
Dua hari berlalu sejak Kekecewaan dan rasa benci Dave terhadap Davina. Dia tak bisa menghapus bayang-bayang malam menyakitkan itu. Malam dimana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri atas pengkhianatan Davina bersama Justine.
Selama dua hari itu pula, Dave memilih bungkam. Tak pernah menegur Davina saat melihatnya. Dia juga menghindari sarapan dan makan malam bersama karna tak bisa mengontrol emosinya setiap kali melihat wajah polos Davina yang ternyata tak sepolos yang dia kira.
Dan yang membuat amarah Dave semakin memuncak, Davina sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang dia lakukan malam itu.
Seolah tak pernah melakukan kesalahan fatal yang menjijikkan. Bahkan Davina juga enggan menyapanya, ikut membuang muka saat berpapasan dengannya.
Bagaimana Dave tidak semakin emosi melihat sikap Davina seperti itu.
Dave mengaku salah karna malam itu lebih menuruti permintaan Jasmine untuk makan malam bersama. Tak menghiraukan larangan Davina yang memohon padanya agar tidak pergi dengan Jasmine. Namun Dave memiliki alasan kenapa dia tetap pergi bersama Jasmine. Wanita itu mengancam akan menunda pernikahan jika dia tak mau pergi makan malam di luar.
Mana mungkin Dave membiarkan acara pernikahannya di tunda lebih lama lagi. Sedangkan dia sudah tidak sabar untuk menjebloskan Diana ke penjara. Dan membuat karier serta hidup Jasmine hancur.
Malam itu Dave tengah duduk di balkon. Menyesap sebatang rokok yang ada di tangannya. Sudah 2 jam dia duduk di sana, dan sudah puluhan batang rokok yang dia hisap.
Pria itu menatap.
Pandangan matanya lurus ke depan, sorot matanya di penuhi amarah.
Besok adalah hari pernikahannya. Pernikahan untuk membalaskan dendamnya terhadap keluarga Jasmine, sekaligus untuk mempersunting Davina sebagai istri sungguhan.
Meski melihat langsung bahwa Davina telah berkhianat, namun Dave tak punya niatan untuk membatalkan pernikahan itu. Dia justru ingin segera menikahi Davina. Sebuah rasa sakit yang besar, harus dibalas dengan rasa sakit yang besar pula.
"Om,,," Panggil Davina. Tiba-tiba gadis itu muncul di hadapan Dave. Berdiri tepat di hadapan Dave dengan wajah tertunduk karna takut melihat tatapan Dave yang begitu menusuk.
"Sebaiknya batalkan saja pernikahan kita.!" Tegas Davina tanpa berani menatap wajah Dave. Selain takut, dia juga sedang berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Bukan hal yang mudah mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahannya dengan Dave, disaat hatinya sudah tertambat pada pria dewasa itu.
Apa yang baru saja dia ucapkan bahkan seperti hujaman benda tajam di dadanya, sesak dan menyakitkan.
Sangat sulit melepaskan pria itu. Pria yang selama ini menjadi pengganti Papa Edwin.
Mendengar permintaan Davina untuk membatalkan pernikahan, kedua tangan Dave seketika mengepal kuat. Rokok di tangannya bahkan hancur dalam sekali genggaman.
__ADS_1
Sorot matanya semakin tajam, rahang tegasnya terlihat mengeras dengan wajah yang memerah karna menahan amarah.
Setelah pengkhianatan itu, akhirnya Davina mau berbicara padanya. Bahkan langsung memintanya untuk membatalkan pernikahan.
"Membatalkan pernikahan.?" Tanya Dave dengan nada sinis. Satu tangannya mencengkram dagu Davina, menariknya ke atas agar gadis itu menatap wajahnya.
"Kamu salah orang jika ingin bermain-main, Davina,!" Geramnya penuh amarah.
"Tak peduli siapa dirimu.! Jangan harap saya akan melepaskan kamu begitu saja.!" Tegasnya lalu menghempaskan kasar dagu Davina.
Dave paling benci dengan sebuah pengkhianatan. Semua itu berawal dari pengkhianatan yang dilakukan oleh sang Papa. Dari sanalah kebencian itu muncul. Dave menjadi sosok yang paling membenci sebuah pengkhianatan sampai akhirnya timbul perasaan untuk balas dendam.
Dia bahkan rela balas dendam pada Jasmine yang tak tau apapun tentang permasalahan orang tua mereka. Meski pada akhirnya Dave juga membenci Jasmine karna ternyata wanita itu memiliki beberapa kekasih di belakangnya.
Kebencian dan rasa dendam itu akhirnya semakin besar, membulatkan tekat Dave untuk tetap melanjutkan rencananya.
Sementara itu, sikap kasar Dave membuat Davina tertegun. Hatinya semakin terluka akibat mendapat perlakuan buruk dari Dave. Harusnya disini dia yang marah dan kecewa, tapi Dave justru terlihat lebih marah darinya.
"Om,,! Kenapa bersikap seperti ini padaku.?!" Sentak Davina dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Malam itu Om bahkan nggak pulang ke rumah.! Padahal Om Dave tau kalau aku nggak suka lihat Om pergi dengan Jasmine.!"
"Om itu kenapa hah.??!!" Bentak Davina sembari memukul dada Dave.
Dia berani berteriak karna tak ada siapapun di lantai dua selain dia dan Dave.
Dave langsung mencengkram kedua tangan Davina saat Davina akan melayangkan pukulan lagi padanya.
"Kamu masih berani bertanya saya kenapa.?!" Sinis Dave.
"Apa yang saya lakukan saat ini belum seberapa. Permainan akan dimulai setelah kita menikah.!" Dave menata tajam. Dia menghempaskan tangan Davina dan berlalu begitu saja, membawa amarah yang meluap. Bahkan dia terus mengepalkan kedua tangannya saat berlalu dari sana. Bergegas turun dan pergi dari rumah.
Davina hanya bisa termenung. Menatap kepergian Dave hingga pria itu tak terlihat lagi dari pandangan matanya. Bingung dan kecewa, hanya itu yang dia rasakan oleh Davina saat ini.
__ADS_1
Entah apa yang membuat Dave berubah. Pria dingin itu menjadi pria yang pemarah dan kasar.
...****...
Siang itu di saat semua orang sedang disibukkan dengan persiapan untuk acara pernikahan yang akan di gelar malam nanti di sebuah ballroom hotel bintang 5. Davina justru menangis histeris di dalam kamarnya setelah membuka pesan grup dari kampus.
Apa yang ditakutkan oleh Davina malam itu ternyata benar-benar terjadi. Setelah 3 hari di nyatakan hilang, Bianca akhirnya di temukan dengan kondisi sudah tidak bernyawa. Wanita itu ternyata sengaja mengakhiri hidupnya dengan terjun ke sungai dari atas jembatan.
"Bi,, kenapa harus seperti ini,,," Seru Davina di sela isak tangisnya. Hatinya hancur melihat bagaimana kondisi Bianca yang sudah tak bernyawa. Dangan wajah yang nyaris tak bisa dikenali.
Cukup lama menangisi mantan sahabatnya itu, Davina beranjak dan berniat pergi ke rumah orang tua Bianca untuk melihatnya terakhir kali sebelum dimakamkan.
"Vina,, kamu mau kemana sayang.?" Tegur Sandra saat melihat Davina jalan buru-buru sampai melewati ruang keluarga begitu saja, padahal di sana semua orang sedang berkumpul termasuk Dave.
"Temanku meninggal, aku harus melihatnya untuk terakhir kali." Jawabannya dengan suara yang tercekat. Dia tak menyangka Bianca akan pergi dengan cara tragis seperti ini.
"Teman kamu,? Siapa.?" Tanya Edwin.
"Bianca Pah,, dia bun 'nuh diri,,," Davina terisak. Merasa tidak kuat berdiri, Davina bergegas menghampiri Edwin dan menghambur ke pelukannya.
"Ya ampun,, apa yang terjadi.?" Edwin terlihat kaget. Dia tentu saja sangat mengenal Bianca. Satu-satunya teman wanita yang paling dekat dengan Davina sebelum akhirnya persahabatan mereka hancur karna sebuah pengkhianatan.
Davina menjelaskan kronologi kejadian sambil terisak. Ini menjadi perpisahan yang menyakitkan kedua setelah berpisah dengan mendiang sangat mama 8 tahun silam.
Memang hal yang menyakitkan adalah berpisah dengan seseorang karena sebuah kematian.
Tak peduli bagaimana sikapnya di akhir hayat, karna dibalik semua itu pasti ada sejuta kebaikan yang pernah Bianca berikan pada Davina.
"Bukannya Papa melarang kamu untuk pergi, tapi 2 jam lagi kita harus pergi ke hotel."
"Pernikahan kamu sudah di depan mata. Papa harap semuanya berjalan lancar."
"Papa janji akan menemani kamu ke makam Bianca, tapi setelah acara pernikahan kamu selesai." Tutur Edwin lembut.
__ADS_1
Edwin tentu saja tak mau sesuatu terjadi pada Davina menjelang pernikahannya yang akan di gelar beberapa jam lagi.