
"Anak saya laki-laki Dok.?" Tanya Dave memastikan. Walaupun dia mendengar dengan jelas saat dokter mengatakan bahwa anak pertamanya yang baru saja lahir ke dunia berjenis kelamin laki-laki.
Mereka baru mengetahui jenis kelamin putranya setelah putranya terlahir ke dunia. Pasalnya setiap kali melakukan USG untuk melihat perkembangan dan jenis kelamin sang anak, mereka tak bisa melihatnya karna anak dalam perut Davina selalu menutupi jenis kelaminnya.
Tapi meski tidak pernah mengetahui jenis kelamin anaknya selama dalam kandungan, Davina dan Dave sudah menyiapkan nama anak laki-laki dan perempuan.
"Benar Pak. Dia jagoan dan sangat tampan." Jawab sang Dokter. Dia menyerah bayi itu untuk di bersihkan agar bisa segera di lakukan IMD dengan meletakkan bayi itu di atas dada Davina.
Dave yang sejak tadi duduk di samping Davina selama proses persalinan secara sesar itu, kini kembali mengusap pipi Davina dan mendaratkan kecupan di keningnya untuk kesekian kali.
"Tebakan kamu benar sayang,," Kata Dave lirih. Dia juga tak bisa membendung air matanya seperti Davina yang sejak tadi sudah menangis. Menangis saat mendengar tangisan sang putra untuk pertama kalinya.
"Terimakasih untuk kado yang paling berharga ini." Dave menempelkan keningnya pada keningnya Davina.
Hari ini merupakan ulang tahun Dave yang ke 33 tahun, bertepatan dengan lahirnya jagoan pertamanya.
Tentu saja ulang tahunnya kali ini akan menjadi ulang tahun yang paling berkesan seumur hidupnya.
Davina yang tidak bisa berkata-kata hanya bisa mengangguk.
Tak lama salah satu suster membawa bayi itu untuk di letakkan di atas dada Davina. Bayi yang masih merah itu langsung menjadi pusat perhatian Dave dan Davina. Tangis mereka semakin pecah. Keduanya memandangi wajah putra mereka begitu lekat.
Ada kebahagiaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata saat melihat wajah mungil itu secara langsung.
Davina menyentuh lembut kepala putranya. Bayi mungil yang seketika mampu mengubah dunianya saat itu juga.
"Dia sangat mirip denganmu,," Komentar Dave. Jemarinya menyentuh wajah mungil putranya yang lebih mirip dengan Davina meski bentuk hidungnya sama sepertinya.
"Selamat datang ke dunia Aditya sayang,," Ucap Davina. Dia menyambut kelahiran putranya dengan perasaan yang bercampur aduk. Disertai kebahagiaan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Dave tersenyum, kemudian mendekap putra dan istrinya dengan penuh cinta.
...****...
Aditya Dave Mahendra, putra sekaligus cucu dari pemilik perusahaan terbesar di kota itu tumbuh menjadi laki-laki dewasa dan tampan. Tak hanya itu saja, kepintaran sang Papa dan kakeknya dalam memimpin perusahaan di wariskan pada darah Aditya.
__ADS_1
Laki-laki yang saat ini berusia 26 tahun itu telah menyelesaikan study S2 nya hanya dalam waktu 2 tahun. Kini sudah 3 tahun Aditya di perintahkan oleh sang Papa untuk menggantikan posisinya sebagai CEO di perusahaan itu.
"Kemari, biar Mama ambilkan." Senyum manis di wajah wanita paruh baya itu tak memudar meski usianya hampir menginjak setengah abad.
Davina mengambil piring milik putranya untuk mengisinya dengan makanan kesukaan Aditya.
"Makasih Mah." Ucap Aditya lembut.
Aditya menjadi pribadi yang begitu menyayangi kedua orang tuanya dan selalu menuruti semua perkataan mereka. Sejak kecil hingga detik ini, Aditya tak pernah membatah sekalipun.
Itulah yang membuat Davina dan Dave sangat bersyukur karena memiliki putra seperti Aditya.
"Bagaimana dengan perkembangan perusahaan.?" Tanya Dave.
"3 bulan belakangan ini kenaikan profitnya cukup signifikan. Investasi dan proyek baru kita cukup berpengaruh besar pada perusahaan." Jawab Aditya dengan raut wajah serius.
Dia memang tak pernah main-main jika sudah membahas soal perusahaan. Sebisa mungkin
selalu fokus dan serius setiap kali membicarakan pekerjanya, sekalipun dengan orang tuanya sendiri.
Justru semakin banyak proyek baru yang dimiliki oleh perusahaan.
"Pagi semuanya,,," Suara ceria Aurelia membuat ketiganya menoleh bersamaan.
"Pagi sayang, ayo duduk,," Davina menyuruh putri angkatnya untuk bergabung di meja makan.
"Maaf terlambat, aku baru menyiapkan tugas kuliah." Aurel menjelaskan kenapa dia tidak datang lebih awal ke meja makan seperti biasanya.
Dia kemudian duduk di samping kursi Aditya seperti biasa.
"Ekhemm,," Aditya berdehem. Dia beranjak dari duduknya tak lama setelah Aurel duduk di sampingnya.
"Aku lupa ada meeting pagi ini, jadi harus berangkat lebih awal." Ujarnya. Aditya mengambil tas kerjanya yang tadi di letakkan di kursi kosong.
"Tapi Aditya, kamu belum makan nak." Ucap Davina. Dia bahkan baru saja menyodorkan makanan untuk putranya itu.
__ADS_1
"Sebaiknya makan dulu, mereka juga tidak akan memulai meeting tanpa kamu." Tuturnya.
Sudah pasti meeting itu tak akan berjalan selama pemimpinnya belum datang. Jadi tidak akan bermasalah meski Aditya datang sedikit terlambat dan menunda meeting beberapa menit.
"Aku belum menyuruh Milea untuk menyiapkan berkas-berkasnya." Ucap Aditya beralasan.
"Duduk.! Kamu harus menghabiskan sarapanmu dulu."
"Biar Mama yang menelfon Milea agar dia menyiapkan berkasnya sekarang.!" Suara tegas Davina membuat Aditya kembali duduk di tempatnya.
Davina kemudian beranjak dari ruang makan untuk menghubungi sekretaris pribadi putranya.
"Jangan membatah perkataan Mama mu." Tegur Dave lembut. Dia mengerti kenapa putranya tiba-tiba ingin segera pergi ke kantor.
Permasalahan itu berawal dari pembahasan istri dan anaknya tadi malam.
Dave tak bisa berbuat banyak untuk ikut campur permasalahan mereka. Dia tidak bisa memilih antara anak dan istrinya hingga memutuskan untuk tidak ikut campur, meski Dave akan selalu menjadi penasehat dan penengah yang baik untuk keduanya.
Aditya terlihat menghela nafas berat. dia kemudian memulai menyantap makanannya dengan raut wajah lesu.
"Hari ini aku berangkat sama Kakak yah, mobilku belum selesai di perbaiki,," Pinta Aurel.
"Masih banyak mobil lain di rumah ini, kamu bisa memakainya." Jawab Aditya datar.
Aurel seketika terdiam, dia menatap heran pada kakak laki-lakinya yang tiba-tiba berubah sikap.
Aditya tak pernah bersikap cuek dan ketus padanya, kakak laki-lakinya itu selalu memperlakukannya dengan manja dan tak pernah menolak permintaannya.
...*****...
...The end end end...
seasons duanya nanti di novel terpisah.
Jangan lupa mampir ke novel Penyesalan Balas Dendam.
__ADS_1