Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 102


__ADS_3

Davina buru-buru membawa makanan miliknya dan masuk ke dalam kamar. Dia tidak mau mendengar Dave merengek untuk meminta makanannya lagi. Sedangkan makanan itu hanya sisa beberapa suap lagi.


Seandainya di lemari pendingin masih ada stok bahan makanan yang sama, sudah pasti Davina akan membuatnya lagi untuk dirinya sendiri karna dia juga belum puas memakannya.


Jadi mana mungkin dia mau berbagi dengan Dave, walaupun hanya seujung sendok.


"Ya ampun Davina,, kamu tega sekai." Dengan wajah memelas, Dave mengikuti langkah Davina di belakangnya.


Dia tidak menyangka Davina akan bertindak sejauh itu dengan membawa makanannya ke dalam kamar, hanya karna takut makanannya akan di minta.


"Bukannya tadi Om sudah merasakan makanannya lewat bibirku.! Jadi jangan harap aku akan membaginya." Seru Davina. Dia semakin cepat melangkah kaki, masuk ke dalam kamar dan langsung menginginkan.


Dave terdiam di depan pintu kamar. Dia mulai menyadari ada sesuatu yang menggelikan di antara dia dan Davina. Merasa jika dirinya seperti anak kecil yang sedang memperebutkan makanan. Dan seumur hidupnya, baru kali ini Dave mengalami hal konyol di luar logikanya.


"Astaga,, apa yang aku lakukan." Dave hanya bisa menggelengkan kepala. Dia bingung sendiri dengan apa yang terjadi pada padanya.


"Apa mungkin Davina benar-benar sedang mengandung anakku.?" Lirihnya. Antara percaya dan tidak karna baru pertama kalinya dia mengalami keanehan seperti ini.


Dave juga tidak bisa sepenuhnya percaya dengan penjelasan dokter yang menurutnya tidak logis dan baru pertama kali dia mendengar penjelasan seperti itu. Menurutnya aneh ketika sang istri tengah hamil, tapi suami yang mengalami gejala-gejala kehamilan tersebut.


...****...


Davina keluar dari kamar. Dia merasa haus setelah makan tanpa minum sesudahnya.

__ADS_1


Lagipula makanannya sudah habis, jadi dia tidak perlu takut Dave akan memintanya.


Sampainya di dapur, Davina menghentikan langkah karena melihat Dave yang sedang berada di meja makan tengah memakan es krim dengan santai dan perlahan. Seolah menikmati setiap suapan es krim yang masuk ke dalam mulut.


Hal itu membuat Davina tanpa sadar menelan ludah. Tiba-tiba saja dia sangat ingin memakan es krim yang sedang di makan oleh Dave.


Davina segera melangkah maju, tentu saja dia ingin meminta es krim itu. Sayangnya baru beberapa langkah, Davina kembali berhenti lantaran ingat saat Dave meminta makanan miliknya dan Davina tak memberikannya sedikitpun.


“Kalau aku minta es krim itu, Om Dave pasti tidak mau membaginya padaku.”


Gumam Davina. Dia yakin Dave juga tidak akan berbagi dengannya mengingat dia juga tak mau membagi makanannya pada Dave.


"Davina,," Panggil Dave. Dia memperhatikan Davina yang kedapatan sedang melamun.


"Ada apa.?" Tanya Dave lembut.


"Aku mendengar suara bel, mungkin ada yang datang." Ucap Davina dengan ekspresi yang meyakinkan. Dave tampak mengerutkan kening sejenak, tentu memikirkan siapa orang yang datang ke apartemennya malam-malam begini.


Meski begitu, Dave tetap beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang ke apartemennya.


"Aku lihat dulu sebentar." Kata sembari bangun dari duduknya.


Davina mengulas senyum lebar, matanya langsung tertuju pada cup es krim yang di tinggalkan oleh Dave begitu saja di atas meja makan.

__ADS_1


Davina mengangguk, melihat kepergian Dave hingga tak terlihat lagi dari pandangan matanya.


Setelah memastikan Dave sudah jauh, Davina buru-buru menghampiri meja makan. Duduk di tempat Dave tadi dan langsung menyendok es krim itu sebanyak-banyaknya dan memasukkannya ke dalam mulut dengan buru-buru. Dia takut Dave melihatnya sedang memakan es krim itu.


Setelah merasa puas memakan es krim itu, Davina langsung beranjak dari duduknya. Dia pura-pura mengambil gelas dan mengisinya dengan air untuk di minum. Dan bersamaan dengan itu, Dave kembali ke ruang makan.


"Tidak ada siapapun di luar, mungkin kamu salah dengar." Suara Dave membuat Davina tersedak minuman kaget karna posisinya membelakangi pintu masuk hingga tidak melihat saya Dave kembali.


"Uhhukk,, uhhukk,," Sebagian air yang ada di mulutnya sampai menyembur keluar.


"Davina,, kamu baik-baik saja.?" Dave dengan sigap menghampiri istrinya itu. Dia memberikan pijatan ringan di tengkuknya.


"A,aaku baik-baik saja." Davina bergeser menjauh, dia meletakkan gelas dan langsung pergi begitu saja dari ruang makan dengan tergesa-gesa. Tentu saja keanehan itu bisa di lihat oleh Dave. Dia merasa ada yang janggal dengan gerak-gerik Davina.


"Kenapa dia.?" Gumam Dave bingung.


Dave kemudian kembali ke tempat duduknya karna teringat dengan es krim yang belum dia habiskan tadi.


Dave menatap cup es krim dengan dahi berkerut. Bagaimana dia tidak heran ketika melihat es krim yang baru 3 menit dia tinggalkan tiba-tiba berkurang. Hampir setengah dari isi di dalam cup itu berkurang.


"Siapa yang makan es krim ini.?" Gumam Dave heran.


"Tidak mungkin kan ada hantu yang makan es krim.?" Ujarnya tak habis pikir. Dia juga tidak yakin akan hal itu. Lagipula mana mungkin di apartemennya ada hantu. Selama bertahun-tahun dia menempati apartemen ini, tak pernah sekalipun mengalami kejadian aneh seperti itu.

__ADS_1


Namun karna tidak mau ambil pusing, Dave kembali menyantap es krim itu hingga habis.


Dan sampai sekarang dia tidak tau kemana hilangnya es krim itu.


__ADS_2