
"Kamu tau Davina,? Sudah lama aku mencintai Dave, jauh sebelum kami bertunangan." Sembari memainkan gelas di atas meja, Jasmine mengukir senyum menyayat hati. Siapa yang tidak terluka selama bertahun-tahun memendam perasaannya, dan saat dia bisa menjalin hubungan dengan Dave, pria itu justru tak pernah mencintainya.
"Aku pikir Dave akan mencintai ku setelah kami bertunangan, tapi nyatanya sampai detik ini aku tak pernah ada di hatinya." Wanita cantik itu kembali tersenyum. Kali ini tersenyum lebar meski menahan luka di dalamnya.
Statusnya memang sebagai tunangan Dave, tapi Jasmine merasa hanya orang asing di mata Dave. Sedikitpun tak pernah menunjukkan sikap bahwa dia adalah tunangannya.
"Kalian bertunangan tanpa saling mencintai.? Kenapa itu bisa terjadi.?" Davina menatap intens. Dia semakin penasaran untuk mendengarkan penjelasan dari sudut pandang Jasmine. Ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dan mungkin ada hal yang tidak di katakan Dave padanya.
"Aku nggak pernah meminta melangsungkan pertunangan secepat itu. Dave sendiri yang ingin pertunangan kami segera di langsungkan setelah Papa menjodohkannya kami dan meminta Dave untuk menikahiku."
"Aku menolak karna pada saat itu aku tau betul bahwa hanya ada 1 wanita yang dicintai oleh Dave."
"Tapi Dave tetap memaksa untuk meneruskan perjodohan kami."
Hening, keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Davina juga nampak berfikir keras. Dia semakin merasakan bagaimana sakitnya berada di posisi Jasmine. Wanita itu terlihat tak tau apapun, dan juga terlihat sangat tulus mencintai Dave. Tapi bagaimana Dave tega untuk menghancurkan hatinya.
Mendengar dari sudut pandang Jasmine, Davina merasa bahwa wanita itu tak bersalah. Rasanya tidak adil kalau Jasmine juga ikut menanggung kesalahan orang tuanya.
"Justin,,, disini,,,!!" Seru Jasmine sembari melambaikan tangannya ke arah pintu restoran. Davina reflek menoleh, ikut menatap kemana arah pandangan Jasmine.
Sosok laki-laki yang beberapa kali menemaninya di club, berjalan masuk ke arah mereka.
Kedatangan laki-laki tinggi dan tampan itu sedikit menarik perhatian pengunjung restoran.
Ini pertama kalinya Davina melihat Justin mengenakan setelan jas lengkap. Dia terlihat sangat berkharisma dan dingin.
"Dia saudara kembarku." Tutur Jasmine pada Davina.
"Apa.?! Kembar,,?!" Davina terlihat kaget mendengarnya meski sejak awal sudah menebak kalau Jasmine dan Justin memiliki hubungan darah. Tapi dia tak menyangka kalau mereka saudara kembar.
"Kenapa terkejut seperti itu.? Kamu belum pernah melihat orang kembar.?" Ujar Jasmine sembari tertawa geli melihat ekspresi terkejut Davina.
"Davina.? Bagaimana kamu bisa bersama Jasmine,,,?" Justin terkejut setelah mengetahui wanita yang bersama saudara kembarnya adalah Davina. Gadis yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya sejak bertemu di club.
"A,,aku,,,
"Tunggu,,! Jangan bilang kalian sudah saling kenal.?" Potong Jasmine tak percaya.
"Tentu saja aku sangat mengenalnya." Sahut Justin. Dia kemudian duduk di samping Davina, mengambil minuman milik Jasmine dan meneguknya.
"Ya ampun,, jadi apa gunanya aku mengundangmu kesini. Rupanya kalian sudah saling kenal." Keluhan Jasmine. Niatnya untuk mengenalkan saudara kembarnya pada Davina hanya sia-sia saja karna ternyata mereka berdua sudah saling mengenal.
__ADS_1
"Nggak masalah, lagipula sudah beberapa hari aku belum bertemu Davina,," Justine menatap Davina sembari tersenyum teduh.
"Bagaimana kabarmu.?" Tanyanya.
"Aku baik-baik saja." Sahut Davina.
"Tunggu dulu, aku belum tau kenapa kamu bisa bersama Jasmine.?" Justine menatap Davina dan Jasmine bergantian, meminta penjelasan pada keduanya kenapa mereka bisa saling mengenal. Padahal baru beberapa hari yang lalu Jasmine datang ke Indonesia, tapi Jasmine sudah bisa pergi dengan Davina.
...*****...
"Terimakasih Justin, aku bisa pulang menggunakan taksi. Kamu pasti harus kembali ke kantor kan." Tolak Davina saat Justin ingin mengantarnya pulang.
Saat ini tinggal mereka berdua di restoran itu. Sedangkan Jasmine sudah pulang 30 menit yang lalu karna mendapat telfon dari temannya. Jadi dia menitipkan Davina pada Justin agar nanti di antar pulang oleh saudara kembarnya itu.
"Jangan khawatir, aku punya banyak waktu untuk kamu." Ucap Justin sembari mengulas senyum tipis yang menawan. Dia kemudian beranjak dari duduknya, meraih tangan Davina dan mengajaknya pergi dari restoran.
"Aku serius Justin, aku bisa pulang sendiri." Davina masih berusaha menolak ajakan Justin. Bukan tanpa alasan dia melakukan hal itu walaupun Justin terlihat tulus untuk mengantarnya pulang.
Davina tidak mau Justin jadi salah paham dengan kedekatan mereka, itu sebabnya dia ingin menjaga jarak.
"Aku tau, tapi Jasmine menitipkan kamu padaku."
"Jadi lebih baik kamu pulang sama aku." Tuturnya sambil terus menggandeng tangan Davina.
Mau tidak mau, Davina terpaksa menerima ajakan Justin karna malas berdebat dan ingin cepat-cepat pulang.
"Maaf Tuan Dave, lewat sini,,"
Mendengar seseorang menyebut nama Dave, Davina langsung menoleh ke sumber suara. Saat itu tatapan matanya beradu dengan Dave. Pria itu tengah berdiri tegak, menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Perlahan Davina mulai menyadari jika pandangan mata Dave tertuju pada tangannya yang sedang di genggam oleh Justin.
"Kak Dave, kau disini.?" Justin menyapa Dave, dia berjalan mendekati Dave sembari menggandeng Davina.
"Bagaimana kabarmu.?" Tanya Justin.
"Baik.!"
"Saya harus kembali ke kantor." Dave pergi begitu saja setelah menjawab datar pertanyaan Justin.
Dia berjalan cepat, kedua tangannya terlihat mengepal dari kejauhan.
Davina hanya bisa menatap punggung Dave yang kian menjauh dari pandangan matanya. Dia bisa melihat amarah yang tertahan dari sorot mata Dave saat menatapnya.
__ADS_1
"Dave selalu dingin pada semua orang, apa dia juga bersikap seperti itu saat sedang berkumpul dengan keluargamu.?" Tanya Justin. Suaranya membuyarkan lamunan Davina yang sejak tadi terus menatap kepergian Dave.
Davina mengangkat kedua bahunya, memberi tau pada Justin kalau dia tau hal itu.
"Aku belum terlalu mengenalnya dan kami jarang berinteraksi." Ujar Davina. Dia memilih berpura-pura tak dekat dengan Dave. Jika dia membenarkan dan menjelaskan seperti apa sifat Dave, Justin pasti akan menaruh curiga padanya.
"Aku bisa melihat kalau kalian tidak dekat, dia bahkan tidak menyapa atau tersenyum padamu." Ucap Justin dengan senyum smirk.
Menanggapi hal itu, Davina memilih menganggukkan kepala.
...*****...
Davina mondar-mandir di depan kamarnya. Sudah pukul 11 malam tapi Dave belum pulang.
Sebenarnya dia ingin menghubungi Dave dan menanyakan keberadaannya, tapi Davina tak cukup berani untuk menghubunginya. Dia takut Dave marah padanya karna kejadian tadi siang.
"Sayang,, kamu sedang apa.?" Tanya Sandra. Dia baru saja keluar dari kamar untuk pergi ke dapur, tapi malah melihat Davina sedang mondar-mandir dan terlihat kebingungan.
"Emm,, itu,, aku,,, aku mau ke dapur tapi takut." Jawab Davina gugup. Untung saja dia masih bisa memberikan jawaban yang masuk akal.
"Ya ampun,, Mama pikir ada apa." Sandra menggelengkan kepala sembari mengulas senyum.
"Ayo Mama antar, kebetulan Mama juga mau ke dapur."
Davina mengangguk cepat, dia kemudian bergegas turun mengikuti Mama Sandra dan pura-pura mengambil air minum, setelah itu kembali lagi ke kamarnya.
Pergi ke balkon dan berdiri di sana sembari menatap gelapnya malam. Tatapan Davina perlahan menerawang jauh.
"Dimana Om Dave. Apa dia sedang bersama Tante Jasmine.? Bagaimana kalau,,," Davina langsung menggelengkan kepalanya.
"Nggak mungkin, Om Dave nggak mungkin melakukan hal itu dengan Tante Jasmine."
Davina berusaha menepis pikiran buruknya tentang Dave. Meski dalam hati dan pikirannya terus bermunculan bayang-bayang yang menyakitkan. Apa lagi kalau bukan kemesraan Dave dan Jasmine.
"Kenapa belum tidur.?" Suara berat Dave terdengar jelas di telinga Davina, bersamaan dengan kedua tangan besar Dave yang melingkar erat di perutnya.
"Ya ampun Om,,!!" Davina terperanjat kaget, dia reflek berbalik badan.
"Kapan Om pulang.? Kenapa tiba-tiba ada di sini.? Aku,,,
Davina tak bisa meneruskan ucapannya lantaran bibirnya di bungkam oleh bibir Dave.
__ADS_1