
Dave memarkirkan mobil di basemen apartemen. Dengan raut wajah tegas menahan amarah, dia berjalan cepat menuju salah satu pintu apartemen di lantai 10. Berjalan tegap, dengan kedua tangan yang mengepal.
Begitu sampai, Dave langsung menekan bel. Tak perlu menunggu waktu lama, pemilik apartemen itu segera membuka pintu untuk Dave. Dia melihat Dave dari layar monitor, itu sebabnya buru-buru membukakan pintu untuk orang yang sangat dia cintai.
"Dave,, kamu datang. Aku yakin kamu akan kembali padaku,," Seketika Jasmine menghambur ke pelukan Dave. Wanita itu terlihat kacau dengan mata sembab, rambut yang sedikit berantakan dan hanya memakai baju minim.
Mendapat pelukan dari Jasmine, Dave hanya diam saja tanpa melakukan apapun. Dia memberikan kesempatan pada wanita itu untuk sedikit merasakan kebahagiaan sebelum dia menyiksanya.
Dave mulai bergerak maju, menggiring Jasmine untuk masuk ke dalam apartemen dalam keadaan masih di peluk oleh wanita itu.
Rupanya hal itu membuat Jasmine semakin tersenyum lebar, dia terlalu yakin kalau Dave bisa memaafkannya dan akan kembali padanya.
"Dave,, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengkhianati kamu,," Ujar Jasmine setelah dia melepaskan pelukannya.
"Kamu pasti tau kalau aku sangat mencintai kamu sejak dulu,," Tuturnya dengan raut wajah sendu.
Dave mendorong pintu dengan sebelah kaki untuk menutupnya.
Dia belum berniat merespon ucapan Jasmine, masih memberikan Jasmine kesempatan mengutarakan isi hatinya. Walaupun bagi Dave semua itu hanya omong kosong yang tak berarti apapun.
Kedua mata Dave mengamati keadaan ruang tamu yang berantakan. Dia baru sadar kalau apartemen Jasmine tak kalah kacau dengan penampilan pemiliknya.
Beberapa bantal sofa tergelak di lantai. Sepihak vs bunga berhamburan di pojok ruangan. Hiasan yang biasanya tertata rapi di rak, ikut berjatuhan di lantai.
Rupanya Jasmine baru saja meluapkan emosinya dengan membanting semua barang yang ada di ruang tamu.
"Itu,, aku,,,," Jasmine berkata gugup. Dia bermaksud menjelaskan kekacauan yang terjadi pada Dave.
"Aku hanya kesal karna kamu mempermalukanku dan membatalkan pernikahan kita." Jelasnya. Dia semakin memasang raut wajah sendu.
Dave mengulas senyum smirk. Menatap sinis wanita yang berdiri di hadapannya dengan tatapan memelas.
"Kamu beruntung karna aku hanya mempermalukan mu." Sinis Dave.
"Perbuatan mu bahkan pantas mendapatkan balasan yang lebih dari itu.!" Tegasnya. Dave maju satu langkah hingga jaraknya semakin dekat dengan Jasmine. Dia bisa leluasa menatap tajam wanita itu.
"Kamu beruntung karna masih membiarkanmu hidup.!" Seru Dave bersamaan dengan satu tangannya yang mencekik kuat leher Jasmine hingga kedua mata wanita itu membulat sempurna karna tidak bisa bernapas.
__ADS_1
"Uhhukk,,, le pas Da,,ve,," Suara Jasmine terbata. Dia mencoba memberontak untuk lepas dari cekikan Dave, namun pria itu justru semakin kuat mencekik lehernya.
"Katakan padaku kalau kamu terlibat dalam penjebakan Davina di club,,,!!" Teriak Dave tepat di depan wajah Jasmine. Membuat wanita itu memejamkan mata.
Jasmine menggelengkan kepala. Dia tidak mau mengakui perbuatan kejinya pada Davina. Perbuatan yang membuat Davina harus mendapatkan perlakuan kasar dari Dave atas hal yang tidak pernah ia lakukan.
“Kamu tidak mau mengaku.?!!" Sentak Dave. Cengkeramannya di leher Jasmine semakin kuat hingga wajah Jasmine memerah karna hampir kehabisan oksigen.
"Bun,,nuh saa,,ja,," Ucap Jasmine. Dia mengulas senyum mengejek walaupun sedang menahan sakit di lehernya dan kepalanya yang terasa ingin meledak karna tidak bernafas.
"Jal-lang sialan.!!" Geram Dave. Dia melepaskan cengkramannya di leher Jasmine sembari mendorong kuat wanita itu dan membuat Jasmine tersungkur di lantai. Kepalanya bahkan terluka karna membentur sudut meja.
Dalam keadaan menahan sakit di leher dan pelipisnya, Jasmine masih saja terlihat santai. Dia hanya menyeka sedikit darah yang keluar, setelah itu menatap tenang ke arah Dave.
"Kenapa Dave.? Apa kamu tidak tega membunuhku.?" Tanya Jasmine.
"Aku tau kamu pasti mencintaiku." Katanya dengan rasa percaya diri yang tinggi. Dia kemudian bangun, kembali berdiri tegap. Dia mengulas senyum penuh arti pada Dave.
Perlahan berjalan maju, kedua tangannya mulai mengangkat baju ketat yang melekat di tubuhnya. Melepasnya dengan cepat dan melemparnya begitu saja. Tubuh bagian atas Jasmine terbuka seluruhnya. Menampakkan kedua asetnya yang menantang.
Melihat pemandangan itu, Dave justru menatap jijik. Sedikitpun tak tertarik untuk menyentuh Jasmine, karna dia tau sudah berapa banyak tangan dan bibir laki-laki yang menyentuhnya.
"Dilihat dari ekspresi di foto itu, sepertinya dia sangat menikmati malam panasnya dengan justin." Ujarnya lagi.
Seketika Dave mengepakkan kedua tangannya. Dia semakin terbawa amarah mendengar ucapan Jasmine.
"Jadi benar kamu terlibat.?!" Sentak Dave. Dia kembali mencekik leher Jasmine.
"Aku peringatkan sekali lagi, Cepat pergi sejauh mungkin atau aku akan melenyapkanmu.! Sama seperti Diana yang melenyapkan kedua orang tuaku.!" Ancam Dave. Dia kemudian mendorong tubuh Jasmine. Membuat wanita itu terlempar ke sofa.
"Aku beri waktu sampai besok pagi. Kalau kamu masih ada disini, aku tidak akan segan-segan membuangmu ketengah laut.!" Serunya kemudian bergegas keluar dari apartemen Jasmine.
"Daveee,,,,!!! Aku mencintaimu,,,!! Kamu tidak bisa meninggalkanku begitu saja,,,!!!" Teriak Jasmine. Wanita itu lalu menangis histeris. Kembali mengamuk dengan membanting apa saja yang ada di depan matanya.
...*****...
Davina memasang wajah cemberut sembari keluar dari kamarnya. Dengan rambut yang masih sedikit basah, dia berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Rambut panjangnya terurai ke depan. Menutupi kedua bahunya yang tanpa kain. Hanya ada tali tipis dari dress tanpa lengan yang dia pakai.
Meski memasang wajah muram dan cemberut, gadis itu masih terlihat cantik. Bahkan menggemaskan.
Davina membuka lemari pendingin, mengambil susu kemudian menuangkannya ke dalam gelas.
Dia juga mengambil beberapa buah yang ada di sana dan membawanya ke meja makan.
"Kemana Om tua itu. Dia bilang akan segera kembali. Tapi sudah hampir malam belum pulang."
Gumamnya sembari melirik jam yang sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore.
"Dia benar-benar tega mengurungku disini. Awas saja nanti, akan aku adukan pada Papa.!" Sewotnya. Dia kemudian meneguk susu.
"Coba saja kalau berani."
Davina langsung menoleh setelah mendengar suara datar milik suaminya itu.
"Tentu saja aku berani.!" Sahut Davina kesal.
"Aku akan bilang pada Papa kalau Om Dave berbuat kasar padaku dan mengurungku disini.!" Nada bicara Davina meninggi. Dia lalu beranjak dari duduknya. Mengambil susu dan piring berisi buah miliknya untuk di bawa ke dalam kamar.
"Mau kemana.?" Dave memegangi pergelangan tangan Davina. Dia mengambil gelas dari tangan Davina dan meneguk susu itu sampai habis.
Melihat Dave menghabiskan semua susu di gelas itu, kedua mata Davina langsung melotot tajam.
"Om,, Itu punyaku.!! Kalau Om mau minum, ambil saja sendiri." Davina menggerutu.
"Kelamaan kalau saya ambil sendiri." Sahut Dave enteng.
"Saya mau mandi." Katanya sembari meletakan gelas kosong itu di tangan Davina, lalu bergegas pergi tanpa rasa bersalah sedikitpun telah menghabiskan susu itu.
"Om Dave,,,!!! Dasar menyebalkan, seenaknya sendiri.!!" Teriak Davina dengan suara power full. Suaranya sampai menggema di semua sudut apartemen. Dave hanya menutup telinganya dan kembali berjalan menuju kamar.
...***...
...Jangan lupa masukin daftar favori
__ADS_1
...