
Dave melepaskan pagutan bibirnya setelah mengecap dan merasakan manis bibir Davina yang sejak siang tadi muncul dalam pikirannya.
Gadis belia itu terus memenuhi isi kepalanya sampai membuatnya tak bisa konsentrasi bekerja.
Satu pertemuan dan rapat terpaksa harus di tunda, membuatnya harus pulang malam untuk menyelesaikan pekerjaan tidak bisa dikerjakan besok.
"Jangan coba-coba pergi dengan Justine, dia nggak sebaik yang kamu pikirkan." Ucap Dave dengan tatapan teduh.
Dia tak mau terjadi sesuatu pada Davina. Dave tau betul seperti apa perangai buruk Justin. Laki-laki itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Sikapnya bahkan sudah membuat Dave curiga. Bukan Justin namanya kalau dia sampai mendekati wanita, karna biasanya wanita yang akan mendekat padanya.
"Om Dave cemburu padanya kan.?, itu sebabnya bicara macam-macam tentang Justin." Sahut Davina. Dia tidak percaya dengan ucapan Dave karna selama ini Justin tak pernah berbuat buruk padanya. Sikapnya masih terbilang normal, bahkan terlihat lebih menyenangkan daripada Dave yang dingin dan cuek.
"Tau apa kamu tentang Justin.?" Geram Dave. Dia kesal karna Davina tidak percaya dengan ucapannya. Padahal sudah lebih dari 20 tahun dia mengenal Justin, semua keburukannya bahkan ada dalam genggaman Dave. Justin tak lebih dari seorang pria brengsek yang sudah meniduri puluhan wanita.
"Tapi dia memang baik Om, dia nggak pernah macem-macem sama aku."
"Lagipula aku nggak sengaja pergi sama dia. Tante Jasmine yang mengundang Justin ke mall."
Tutur Davina.
Sejauh ini Justin sangat sopan, dia juga tidak berbuat sesuka hati seperti yang sering Dave lakukan padanya. Justin juga bukan tipe laki-laki pemaksa. Meski waktu itu pernah mengajaknya melakukan hubungan, laki-laki itu tidak berani lagi membahasnya ataupun memaksanya. Berbeda sekali dengan Dave, pria justru selalu masuk ke kamarnya dan menyentuhnya sesuka hati.
"Jasmine.?" Tanya Dave dengan dahi berkerut, dia tidak paham maksud ucapan Davina.
"Tadi siang Tante Jasmine datang kesini, dia mengajakku pergi makan siang. Rupanya dia berniat mengenalkanku pada Justin dengan diam-diam menyuruh Justin untuk datang ke mall." Penuturan Davina membuat Dave semakin kering, pasalnya tadi pagi Jasmine mengirimkan pesan padanya kalau dia akan pergi ke luar kota bersama temannya.
Jasmine tidak bilang kalau dia datang ke rumah dan mengajak Davina pergi.
"Saya peringatkan sekali lagi, jangan pernah bertemu atau pergi dengan Justin.!" Tegas Dave.
__ADS_1
"Dan satu lagi, tolak jika Jasmine mengajakmu pergi berdua.!"
"Kalau kamu melanggar, jangan harap saya akan menepati janji.!" Seru Dave sambil menatap tajam. Pria itu terpaksa memberi ancaman pada Davina. Daripada terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, lebih baik dia mengancam Davina meski resikonya Davina akan semakin kesal padanya.
"Ckk,,,!" Davina berdecak kesal mendengar ancaman yang entah sudah berapa kali keluar dari mulut Dave.
"Kenapa selalu mengancamku.?!" Protesnya.
"Apa nggak ada yang bisa Om Dave lakukan selain mengancam.?!" Davina melotot kesal. Setiap permasalahan ataupun perdebatan yang terjadi, Dave selalu menyelesaikannya dengan ancaman.
"Tentu banyak yang bisa saya lakukan selain mengancam kamu." Dave mengulas senyum penuh arti. Tangannya kembali melingkar di pinggang Davina dan sedikit meremasnya pelan.
"Saya bisa membuat kamu mende -sah kalau kamu mau,," Ucapnya dengan senyum smirk dan tatapan yang mampu membuat seluruh tubuh Davina meremang.
Davina hanya diam saja, karna sejujurnya dia juga ingin mengulangi hal itu lagi. Meski kecewa pada perlakuan Dave yang menyentuhnya sesuka hati, tapi tubuhnya tak bisa menolak setiap sentuhan hangat dari bibir dan tangan Dave.
Terkadang hal itu membuat Davina merutuki dirinya sendiri karna merasa menjadi wanita murahan, walaupun tak sampai melakukannya di luar batas.
"Sebaiknya masuk ke kamar,," Bisik Dave. Dia menggiring Davina ke kamar dan menutup pintu balkon.
Keduanya memulai dengan ciuman panas, kemudian berlanjut di atas ranjang. Davina sudah berada di bawah kungkungan Dave.
"Sampai kapan Om.?" Tanya Davina dengan tatapan malas. Dia menghentikan gerakan tangan Dave dibalik baju tidur yang masih tertutup rapat.
"Sampai kapan kita sembunyi-sembunyi seperti ini.?" Keluhnya.
"Aku nggak mau jadi selingkuhan, aku mau Papa dan Mama Sandra tau hubungan kita seperti apa."
Davina bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan sesuatu terlalu lama. Bahkan dulu dia tak pernah menyembunyikan apapun pada semua orang, apa lagi orang terdekatnya.
__ADS_1
Bukan hanya itu saja, dia juga tidak bisa memendam perasaannya. Selama ini dia berusaha keras untuk bersikap seolah-olah tak memiliki hubungan dan perasaan pada Dave. Hal itu membuat Davina merasa tersiksa. Dia tidak leluasa untuk mengekspresikan perasaannya ketika di depan banyak orang.
Hubungan terlarang ini membuat Davina harus selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu.
"Tunggu sebentar lagi, saya nggak akan mengingkari janji selagi kamu mendengarkan ucapan saya." Ujar Dave dengan tatapan teduh dan suara lembut. Dia ingin Davina percaya padanya dan menuruti semua perkataannya tanpa membantah.
"Tapi sampai kapan Om.? Nyatanya Tante Jasmine nggak mau melangsungkan pernikahan sebelum Om Dave cinta sama dia." Nada bicara Davina sedikit meninggi. Dia bukan tidak sabar atau tidak percaya pada Dave, namun ada ketakutan dalam dirinya pada kedekatan mereka. Davina takut jika pada akhirnya rencana Dave tak berjalan sebagai mana mestinya. Dia takut pernikahan mereka benar-benar terjadi dan pada akhirnya hanya akan membuat hatinya terluka untuk kedua kali.
"Secepatnya." Sahut Dave tegas.
"Kamu hanya perlu percaya pada saya dan jangan mengkhawatirkan apapun."
Dave mengukir senyum manis di bibirnya, setelah itu kembali melanjutkan kegiatan yang sempat terjeda. Dave memagut lembut bibir Davina, menye -sap dan Melu-mat dengan gerakan perlahan namun dalam.
Kegiatan itu perlahan menjadi semakin panas dan liar. Baju tidur yang dipakai Davina bahkan sudah terlepas, hanya menyisakan celana pendek saja. Begitu juga dengan Dave yang memperlihatkan dada bidang dan roti sobeknya yang menggoda.
"Ommm,," Des -sahan tertahan keluar dari bibir Davina. Rasa nikmat yang menjalar tak bisa di tahan lagi saat Dave menyesap dalam ujung bukit kembarnya.
Nyatanya bukan hanya Davina saja yang sudah tidak bisa menahan rasa nikmat itu, Dave yang sudah hanyut dalam permainannya sendiri, memilih untuk berhenti dan bergegas pergi ke kamar mandi. Dia bisa gila kalau terlalu lama menyentuh tubuh Davina tanpa melakukan penyatuan.
Davina menatap kecewa, rupanya dia ingin melakukan sesuatu yang lebih sampai tidak rela Dave menghentikan aksinya. Tapi pada kenyataannya, Dave hanya bertahan beberapa menit setelah itu memilih pergi ke kamar mandi dan akan bertahan lama di kamar mandi. Davina sampai dibuat heran sekaligus penasaran dengan apa yang dilakukan Dave di kamar mandi.
...****...
"Om ngapain aja di kamar mandi.? Kenapa lama banget." Davina langsung mengajukan protes begitu Dave keluar dari kamar mandi.
Pertanyaan Davina membuat Dave menghela nafas. Entah terlalu polos atau mungkin sejak dulu pergaulan Davina lurus-lurus saja sampai tidak tau apapun tentang hal-hal yang berbau kenikmatan.
"Susah jelasinnya, kamu juga nggak bakal paham." Sahut Dave. Sebenarnya bukan karna itu, tapi dia malas untuk menjelaskan lebih detail karna sudah di pastikan Davina akan semakin banyak bertanya padanya.
__ADS_1
"Sebaiknya kita tidur, sudah malam." Dave naik ke atas ranjang, berbaring di samping Davina dan menarik gadis itu dalam dekapannya.
Davina reflek memejamkan mata dan balas memeluk Dave. Ini yang membuatnya tak bisa jauh dari Dave, yaitu rasa nyaman dan aman setiap kali berada di samping Dave. Davina sampai merasa sedang berada dalam dekapan sang Papa.