Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 86


__ADS_3

"Tolong pikirkan lagi keputusan kamu. Kita bisa bicarakan baik-baik,," Pinta Dave. Dia hanya bisa memohon pada Davina agar istrinya itu mau mengurungkan niatnya untuk berpisah.


"1 minggu terakhir kita tinggal bersama, kamu bahkan menyiapkan semua kebutuhan dan keperluanku dengan baik, kenapa tiba-tiba ingin berpisah.?" Tanyanya sembari menggenggam tangan Davina dan menatap sendu.


"Bukankah aku sudah pernah bilang, aku ingin menjadi istri yang baik. Anggap saja kebersamaan kita 1 minggu ini hanya sebatas kewajiban seorang istri pada suaminya."


Davina melepaskan perlahan tangan Dave.


Keputusannya tak akan pernah berubah, dia sudah memikirkannya baik-baik. Demi menyelamatkan ketengan hati dan jiwanya yang belum sanggup berbagi cinta serta hanya jadi bayang-bayang masa lalu.


"Aku terlalu cepat mengambil keputusan untuk menikah. Seperti halnya yang sering Om katakan padaku bahwa aku bodoh. Kenyataannya memang aku sangat bodoh." Davina mengukir senyum kecut.


“Bodoh karena masih berharap akan dicintai sepenuhnya disaat tau bahwa keberadaan ku tak berarti.”


“Aku berusaha untuk belajar mendewasakan diri dalam menjalani pernikahan kita, tapi ternyata sangat sulit. Aku terlalu bermain dengan perasaan.”


Davina berusaha menahan tangis. Berulang kali menarik nafas dalam, memberikan sedikit ruang pada dadanya yang terasa menghimpit.


“Aku akan menebus kesalahanku dan memperbaiki semuanya." Ucap Dave sungguh-sungguh.


"Kita bisa bicarakan baik-baik. Atau kamu mungkin butuh waktu untuk menenangkan diri.? Aku nggak keberatan kalau kamu tinggal disini sementara waktu sampai kamu siap memaafkan ku dan tinggal bersama lagi." Bujuk Dave dengan senyum penuh harap.


"Keputusanku sudah bulat. Sekarang Om bebas mencintainya tanpa takut ada penghalang." Ucapnya penuh penekanan.


"Sudah 10 menit.!" Tegas Davina sembari melirik jam di tangannya, lalu beranjak masuk ke dalam mobil.


"Davina,," Dave menahan pintu mobil yang belum sempat di tutup oleh Davina.


"Kali ini saja pikirkan baik-baik. Bagaimana kalau seandainya kamu juga hamil.?" Dave menatap lekat. Dia berharap ada darah dagingnya di dalam rahim Davina setelah 1 bulan mereka bersama.

__ADS_1


"Om menyuruhku untuk memikirkannya baik-baik.? Lalu apa Om nggak berfikir baik-baik saat masih mencintai wanita lain tapi mengajakku menikah.?"


"Om nggak berfikir bagaimana perasaanku.? Bagaimana perasaan seorang istri yang memiliki suami namun mencintai wanita lain.?"


Davina berbicara tenang, dia bahkan tersenyum di akhir kalimat. Senyum yang sebenarnya menyimpan luka di dalamnya.


"Seandainya aku yang melakukan itu, mungkin aku sudah mati di tangan Om karna disiksa." Davina terkekeh geli. Tak bisa membayangkan apa jadinya jika dia masih mencintai Arga dan jauh-jauh ke luar kota demi bertemu dengan Arga dibelakang Dave.


Sebelum Dave menceraikannya, pasti pria itu lebih dulu menyiksa dirinya agar merasakan sakit seperti dirinya.


"Satu lagi, Om nggak perlu cemas soal kehamilan. Aku nggak mungkin hamil karna selama ini meminum pil penunda kehamilan." Ujar Davina dengan entengnya, membuat Dave tanpa sadar mencengkram kuat tangan Davina karna kecewa dengan apa yang di lakukan oleh istrinya itu. Diam-diam mengkonsumsi pil kontrasepsi tanpa persetujuan dan sepengetahuannya.


"Kau.!!" Seru Dave geram.


Davina menahan sakit di lengannya sembari menatap tangan Dave yang sedang mencengkeramnya.


"Maaf, aku nggak bermaksud menyakiti kamu,," Dave menatap cemas, takut hal itu akan semakin membuat Davina sulit untuk di bujuk.


"Om tau.? Aku memilih tetap mempertahankan Om meski saat itu Om menyakitiku secara fisik."


"Tapi jangan pernah menyakitiku dengan mempermainkan perasaan. Cinta bukan lelucon.!" Davin menekankan ucapannya. Dia mengibaskan tangan Dave, lalu menutup pintu mobil dan berlalu dari sana.


Dave terlihat begitu frustasi. Kini hanya ada penyesalan yang selalu mengikutinya.


Menyesal telah menganggap enteng Davina, berfikir semuanya akan baik-baik saja walaupun saat ini mencintai 2 orang sekaligus.


...****...


"Jadi kapan Papa akan mengurus kepindahan ku ke luar negeri.?" Tanya Davina. Sudah 1 minggu sejak memutuskan berpisah dengan Dave dan meminta untuk kuliah di luar negeri, tapi sampai sekarang sang Papa belum mengurusnya.

__ADS_1


"Papa belum mengurusnya karna sedang memikirkannya baik-baik. Papa tidak mungkin membiarkan kamu hidup sendiri di luar negeri, jadi Papa sudah putuskan kamu akan tetap kuliah disini." Edwin tidak mengabulkan keinginan Davina lantaran takut terjadi sesuatu dengan putrinya jika membiarkannya tinggal seorang diri di luar negeri.


Davina terlalu berharga, tentu Edwin tak akan gegabah mengabulkan pemintaan putrinya itu.


"Tapi Pah, aku bisa menjaga diri. Aku akan baik-baik saja di sana."


"Aku mohon ijinkan aku kuliah di luar." Pintanya dengan memasang wajah memelas.


"Tidak Davina, kamu akan tetap kuliah disini.!" Tegas Edwin. Ucapannya tak bisa di bantah lagi, membuat Davina akhirnya memilih diam dan pamit dari meja makan untuk berangkat kuliah.


Di ikuti oleh Farrel yang sekarang kembali di tugaskan untuk menjaga dan mengawasi Davina.


"Kamu itu sibuk mikirin pindah kuliah keluar negeri, coba sekali-kali pikirin tuh suami tua kamu yang udan sakit-sakitan itu." Celetuk Farrel setelah masuk ke dalam mobil.


Davina hanya melirik acuh tanpa mengatakan apapun.


"Inget, kamu itu masih istrinya,," Kali ini nada bicara Farrel terdengar meledek.


"Masa suami nggak muncul selama 4 hari kamu nggak khawatir."


Kali ini ucapan Farrel membuat Davina fokus menatap ke arahnya.


"Sudah aku bilang, Om tua itu sedang sakit. Mungkin sebentar lagi wafat kalau nggak ada yang peduli dan mengurusnya." Farrel terlihat menahan tawa. Antara kasihan dan lucu karna ingat pada Dave.


Karna seumur-umur tidak pernah melihat pria dingin dan arogan itu sakit separah ini. Sampai-sampai menelponnya untuk datang dan menyuruh mengurusnya.


"Kenapa menatapku seperti itu.?" Tanya Farrel karna Davina menatap sinis seolah tak percaya dengan ucapannya.


"Aku serius, Om Dave benar-benar sakit. Datang saja ke apartemen kalau nggak percaya,," Ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2