
Seharian mengurung diri di kamar sejak sarapan pagi. Davina hanya keluar saat siang hari lantaran menyiapkan makan siang untuk Dave agar pria itu bisa meminum obatnya.
Kini sudah pukul 7 malam, Davina belum keluar lagi dari kamar tamu.
Dave membiarkan Davina melakukan apapun yang dia mau, tanpa pernah memaksa Davina untuk keluar kamar.
Dia takut Davina akan semakin kesal padanya jika menyuruhnya untuk keluar dari kamar.
Sementara itu, Dave lebih banyak menghabiskan waktu di ruang keluarga. Karena saat duduk di sana, Dave bisa menatap ke arah kamar tamu dari kejauhan. Setidaknya dia bisa melihat Davina jika istrinya itu keluar dari kamar.
Melihat pintu kamar yang terbuka, Dave langsung beranjak dari sofa dan berdiri menghadap ke arah pintu itu. Menatap Davina yang baru saja keluar dari kamar.
"Kenapa tadi siang tidak makan.?" Tanya Dave pelan. Dia berusaha mengatur nada bicaranya untuk terdengar lembut agar tidak membuat Davina semakin kesal padanya.
Karna jika berbicara lembut dengan Davina, wanita itu terlihat menahan amarahnya, meski Davina tetap membalas dengan nada ketus dan sesekali menyindir.
"Nggak lapar,,," Davina menjawab singkat dan acuh. Dia melangkah menuju dapur, membuat Dave langsung mengikuti kemana langkah kaki Davina.
"Kalau begitu malam ini kamu harus makan. Aku sudah memesan makanan tadi,," Ucap Dave.
Davina berhenti di depan meja makan dan melihat makanan yang sudah tertata di atas sana.
"Ayo duduk,, kamu harus makan biar nggak sakit." Kata Dave sembari menarik kursi untuk Davina.
"Kalau kamu juga sakit, nanti siapa yang akan mengurus kita,," Dave tersenyum lebar untuk mencairkan suasana supaya lebih santai, sayangnya mendapat respon acuh.
Bahkan Davina tidak menempati kursi yang tadi di di siapkan oleh Dave. Dia justru duduk di kursi lain.
"kalau kamu sudah lebih tenang, kita bicarakan lagi baik-baik." Lirih Dave. Kursi yang tadinya dia siapkan untuk Davina, jadi dia duduki sendiri karna Davina lebih memilih duduk di depannya.
"Om menyuruhku makan atau mau mengajakku bicara.?" Ketus Davina tanpa menatap Dave. Seketika Dave langsung diam, tak berani lagi bersuara karna takut akan semakin membuat Davina kesal.
__ADS_1
Makan malam itu berlangsung hening seperti saat sarapan. Tak ada pembicaraan apapun lagi.
Dave beranjak, berniat membereskan bekas piring namun tiba-tiba kembali duduk dengan cepat sembari memegangi kepalanya.
Davina memperhatikan Dave, raut wajahnya terlihat cemas ketika melihat Dave hampir terjatuh.
"Biar aku saja yang beresin." Kata Davina datar. Dia langsung membereskan bekas piring dan gelas di atas meja makan untuk di bawa ke wastafel.
"Davina,, boleh minta tolong antar aku ke kamar.?" Tanya Dave hati-hati.
Davina mengangguk, dia mencuci tangan lebih dulu sebelum mengantarkan Dave ke kamar dengan memegangi lengannya.
"Jangan pergi dulu,," Dave menahan tangan Davina.
"Aku harus mencuci wajah dan menggosok gigi. Tolong temani ke kamar mandi," Pintanya memohon. Wajah sendu dan pucat Dave membuat Davina tak tega untuk membiarkan Dave pergi sendirian ke kamar mandi. Dia takut Dave jatuh pingsan di dalam sana.
"Jangan lama-lama." Ketus Davina sembari keluar dari kamar mandi.
Dave menahan senyum di dalam kamar mandi. Dia hanya pura-pura akan jatuh saat di ruang makan. Tapi rupanya Davina mengira kalau Dave benar-benar akan jatuh mengingat kondisinya yang masih lemah.
Melihat Davina yang masih begitu peduli padanya, setidaknya Dave bisa memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Davina. Mungkin hanya butuh waktu saja untuk mengobati rasa sakit dan kekecewaan yang dirasakan oleh Davina agar bisa membuka hati untuk memaafkannya kembali.
"Davina, kamu masih di luar,,?" Dave berteriak lemah. Tentu saja hanya dibuat-buat karna sebenarnya bisa berteriak lebih kencang lagi.
Tanpa menjawab pertanyaan Dave, Davina langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Mendekat pada Dave, memegangi lengannya kembali dan menuntunnya keluar kamar mandi.
"Dua hari ke depan libur kuliahnya kan.? Tinggal disini saja ya,," Pinta Dave.
"Memangnya aku bisa keluar dari sini.!" Davina menjawab ketus. Sekalipun Dave tak bilang seperti itu, Davina akan tetap tinggal di apartemen karna Dave mengurungnya.
__ADS_1
"Aku akan membukakan pintu kalau kamu tega meninggalkanku sendirian disini." Sahut Dave lirih. Dia menatap lekat wajah Davina dari samping. Wanita itu hanya diam saja, tak menjawab pertanyaannya.
"Nggak butuh apapun lagi kan.? Kalau begitu aku ke kamar dulu."
Davina hendak beranjak setelah menuntun Dave sampai ke ranjang.
"Kamar yang mana.? Ini kamarmu juga,," Dave menahan tangan Davina.
"Tidur disini saja, aku janji tidak akan macam-macam." Ucapnya dengan ekspresi memelas.
"Kalau kamu masih kesal berada di dekatku, pukul saja aku. mungkin itu bisa mengurangi sedikit kekesalanmu padaku." Dave menggenggam kedua tangan Davina untuk memohon.
"Kalau bisa, aku ingin membuat Om pergi jauh dari ku.!" Sinis Davina kesal.
"Maksudmu,? Apa kamu ingin aku mati saja.?" Tanyanya.
"Ide bagus, mungkin nanti kalau kamu benar-benar tidak mau memberikan kesempatan." Sahut Dave santai.
"Omong kosong,!" Jawab Davina tak percaya. Bibirnya sampai mencebik sinis mendengar pengakuan Dave yang ingin mengakhiri hidup seandainya dia tak memberikan kesempatan.
Dave terkekeh gemas melihat ekspresi wajah Davina.
"Benar, itu hanya omong kosong." Jawab Dave.
"Impianku bisa hidup bahagia bersamamu dan anak-anak kita kelak, sebelum semua itu terwujud, aku belum ingin mati." Dave menarik tangan Davina agar wanita itu mendekat.
"Apa kamu bersedia mewujudkan impianku.?" Tanya Dave. Dia menarik Davina dalam dekapannya. Memeluknya penuh cinta dan ketulusan yang bercampur dengan penyesalan.
"Beri aku kesempatan untuk terakhir kalinya. Aku pastikan semua ini tidak akan terjadi lagi." Suara Dave tercekat. Dia kehilangan arah sejak Davina pergi. Tidak bersemangat menjalani hidupnya.
...***...
__ADS_1
Habis baca jangan lupa di vote😁