Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 62


__ADS_3

"Breng-s3k,,,!! Lepaskan aku.!!"


"Kalian tidak tau siapa aku,,hah.?!!" Suara teriakan seorang wanita menggema di salah satu ruangan di dalam gedung kosong yang sudah lama terbengkalai. Kondisi wanita itu dalam keadaan tangan dan kaki yang terikat. Penutup di mata dan mulutnya bahkan baru di lepas setelah 3 jam di sekap di dalam ruangan itu.


"Kalian akan menyesal sudah menyekapku.!!" Teriaknya lagi.


Dia menatap 3 pria dengan badan tegap tinggi yang berdiri mengelilinginya. Mereka terlihat tak peduli dengan teriakannya. Hanya menatap datar dan kedua tangan disilangkan di atas dada.


"Katakan siapa yang menyuruh kaliaaaan.?!!!" Suara teriakan itu semakin menggema. Membuat ketiga laki-laki itu mendur beberapa langkah karna suaranya terlalu melengking di telinga.


"Apa kamu tidak lelah berteriak terus.! Ingat, kami tidak akan memberimu air minum setetes pun sebelum bos kami datang.!" Bentak salah satu dari mereka.


1 jam yang lalu, wanita itu sudah merengek meminta minum karna kehausan.


Mereka wanita itu dalam keadaan masih petang, bahkan di saat wanita itu sedang tertidur pulas di apartemennya.


Mendengar hal itu, dia mengepalkan kedua tangannya yang terikat di belakang punggung. Sorot matanya di penuhi amarah pada sosok yang sudah menyuruh orang untuk menyekapnya.


Siapapun orangnya, wanita itu pasti tidak akan pernah membiarkannya hidup tenang karna sudah berani melakukan hal ini padanya.


Setelah hampir 1 jam, kini kondisi di dalam ruangan sudah mulai tenang. Wanita itu tak lagi berteriak meski sesekali masih mengumpat kasar ketiga laki-laki yang ada di sana.


Suara pintu yang terbuka, membuat ketiga laki-laki itu langsung menghadap ke arah pintu dan membungkuk hormat pada pria dengan setelan jas rapi dan kaca mata hitam yang dia kenakan.


Dalam keadaan terikat di kursi dengan posisi membelakangi pintu, wanita itu berusaha menoleh untuk melihat seseorang yang datang. Seseorang yang dia yakini sebagai dalang dari semua ini.


Namun karna jaraknya cukup jauh dari pintu, dia tidak bisa melihatnya.


Suara derap langkahnya memecah keheningan. Pria itu berjalan mendekat dengan santai, namun aura dingin itu begitu menakutkan.


"Dasar baji-ngan,,!! Siapa kau.!!" Wanita itu kembali berteriak. Memaki seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja Jasmine.?" Suara maskulin itu terdengar berat.


"Dave.?!! Apa itu kamu.??!!" Teriak Jasmine. Dia memberontak, mencoba untuk melepaskan ikatan tangannya agar bisa menoleh ke belakang dan melihat si pemilik suara yang sangat dia kenali itu.


"Ingatanmu sangat baik tentangku." Ujar Dave sembari mengukir senyum kecut.


Dave menjentikkan tangannya pada orang suruhannya, memberikan kode pada mereka untuk meletakkan kursi depan Jasmine.


Salah satu dari mereka dengan cepat menyiapkan kursi dan meletakkannya di depan Jasmine dengan jarak yang cukup dekat.


"Jangan banyak bicara Dave.!! Katakan apa mau mu.!!" Geram Jasmine.


Sebenernya Jasmine sempat menduga kalau Dave dalang dari semua ini. Jadi dia tidak terlalu kaget saat mendengar suara Dave.


Dave berdiri di depan Jasmine, hanya memperhatikan sekilas kondisi Jasmine yang kacau. Dia lalu duduk di hadapan Jasmine. Tersenyum sinis pada wanita itu.


"Bukankah kamu cukup pintar.?" Sindir Dave.


Dave melepaskan kaca matanya. Dia menunjukkan tatapan tajamnya yang penuh amarah pada Jasmine.


"Jadi kamu menyekapku karna aku belum pergi dari kota ini.?!" Seru Jasmine. Dia memang belum bisa meninggalkan kota ini, masih banyak yang harus dia selesaikan termasuk mencari keberadaan saudara kembarnya. Belum lagi Mama Diana tak mengijinkan dirinya meninggalkan kota ini. Karna Diana takut tidak akan ada yang menjenguknya di tahanan.


"Bagus kalau kamu tau.!" Tegas Dave.


"Dan sebelum kamu pergi, katakan padaku di mana Justin.?!" Sentaknya. Dave mencengkram erat dagu Jasmine.


"Katakan dimana si breng-s3k itu.?!!"


"Jangan pikir setelah kalian menjebak Davina, aku akan melepaskan kalian begitu saja.!"


Dave menghempaskan kasar tangannya saat melepaskan cengkraman di dagu Jasmine.

__ADS_1


"Aku akan pergi secepatnya, tapi setelah apartemen ku terjual.!"


"Dan soal Justin, aku tidak tau dimana keberadaannya sekarang. Dia menghilang sejak malam itu.!" Tegas Jasmine.


Dia sudah mengatakan yang sejujurnya. Karna memang sampai detik ini belum mengetahui keberadaan Justin. Tapi sayang Dave tak percaya dengan ucapan Jasmine.


"Kau pikir aku percaya.?!" Sinis Dave.


"Cepat katakan padaku atau aku akan menyuruh mereka melakukan sesuatu padamu.!"


Ancaman dari Dave langsung membuat Jasmine menggelengkan kepala.


"Jangan coba-coba melukaiku Dave.! Kau akan tau akibatnya.!" Geram Jasmine.


"Tidak usah khawatir Jasmine, aku justru ingin menyuruh mereka untuk memuaskanmu." Dave mengulas senyum smirk yang mengerikan.


"Kamu sudah gila Dave.!!" Teriak Jasmine tak percaya.


"Kalau begitu, cepat katakan dimana Justin.!!" Dave menyentak tubuh Jasmine hingga wanita itu hampir terjatuh.


"Aku benar-benar tidak tau.! Kenapa kamu tidak cari sendiri saja.!"


Jawaban Jasmine membuat Dave semakin emosi.


Dia terus mendesak Jasmine agar memberi tau keberadaan Justin, tapi lagi-lagi wanita itu mengatakan hal yang sama.


"Percuma saja kamu mengulangi pertanyaan itu sebanyak apapun, kamu tidak akan mendapatkan jawaban yang berbeda karna aku memang tidak tau.!" Sinis Jasmine.


Dave terlihat mengepalkan kedua tangannya. Menatap sorot mata Jasmine yang memang tidak menyembunyikan kebohongan soal keberadaan Justin.


"Sekarang lepaskan aku. Aku janji akan segera pergi dari kota ini." Jasmine mulai memohon.

__ADS_1


"Tidak semudah itu.!" Sahut Dave tegas. Ada yang harus dia lakukan pada Jasmine untuk memberikan pelajaran pada wanita itu karna sudah berani mengusik Davina hingga membuatnya jadi salah paham.


__ADS_2