
Dave dan Davina keluar dari kamar setelah mandi bersama. Keduanya menghentikan langkah saat melihat Farrel yang menempati kamar sebelah juga baru saja keluar dari kamarnya. Mereka berpapasan, saling menatap untuk pertama kalinya sejak kejadian di resort waktu itu. Belakangan ini Farrel selalu menghindar. Dia juga jarang berada di rumah dengan alasan menginap di rumah temannya. Laki-laki itu juga sengaja melewatkan sarapan dan memilih untuk langsung berangkat ke kampus. Begitu juga saat makan malam bersama, selalu banyak alasan untuk tidak bergabung di meja makan bersama Davina.
Setelah menatap malas ke arah Dave, Farrel berlalu tanpa menyapa atau tersenyum pada mereka. Hal itu membuat Davina langsung mengejarnya, menahan tangan Farrel untuk meminta penjelasan kenapa kakak tirinya itu berubah sikap padanya. Tak mau menyapa dan selalu menghindarinya.
"Tunggu Kak,," Davina berdiri di depan Farrel untuk menghadang langkahnya.
"Sebenernya kak Farrel itu kenapa.? Kenapa selalu menghindari ku.?" Davina menatap serius, dia benar-benar tidak tau apa yang membuat Farrel jadi berubah padanya. Setelah kejadian di resort waktu itu, dia sudah meminta maaf pada Farrel atas perbuatan kasar Dave. Selebihnya dia tidak tau hal apa yang sudah membuat Farrel selalu menghindar.
"Aku tidak menghindar, mungkin hanya perasaan kamu saja." Farrel mengelak. Jelas itu bukan jawaban yang sebenarnya. Dia menghindari Davina karna sadar bahwa apa yang dia lakukan salah. Salah karna masih menaruh hati pada Davina meski saat itu sudah mengetahui Davina akan menikah dengan Dave.
"Aku buru-buru ke kampus, byee,," Farrel melepaskan tangannya dari genggaman Davina. Laki-laki itu sempat mengacak gemas pucuk kepala Davina yang membuat Dave membulatkan mata dan mengepalkan tangannya karna menahan kesal.
Dia tidak rela Davina di sentuh laki-laki lain, sekalipun laki-laki itu adalah kakak tiri Davina.
"Tapi Kak, aku masih ingin bicara,,!" Davina sedikit berteriak lantaran Farrel sudah beranjak dari sana dengan langkah cepat.
"Sudah, biarkan saja dia pergi." Ujar Dave datar. Dia kemudian menggandeng tangan Davina dan mengajaknya turun untuk sarapan bersama.
Dave tidak tahan melihat Davina berinteraksi dengan Farrel. Seketika merasa kesal hanya karna melihat Davina dan Farrel berbicara. Apalagi disertai dengan kontak fisik walaupun hanya sentuhan biasa.
...****...
"Pagi Mah, Pah,," Davina menyapa kedua orang tuanya lalu bergabung di meja makan. Begitu juga dengan Dave yang menyapa mereka, kemudian duduk di samping Davina.
__ADS_1
Sambil menjawab sapaan dari Davina dan Dave, Edwin dan Sandra terlihat memperhatikan keduanya yang tampak baik-baik saja. Mereka tentu berharap agar Davina dan Dave bisa memulai hubungan dari awal lagi, mengingat kondisi kehamilan Davina.
Davina meraih gelas berisi susu khusus ibu hamil yang ada di depannya. Sejak dinyatakan hamil, pekerja rumah memang selalu membuatkan susu untuk Davina saat sarapan dan meletakkannya di meja makan.
Susu rasa coklat yang masih sedikit hangat itu dia minum sedikit demi sedikit. Meneguk dengan cara yang biasa namun terlihat menggiurkan di mata Dave yang tengah memperhatikan Davina meminum susu itu.
Tak meneguknya sampai habis, Davina kembali meletakkan gelas itu di depannya. Kemudian mulai menyendok makanan yang ingin dia makan.
Sementara itu, Dave yang melihat Davina sudah meletakkan kembali susu yang tadi di minum, langsung mengambil gelas itu tanpa permisi.
"Om,, mau apa.?" Tanya Davina. Dia menatap cemas melihat Dave mengambil susu ibu hamil miliknya.
"Mau mencobanya, sepertinya enak." Jawab Dave. Dia yang memang tidak tau jenis susu itu, tentu saja tak berfikir kalau susu itu hanya boleh di minum oleh Davina. Dan dengan entengnya akan meneguk susu yang masih tersisa di dalam gelas.
"Kamu mau susu coklat juga.? Biar kakak minta sama pelayan untuk membuatkannya." Tawarnya.
"Tidak perlu kak, aku mau coba yang ini saja."
"Lagipula kalau dibuatkan yang baru belum tentu aku ingin meminumnya." Jawab Dave. Karna dia sadar keinginan meminum susu itu bukan karna tergiur dengan susunya, melainkan tergiur saat melihat Davina meminumnya. Jadi kalaupun dia di buatkan susu yang baru dan Davina tidak mencobanya, sudah pasti Dave tak ini meminumnya.
"Tapi Om, jangan di minum, itu punyaku." Davina langsung merebut gelas itu dari tangan Dave. Lalu menjauhkannya dari jangkauan Dave.
"Aku hanya ingin mencobanya sedikit, bukan mau menghabiskannya." Nada bicara Dave penuh penekan. Dia mulai kesal karna di larang untuk mencoba susu itu. Padahal dia sangat ingin mencobanya hingga merasa liurnya akan menetes saat melihat Davina meminumnya.
__ADS_1
"Tetap tidak boleh Dave, biar Kakak bikinkan yang lain." Sandra terpaksa beranjak dari duduknya untuk membuatkan susu yang lain agar Dave tidak meminum susu ibu hamil milik Davina.
"Tidak perlu kak." Kata Dave. Dia beranjak dari duduknya, dengan cepat mengambil susu yang sudah di jauhkan oleh Davina dan langsung meneguknya tanpa bisa di cegah oleh yang lain.
"Ya ampun Om.!!" Pekik Davina. Dia sampai melongo karna kaget melihat Dave minum susu itu.
"Dave.! Sudah kakak bilang,,
"Lihat, aku hanya mencobanya sedikit." Potong Dave sembari meletakkan kembali gelas itu yang memang hanya berkurang sedikit isinya.
"Enak juga, susu apa itu.?" Tanyanya.
"Apa masih ada stok di dapur.? Aku akan meminta pelayan untuk membuatkannya lagi." Ujar Dave.
Sebenarnya dia masih ingin meminum susu itu lagi, tapi takut Davina akan kesal dan marah padanya.
Ucapan Dave membuat Edwin, Sandra dan juga Davina melongo. Mereka tidak mungkin mengatakan jenis susu yang barus saja diminum oleh Dave, lantaran Davina belum mau memberitahukan tentang kehamilannya pada suaminya itu.
...***...
maaf baru up, dri semalem anak demam tinggi 🙏🏻
Jangan lupa vote yah🙏🏻
__ADS_1