya.
"Sepertinya begitu, Tuan." Jawaban Raka sedikit ragu. Dia tak bisa memastikan hal itu dan hanya bisa menebak saja karna Sisy datang dari Jerman.
"Lalu kenapa selama ini tidak ada penerbangan atas nama Sisy,?!" Nada bicara Dave sedikit naik.
__ADS_1
Padahal sejak Sisy menghilang, Dave sudah menyuruh Raka untuk memeriksa semua penerbangan di Indonesia. Tapi sampai terkahir kali pencarian, tidak ada satupun penerbangan atas nama Sisy.
"Mungkin seseorang sudah membantunya memalsukan identitas saat pergi ke luar negeri, hingga kita tidak bisa melacaknya." Terang Raka.
Dia mencoba untuk menyampaikan dugaannya yang sejak awal sudah pernah dia katakan pada Dave. Hanya saja Dave tidak percaya karna merasa tak yakin Sisy bisa memalsukan identitas sampai bisa pergi keluar negeri. Mengingat bagaimana kondisi keluarga Sisy yang jauh dari kata cukup.
Dave meletakan kertas di tangannya, kemudian beralih pada foto yang terselip di antara kertas-kertas itu.
Raka menyertakan beberapa foto Sisy yang dia dapatkan dari rekaman cctv di bandara. Meski kualitas foto itu tidak terlalu bagus, tapi wanita itu tetap terlihat cantik.
Sampai detik ini, Dave tak pernah tau alasan Sisy yang tiba-tiba menghilang. Menghilang 2 bulan setelah malam indah itu.
"Siapkan penerbangan, aku harus menemuinya sekarang.!" Pinta Dave sambil berdiri dari kursi kerjanya. Dia menyimpan foto Sisy lebih dulu di dalam laci sebelum beranjak untuk keluar dari ruang kerjanya.
Raka sedikit terkejut melihat Dave yang ingin segera pergi menemui Sisy.
"Tapi Tuan, bagaimana dengan Nona Davina.?" Tanya Raka cemas. Apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Tapi dia tak punya pilihan untuk tetap memberikan informasi itu pada Dave, karna Dave pasti akan menghancurkannya jika menyembunyikan fakta tentang Sisy yang telah kembali.
Dave menghentikan langkah. Kedua tangannya terlihat mengepal kuat.
Hal itu membuat Raka semakin cemas dan takut. Entah apa yang rasakan oleh Dave saat ini hingga kedua tangannya mengepal.
Raka berharap semua hal tentang Sisy tak akan menghancurkan kebahagiaan Dave bersama istrinya. Apalagi tadi pagi sempat melihat Dave datang dengan raut wajah yang berbeda. Terlihat sangat bahagia dan ada sedikit senyum di bibirnya. Padahal selama ini Dave selalu memasang wajah tegas.
...****...
Promo lagi𤣠jangan lupa mampir ke novel² yang ada di bawah.
__ADS_1