
"Om,, Om baik-baik saja.?!" Seru Davina. Dia menggedor pintu kamar mandi berulang kali sambil terus memanggil Dave. Pria itu tiba-tiba berlari ke kamar mandi saat akan mengambilkan minuman dingin untuk Davina di dalam lemari pendingin.
Minuman itu bahkan belum sempat di ambil lantaran Dave langsung menutup kembali lemari pendingin itu, lalu pergi sembari menutup mulutnya.
Davina terus menggedor dan memanggil Dave, tapi tak ada jawaban dan hanya terdengar suara sedang muntah berulang kali.
Mendengar hal itu, tentu saja ada kecemasan di wajah Davina. Sekalipun dia belum bisa membuka hatinya untuk Dave lagi, ada rasa khawatir karna Dave mengalami apa yang dia alami.
Davina tau betul seperti apa rasanya saat sedang muntah seperti itu. Sangat tidak enak karna isi perut terasa sedang di aduk-aduk.
Dave keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat pucat dan lemas, tapi masih sempat mengulas senyum tipis pada Davina. Seolah mengatakan dia baik-baik saja.
"Maaf, jadi belum sempat mengambilkan minuman untuk kamu." Lirih Dave. Dia masih sempat memikirkan Davina yang belum disediakan minum sejak tadi.
"Biar aku ambilkan sekarang.".Katanya lalu beranjak menuju dapur. Davina menyusul Dave, bahkan mendahuluinya ketika sampai di dekat meja makan.
"Om duduk saja, aku bisa ambil sendiri." Setelah menyuruh Dave untuk duduk, Davina mengambil oren jus di lemari pendingin. Membawa dan meletakkannya di atas meja makan.
Lalu kembali beranjak untuk mengambil 2 gelas dan mengisi salah satu gelas itu dengan air hangat.
"Minum air hangat untuk meredakan mualnya." Ucap Davina sembari menyodorkan gelas berisi air hangat pada Dave.
Sementara itu, dia duduk di seberang Dave dan mengisi gelas gosong di tangannya dengan oren jus untuk dirinya sendiri.
Dave yang sudah meneguk habis air hangat di tangannya, kini menatap Davina tanpa kedip.
Dia selalu merasa tersentuh dengan perhatian kecil yang diberikan oleh Davina meski keadaan mereka tak lagi sama seperti dulu.
"Berapa kali dalam sehari.?" Tanya Davina datar. Dia memperhatikan Dave yang terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya. Sudah tak terlihat pucat lagi.
"Berapa kali.? Apanya.?" Dave balik bertanya.
"Mual. Apa terjadi berulang-ulang dalam sehari.?" Kini Davina mulai terlihat serius. Dia ingin tau berapa kali Dave muntah-muntah dalam sehari. Apa sama seperti dirinya yang hanya 1 kali dalam sehari, yaitu di waktu pagi hari saja.
"Aku tidak menghitungnya. Setiap kali mencium tertentu pasti akan mual dan berakhir muntah-muntah."
"Tapi mungkin lebih dari 4 kali,," Jawab Dave.
Dan itu sangat membuatnya tersiksa. Dia juga tidak bisa konsentrasi dalam bekerja karna selalu mencium aroma yang membuatnya mual saat berada di kantor.
Banyaknya karyawan dengan aroma yang berbeda-beda, tentu saja membuat Dave mudah merasa mual. Terlebih dengan aroma parfum yang terlalu menyengat.
__ADS_1
...****...
"Sudah sore, kamu mau pulang.?" Tawar Dave lembut. Dia takut Davina bosan berlama-lama di apartemennya. Lagipula Davina hanya diam saja. Tak bicara kalau tidak di tanya.
"Om mengusirku.?" Davina melirik tajam. Raut wajahnya terlihat kesal mendengar Dave menawarinya untuk pulang.
"Bukan begitu, mana mungkin aku mengusirmu."
"Aku justru senang kalau kamu tetap disini. Tapi bukannya kamu,,
"Aku mau mandi," Davina memotong ucapan Dave. Dia beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke kamar kamar tamu.
Melihat Davina yang enggan pulang, seketika Dave mengulum senyum dengan raut wajah berbinar.
Dia juga bergegas ke kamarnya untuk mandi.
...****...
"Kamu sedang apa.?" Dave mendapati Davina yang tengah sibuk memotong sayuran di dapur.
"Masak, memangnya apa lagi." Davina menjawab cepat tanpa melirik Dave.
"Tidak usah memasak, aku akan pesan makanan untuk makan malam nanti." Kata Dave. Dia melarang Davina memasak, tentu karna tak mau membuat Davina kelelahan.
"Dia.? Dia siapa.?" Dave mengerutkan dahi.
"Maksudku, aku ingin makan sayuran ini yang dimasak sendiri." Jawabnya sembari memalingkan wajah.
Dave langsung menatap intens, dibuat penasaran dengan ucapan dan gerak gerik Davina yang aneh. Dia juga tidak bisa percaya sepenuhnya dengan jawaban yang diberikan oleh Davina tadi, karna terlihat jelas Davina sedang berbohong padanya.
"Apa benar Davina sedang hamil.?"
Dave bergumam dalam hati. Dia lalu menjauh dan duduk di ruang makan sambil memperhatikan Davina dari kejauhan.
Sebenarnya Dave berbohong soal penjelasan dokter yang memeriksanya. Dokter itu memang mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Penyebab dia sering mual dan muntah bukan karena ada penyakit yang berbahaya di dalam. tubuhnya.
Tapi setelah mengatakan hal semua itu, si dokter menjelaskan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi penyebab Dave sering muntah.
Salah satunya di sebabkan oleh sindrom couvade, yaitu suatu kondisi yang terjadi ketika pria ikut merasakan gejala kehamilan yang dirasakan oleh pasangannya.
__ADS_1
Dan ketika Dave mengatakan bahwa dirinya sudah menikah, dokter tersebut semakin yakin kalau Dave sedang mengalami sindrom couvade.
Dave sengaja tak mau menanyakan langsung pada Davina, dia ingin mencari tau lebih dulu kebenarannya. Atau menunggu sampai Davina mengatakannya sendiri padanya.
"Kamu hanya membuat satu porsi untukmu saja.?" Protes Dave saat melihat Davina hanya memasak sayur itu untuk dirinya sendiri. Sedangkan menyodorkan spaghetti untuk Dave.
"Aku juga ingin mencobanya." Kata Dave dengan pandangan mata yang terus mengarah pada makanan di piring Davina. Entah kenapa dia juga ingin memakan apa yang sedang di makan oleh Davina. Melihat Davina makan membuatnya menelan ludah.
"Om makan spaghetti saja. Punyaku hanya sedikit, tidak ada stok sayuran lagi di kulkas." Davina menjauhkan piringnya dari jangkauan Dave. Dia takut makannya di ambil oleh suaminya itu.
"Aku hanya ingin mencobanya sedikit." Bujuk Dave. Dia sampai beranjak dari duduknya dan menghampiri tempat duduk Davina untuk merayunya agar mau membagi makanan miliknya.
"Jangan Om,, nanti habis.!" Davina mendekap piring itu, menyembunyikan di bawah kedua tangannya.
"Sedikit saja Davina,," Dave mulai memaksa.
"Tidak boleh.!" Tegas Davina.
"Satu suapan saja." Pintanya. Dave masih berusaha untuk bernegosiasi.
"Tidak.!"
"Bagaimana kalau seujung sendok.?"
"Tidak.!"
"Satu potongan kecil.?" Pinta Dave lagi.
"Tidak.!"
Putus asa lantaran Davina tetap menolak, Dave akhirnya menangkup kedua pipi Davina agar menghadap ke arahnya. Dia kemudian menye -sap bibir Davina, bahkan men -jilat di sekitar bibir Davina untuk merasakan makanan yang sudah beberapa kali masuk kedalam mulut Davina.
"Om.!!" Pekik Davina setelah berhasil mendorong dada Dave.
"Enak." Komentar Dave lalu mengecap bibirnya sendiri berulang kali. Akhirnya dia bisa merasakan rasa makanan itu.
"Ya ampun,,"
Davina hanya bisa melongo setelah melihat apa yang dilakukan oleh Dave.
...***...
__ADS_1
Vote dulu buat yang belum 😊