Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 87


__ADS_3

...Jangan lupa vote setelah baca 🙏🏻...


Ucapan Farrel yang mengatakan bahwa Dave sedang sakit, hanya menjadi angin lalu bagi Davina. Dia tidak tertarik untuk datang ke apartemen seperti yang di perintahkan oleh Farrel.


Meski awalnya yakin dengan penuturan saudara tirinya itu, tapi tiba-tiba ingat kalau Farrel berada di pihak Dave. Pasti cerita tentang Dave yang jatuh sakit selama beberapa hari ini, hanya akal-akalan Farrel saja untuk membuatnya datang menemui Dave.


"Gimana,? Kamu mau menjenguknya setelah pulang kuliah.?" Tanya Farrel begitu selesai memarkirkan mobilnya.


Davina melirik kesal sembari melepaskan seatbelt.


"Aku sibuk." Jawabnya lalu bergegas turun dari mobil Farrel.


Jika dia datang menemui Dave, maka hanya akan sia-sia saja selama 1 minggu ini berusaha menghindar agar tidak bertemu dengan Dave dan berusaha untuk menghapus perasaannya sedikit demi sedikit pada pria itu.


Seandainya saja detik itu Dave berhenti mencari tau tentang wanita masa lalunya, dan berniat untuk menghapus tato itu, mungkin masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya dengan memulai dari awal.


Sayangnya, Dave terlalu menganggap enteng perasaan Davina dengan membohonginya.


Sanggup berjanji tidak akan peduli lagi tentang masa lalunya, tapi pada kenyataannya Dave masih mencari tau, bahkan menemui wanita itu dibelakang Davina di saat hati Davina sedang terluka dan meragukan cinta Dave.


Bukannya berusaha untuk meyakinkan, Dave justru membuat Davina semakin meragukan cintanya.


Membuat luka di hati yang awalnya hanya goresan kecil, berubah menjadi sayatan besar yang begitu menyakitkan.


...****...


"Kamu yakin nggak mau ikut.?" Tawar Farrel sebelum melanjukan mobilnya untuk mengantarkan Davina pulang.


"Kak Farrel mau maksa aku.?" Kesal Davina. Tadi pagi dia sudah bilang gak akan pergi ke apartemen Dave, tapi Farrel terus bertanya seolah sedang mendesaknya untuk ikut menemui Dave.

__ADS_1


"Paling nggak kamu lihat dulu kondisinya," Bujuk Farrel.


"Kalau Kak Farrel nggak mau anterin aku pulang, aku bisa pulang sendiri pakai taksi." Davina menolak secara tegas dengan ancaman, membuat Farrel bergegas melajukan mobilnya.


"Oke aku antar kamu pulang." Jawabnya pasrah. Rasanya percuma saja terus mendesak Davina untuk ikut bersamanya ke apartemen Dave karna wanita itu terlihat tak mau peduli lagi tentang Dave.


Setelah mengantar Davina pulang, Farrel langsung pergi ke apartemen Dave untuk melihat keadaannya saat ini.


Dan disinilah Farrel berada. Di kamar Dave, dia baru saja memberi makanan pada Dave untuk makan siang.


"Nih.! Makan obatnya biar cepet sembuh." Farrel bicara ketus sembari menyodorkan obat pada Dave.


"Lagian kenapa menolak di rawat di rumah sakit biar ada yang ngerawat. Malah nyusahin diri sendiri dan nyusahin aku pastinya." Farrel menatap kesal. Sudah 3 hari ini dia selalu datang ke apartemen Dave setiap selesai mengantar Davina pulang ke rumah.


Sebenarnya Dave tidak memaksa Farrel untuk datang setiap hari, tapi Farrel sendiri yang tiba-tiba datang karna merasa kasihan pada Omnya itu.


Dengan kondisi yang lemah dan jarum infus di tangannya, mana mungkin Farrel bisa bersikap acuh dan membiarkan Dave melakukan apa-apa seorang diri dalam kondisi sakit.


"Kalau mau pulang, pulang saja. Lagi pula nggak ada yang nyuruh kamu datang." Dave menelan 4 obat sekaligus, lalu meneguk air minum di tangannya.


"Bener-bener nggak tau di untung kamu Om,," Keluh Farrel sewot. Padahal niatnya baik karna peduli pada Dave, tapi malah mengusir dan seolah-olah tidak butuh bantuannya.


"Pantes aja Davina ngotot minta pisah.".Celetuknya sembari beranjak dari kursi.


Farrel menyadari kalau sikap Dave memang menjengkelkan. Jadi dia merasa Dave yang paling bersalah dalam kehancuran rumah tangga mereka berdua.


"Satu lagi, sebaiknya Om Dave berhenti mengharapkan Davina datang." Pintanya.


"Karna Davina sudah nggak peduli lagi sama Om."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Farrel bergegas keluar dari kamar Dave dan meninggalkan apartemen.


Dia meninggalkan Dave yang diam melamun lantaran mendengar penuturan Farrel. Penuturan yang seketika membuatnya kehilangan harapan untuk memperbaiki hubungan dengan Davina agar pernikahan mereka tetap bisa di selamatkan.


Hilang sudah harapannya untuk bisa kembali bersama Davina, penyesalan tak merubah apapun.


Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai.


Ini adalah hukuman untuknya agar ke depan bisa jauh lebih baik lagi dalam menghargai perasaan pasangannya.


Apalagi dengan ucapan Farrel barusan, membuat Dave merasa tertampar karna menyadari semua ucapan Farrel adalah sebuah kebenaran tentang sifat buruknya selama ini yang pada akhirnya membuat Davina menyerah.


Namun Dave tak akan berhenti sampai disitu, dia akan terus berusaha untuk mengembalikan keadaan seperti semula.


Tapi kalau pada akhirnya Davina tetap menolak untuk kembali, mungkin saat itu Dave akan berhenti memaksa Davina dan mengikhlaskan Davina pergi dari sisinya demi kebahagiaan Davina.


...***...


"Mau kemana.? Jangan pulang terlalu malam, aku bisa di interogasi sama Papa,,!" Farrel menahan langkah Davina yang hendak menuruni tangga.


Wanita itu terlihat cantik dengan balutan dress elegan dan riasan tipis di wajah serta rambutnya di buat curly pada bagian bawah.


"Hanya ke restoran, temanku ulang tahun dan mengadakan party."


"Aku akan pulang pukul 10." Jawab Davina, dia lalu kembali melangkahkan kaki untuk beranjak dari sana.


"Party.? Kalau begitu aku akan menemani kamu. Tunggu aku kalau kamu nggak mau Papa tau jika kamu pergi malam-malam, apalagi untuk party.!" Ujar Farrel dengan sedikit ancaman. Agaknya dia tidak bisa membiarkan Davina pergi seorang diri. Apalagi sudah di tugaskan oleh Papa Edwin dan Dave untuk selalu menjaga Davina.


"Ya ampun,,! Menyebalkan sekali,," Davina hanya bisa menggerutu tanpa bisa mencegah Farrel agar tak ikut dengannya.

__ADS_1


...***...


...Di vote dulu yah😊...


__ADS_2