Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 77


__ADS_3

"Mau kemana kamu.?" Tanya Farrel dengan tatapan mengintimidasi. Melihat Davina yang keluar dari kamar dalam keadaan sudah rapi. Padahal dia baru saja pulang dari kampus, tapi sudah mau pergi lagi.


"Ke rumah temen, ada acara," Davina hanya menjawab datar dan berlalu begitu saja dari hadapan Farrel. Berjalan cepat menuruni tangga.


"Berhenti Davina.!! Kamu di larang pergi.!" Teriak Farrel. Dia juga mengejar langkah saudara tirinya itu.


"Kak Farrel nggak bisa seenaknya ngelarang aku pergi." Jawab Davina tanpa menoleh sedikitpun dan terus menuruni tangga.


"Bukan aku, tapi Om Dave yang melarang kamu keluar dari rumah selain untuk kuliah.!" Farrel kembali berteriak untuk mencegah langkah Davina.


Mendengar nama Dave di sebut, Davina langsung menghentikan langkah dan berbalik badan menatap Farrel.


"Selain menyuruh kak Farrel untuk mengawasi ku di kampus, dia juga menyuruh kak Farrel melarang ku keluar rumah.?" Tanya Davina dengan senyum kecut. Tentu senyum yang di tujukan untuk Dave.


"Iya.! Itulah suamimu yang sangat menyebalkan.!" Farrel tak kalah kesal menjawabnya. Rupanya dia juga geram karna terus dimanfaatkan oleh Dave untuk mengawasi Davina selama 24 jam hingga membuatnya tak bisa bersenang-senang di luar sana.


"Kalau begitu katakan pada suamiku yang menyebalkan itu. Aku akan tetap pergi sekalipun dia melarangku." Seru Davina. Dia kembali berlalu, buru-buru pergi ke garasi dan meninggalkan rumah dengan menggunakan mobilnya.


Sebenarnya dia akan pergi ke apartemen Dave. Davina ingin memastikan ucapan Dave yang mengatakan bahwa dirinya sudah tak peduli lagi dengan wanita itu. Davina akan membuktikan kebenarannya sendiri dengan menggeledah ruang kerja Dave.


Mungkin saja Dave hanya mengatakan omong kosong, tapi pada kenyataannya masih menyimpan barang-barang atau mungkin foto tentang masa lalunya itu.


Jika Dave menghargainya sebagai wanita yang sudah dia ajak untuk menikah, pasti Dave tak akan menyimpan apapun yang berkaitan dengan kisah masa lalunya.


Davina membuka pintu apartemen Dave. Untungnya Dave sempat memberitahukan kode akses apartemen itu pada Davina.


"Sebenarnya pergi kemana Om tua itu,," Gumam Davina. Mengamati kondisi apartemen yang memang sepi.

__ADS_1


"Kenapa nggak bilang padaku kalau akan pergi ke luar kota." Lirihnya.


Meski hubungan dia dan Dave sedang bermasalah, tapi Davina menyayangkan sikap Dave yang pergi begitu saja tanpa mengirimkan pesan. Padahal sebelumnya saat Dave ada urusan pekerjaan di luar kota, Dave masih memberitahunya.


Davina langsung berjalan menuju kamar untuk masuk ke ruang kerja Dave yang memang berada di dalam kamar meski dengan ruangan terpisah.


...****...


"Kalau aku menjawab, apa semuanya bisa kembali seperti dulu.?" Ucap Sisy dengan suara yang bergetar.


"Semuanya sudah lama berlalu Dave. Aku akan melanjutkan kehidupanku, begitu juga dengan kamu." Sisi menepis tangan Dave. Dia bergegas pergi dari hadapan laki-laki itu dan masuk ke ruang pemeriksaan.


Dave mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah atas jawaban Sisy yang justru membuatnya semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Dave hanya tau, alasan sang Papa menyuruh Sisy pergi meninggalkannya. Bahkan sampai membatu Sisy memalsukan identitas, membuat Dave tak pernah bisa melacak keberadaan wanita yang dulu begitu berarti dalam hidupnya.


Pergi di saat dia sedang mempersiapkan pernikahan bersama wanita itu.


Dave membungkuk sopan. Sudah hampir 4 bulan sejak terakhir dia bertemu dengan orang tua Sisy.


Ya, sejak dulu hampir setiap 3 bulan sekali Dave datang ke rumah orang tua Sisy. Tentu saja untuk memastikan apakah Sisy sudah kembali atau belum. Karna sebenarnya Dave tak percaya saat kedua orang tua Sisy mengatakan bahwa mereka juga tidak tau di mana keberadaan Sisy.


Dave selalu menduga kalau mereka ikut menyembunyikan Sisy darinya.


"Tidak ada, saya hanya ingin bicara dengan Sisy." Sahut Dave.


Raut wajah orang tua Sisy seketika sendu. Dia terlihat menaruh iba pada laki-laki yang dulu sangat baik pada keluarganya karna sering membantu kesulitan yang di hadapi mereka dari segi ekonomi.

__ADS_1


"Nak Dave, Ibu mohon lupakan Sisy." Pintanya dengan mata berkaca-kaca. Dia tau mungkin akan berat untuk Dave yang sejak dulu sampai saat ini masih mencari tau tentang Sisy. Tapi begitu Sisy kembali dan membawa kenyataan yang tak mungkin bisa membuat mereka bersama kembali, orang tua Sisy sangat berharap Dave mengakhiri semuanya.


"Saya hanya ingin tau alasan Sisy pergi." Jawab Dave. Sebelum dia tau apa yang sebenarnya terjadi, dia tak akan bisa tenang dan akan selalu memikirkan wanita itu.


"Tapi,,,


"Omaaa,,,," Seorang gadis kecil berusia sekitar 7 tahun, berlari menghampiri orang tua Sisy dan memanggilnya dengan sebutan Oma.


Gadis kecil itu seketika menarik perhatian Dave. Dia menatapnya lekat, memperhatikan dari ujung kaki hingga kepala dan berakhir pada wajah cantiknya yang sedikit mirip dengan Sisy.


Entah kenapa tiba-tiba Dave berfikir jika gadis kecil itu adalah anak Sisy. Tapi siapa ayah dari gadis kecil itu.?


8 tahun Sisy pergi, jika gadis itu benar-benar anak Sisy, lalu siapa ayah dari anak itu.?


Pikiran Dave seketika kacau, entah kenapa dia merasa takut jika anak itu adalah anak biologisnya. Bisa saja Sisy sedang mengandung darah dagingnya saat memutuskan untuk menghilang. Walaupun Dave tak terlalu yakin dengan hal itu.


"Oma,, dimana Mommy.?" Tanya Setelah melepaskan pelukan pada orang tua Sisy.


Mendengar gadis kecil itu mencari Mommy nya, Dave semakin yakin kalau gadis kecil itu benar-benar anak kandung Sisy.


"Mungkin Mommy ada di dalam,," Orang tua Sisy menunjuk ruangan dimana Sisy berada di dalam.


"Chiara datang sama Opa atau,,,


"Sama Daddy. Itu Daddy,,," Seru Chiara sambil mengarahkan telunjuknya.


...**...

__ADS_1


...Mampir dan masukin daftar favorit novel "Penyesalan Balas Dendam"...



__ADS_2