
Cukup lama Davina mengeluarkan keluh kesahnya pada Farrel. Dia kemudian diam, kembali menikmati suasana yang sejuk dan menangkan.
Hingga malam semakin larut, membuat angin bertiup kencang.
Farrel yang merasakan udara di sana semakin dingin, segera melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh bagian depan Davina dengan jaket miliknya.
"Pakai ini biar nggak dingin." Kata Farrel sembari meletakkan perlahan jaketnya di kedua bahu Davina.
Davina mengukir senyum tipis dan mengangguk kecil.
"Makasih,," Ucapnya dengan menatap Farrel. Laki-laki itu hanya diam saja dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Bersandar pada mobil, menyilangkan kedua tangan di dada dan memejamkan mata. Farrel mengikuti apa yang tadi di lakukan oleh Davina. Dia juga ingin merasakan ketengah di tengah hatinya yang gusar.
Cukup lama terdiam dalam posisi seperti itu, sampai akhirnya Davina menoleh dan mengira jika Farrel tertidur. Hal itu membuat Davina menyenderkan kepalanya pada bahu Farrel dan ikut memejamkan mata.
Merasakan sesuatu yang berat menempel di bahunya, Farrel segera membuka mata. Dia menatap sekilas, lalu membiarkan Davina bersandar padanya.
Suasana di sekitar pantai semakin sepi. Farrel merogoh saku celana untuk mengambil ponsel, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Dia lalu membuka pesan dari Dave yang ternyata sudah masuk sejak 1 jam yang lalu.
Mungkin karna terlalu menikmati suasana pantai yang memenangkan, Farrel jadi tidak sadar saat ponselnya bergetar.
"Jangan terlalu lama disana, ajak Davina pulang."
"Pastikan dia tidak minum."
Farrel langsung melirik Davina setelah membaca pesan dari Dave.
Wanita yang masih bersandar di bahunya itu sedang terlelap, sudut matanya sedikit basah. Mungkin karna Davina menangis lagi.
"Aku sudah mengantarnya pulang."
Farrel menjawab pesan dari Dave, lalu mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam saku celana.
__ADS_1
Beranjak perlahan sembari memegangi kepala Davina, Farrel mulai mengangkat tubuh Davina untuk menggendongnya.
Wanita itu masih terlelap meski kini sudah berada di dalam gendongan Farrel.
"Ternyata kamu berat juga,," Gumam Farrel. Dia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengangkat tubuh Davina dan memindahkannya ke dalam mobil.
Dia melajukan mobilnya meninggalkan pantai dan pergi ke resort.
Selain dia juga sudah lelah dan mengantuk, Farrel juga tidak tega membiarkan Davina tidur di mobil sepanjang perjalan. Jadi memutuskan untuk bermalam di resort.
"Anak ini benar-benar. Sudah di angkat dan di pindahkan masih saja tidur,," Farrel menggelengkan kepala, menatap Davina dalam gendongannya. Dia membawa Davina masuk ke resort yang sudah dia sewa.
Dia merebahkan Davina di atas ranjang dengan perlahan, melepaskan high heelsnya setelah itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Davina hingga sebatas dada.
Farrel masih berdiri di tempat, memandang lekat wajah sendu Davina yang masih tertidur pulas.
Dia bisa merasakan jika permasalahan yang tengah di hadapi oleh Davina, telah mengganggu kondisi psikis wanita itu. Agaknya luka yang disebabkan oleh cinta, begitu menyakitkan untuknya.
...****...
"Kak,,, kak Farrel,,!!" Suara teriakan Davina menggema. Dia keluar dari kamar dalam keadaan panik sembari mencari keberadaan Farrel. Karna Farrel yang terakhir kali bersamanya tadi malam.
"Kakak dimana.?!!!" Davina mengedarkan pandangan di luar kamar tanpa ada siapapun di sana.
"Hemm,,, aku di sini,,," Dengan suara serak dan rambut yang berantakan, Farrel muncul dari balik pintu kamar.
"Kenapa teriak-teriak.? Kamu ganggu orang tidur aja." Keluhannya. Kedua mata Farrel hanya terbuka sedikit lantaran masih mengantuk.
bagaimana tidak mengantuk, sedangkan tadi malam sulit untuk tidur dan baru memejamkan mata 2 jam yang lalu.
"Kita dimana.?" Davina langsung menghampiri Farrel.
"Lagian kenapa nggak bilang mau bawa aku kesini.? Pasti semalam aku ketiduran sampai nggak sadar sudah ada disini."
Davina masih mengamati tempat yang dia tinggali bersama Farrel. Belum bisa menebak dia ada di mana.
__ADS_1
"Siapa suruh tidur kaya orang pingsan."
"Kita lagi di resort." Jawabnya masih dengan mata yang menahan kantuk dan bersender pada pintu.
"Jam berapa sekarang.?" Tanyanya.
"Baru jam 6,,"
"Kak Farrel aja nggak niat bangunin. Kalau di panggil-panggil juga bakalan bangun kok." Protes Davina.
"Masih terlalu pagi, aku juga masih ngantuk." "Bangunin 2 jam lagi, setelah itu baru kita pulang." Farrel masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu setelah menitipkan pesan pada Davina.
"Kak Farrel ya ampun..!!" Teriaknya kesal. Dia ingin masuk ke kamar Farrel tapi mengurungkan niatnya karna merasa kasihan pada kakaknya itu yang memang terlihat masih sangat mengantuk.
"Aku harus ngapain sekarang.?" Davina mengedarkan pandangan, bingung harus melakukan apa di dalam resort. Tidak mungkin dia ikut-ikutan Farrel untuk tidur lagi, sedangkan dia sudah tidak mengantuk.
"Lebih baik aku pantai saja." Gumamnya.
...****...
Menikmati udara sejuk di pagi hari, Davina berjalan seorang diri di tepi pantai.
Sejak semalam dia merasa perasaannya jauh lebih baik. Semua itu karna dia menangis dan mengeluarkan isi hatinya selama ini yang terasa menyiksa akibat dipendam sendiri.
Davina merasa bersyukur ada Farrel. Saudara tirinya itu bisa di andalkan dan dijadikan tempat bersandar ditengah-tengah kerapuhan hatinya saat ini.
"Kalau tau begini, aku tidak akan mundur."
Davina teringat dengan ucapan Farrel saat berdiri di sisi ranjang. Davina pikir itu hanya mimpi.
Tapi setelah tadi bangun dan mendapati sedang berada di resort bersama Farrel, dia baru sadar kalau ternyata itu bukan mimpi.
Berarti memang benar semalam kakaknya itu berada di sana.
"Apa maksudnya tidak akan mundur.?" Gumam Davina. Dia sulit memahami maksud ucapan Farrel.
__ADS_1
...****...
Vote dulu ya🤠buat yang belum