
Sejak pulang dari hotel pagi tadi hingga menjelang malam, Davina tak beri akses untuk keluar dari apartemen. Dave menahannya di apartemen tanpa ada interaksi apapun. Pria itu bahkan menghabiskan waktunya didalam ruang kerja.
Hanya keluar pada saat sarapan dan makan siang saja. Itupun tidak ada komunikasi di atas meja makan karna Dave memilih diam saat Davina berusaha untuk mengajaknya berbicara.
"Aku harus ke club malam ini untuk melihat cctv. Om Dave harus tau kalau aku nggak pernah tidur dengan Justin." Gumam Davina. Dia sudah siap untuk pergi ke club, bahkan berencana untuk mengajak Dave agar pria itu bisa melihat kalau kejadian malam itu hanya sebuah rekayasa yang dilakukan oleh Bianca dan Justin untuk menjebaknya.
Davina menghampiri kamar Dave, mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya Dave membuka pintu. Tatapan tajam yang menusuk selalu di arahkan pada Davina setiap kali Dave menatap gadis itu. Siapa yang tidak kecewa saat melihat pengkhianatan di depan mata hingga berakhir di atas ranjang. Melihat bagaimana baju keduanya berserakan di atas lantai. Kain yang menutupi kedua bagian sensitif Davina bahkan ikut berserakan di sana.
Jika Dave tak memikirkan balas dendamnya pada keluarga Jasmine, pasti saat itu juga dia sudah menyeret Justin dan menghajarnya meski taruhannya dia sendiri yang akan di jebloskan ke penjara oleh Justin.
"Kamu mau pergi.?!" Tanya Dave dingin.
"Sudah berapa kali saya bilang, kamu nggak bisa pergi seenaknya selama tinggal disini.!" Tegasnya.
"Sebaiknya Om Dave ikut aku ke club.! Aku mau buktikan ke Om kalau aku nggak pernah tidur sama Justin."
"Om bisa lihat dari cctv, kalau aku memang bersalah seperti yang Om tuduhkan. Aku nggak keberatan sekalipun Om mau menyiksaku setiap saat.!" Seru Davina.
Kalau sajak setelah kejadian malam itu Dave sudah menunjukkan fotonya bersama Justin, pasti tak akan berlarut-larut seperti ini. Davina tak perlu bingung memikirkan kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai Dave berubah sikap padanya.
Dan sudah pasti dia akan langsung mencari bukti untuk menyangkal semua itu.
"Cctv mana yang kamu maksud.?" Ketus Dave.
"Malam itu cctv di sana sedang bermasalah."
"Atau mungkin memang kalian sengaja meminta pengelola club untuk menghilangkan jejak." Tuduh Dave. Nyatanya dia sangat yakin kalau Davina dan Justin sudah berkhianat. Mengingat keduanya pernah dekat dan beberapa kali bertemu di club.
Di tambah dengan cctv yang bermasalah pada saat kejadian. Membuat Dave berfikir kalau mereka ingin menghilangkan bukti.
"Nggak mungkin,," Davina menggeleng tak percaya. Cemas dan bingung begitu mendengar bahwa cctv di sana sedang bermasalah pada malam kejadian. Davina jadi merasa takut, takut jika tidak bisa menunjukkan bukti pada Dave kalau dia tak pernah mengkhianati Dave.
"Kenapa mereka tega menjebakku seperti ini." Gumam Davina frustasi. Dia bahkan bingung motif dari penjebakan yang dilakukan oleh Bianca dan Justin. Sedangkan keduanya langsung pergi setelah malam kejadian.
Kalaupun Bianca benci pada Davina karna melihat Arga yang sedang berusaha mendekatinya, harusnya Bianca tak mengakhiri hidupnya agar bisa mendapatkan Arga kembali. Tapi nyatanya dia malah pergi untuk selama-lamanya. Lalu apa untungnya menjebak Davina.?
Belum lagi keberadaan Justin yang misterius. Menghilang begitu saja tanpa jejak.
__ADS_1
Kalau memang Justin sengaja ingin meniduri Davina agar bisa memiliki gadis itu, harusnya Justin tak meninggalkan Davina seorang diri di kamar itu dan menunggu sampai Davina sadar agar bisa mengutarakan keinginannya untuk bertanggungjawab. Bukannya malah buru-buru pergi, bahkan Davina tak sempat melihatnya.
"Wanita itu,, dia pasti suruhan Justin dan Bianca. Aku harus mencarinya,!" Geram Davina setelah ingat kembali dengan wanita yang ada di dalam kamar malam itu.
"Siapa yang mengijinkan kamu pergi.!" Dave menahan pergelangan tangan Davina. Menahan Davina yang hendak berlalu dari sana.
"Lepasin Om, aku harus pergi. Aku harus cari wanita yang sudah membiusku malam itu."
"Dia pasti tau semuanya.!" Nada bicara Davina meninggi. Dia mulai kesal pada Dave karna tak mau mendengarkan penjelasannya dan tidak memberikan dia kesempatan untuk mencari bukti bahwa dia tidak bersalah.
"Cepat kembali ke kamarmu.!" Bentak Dave tegas.
Bahkan sampai menyentak lengan Davina dengan kuat.
"Aku kecewa sama Om.!" Suara Davina bergetar. Matanya berkaca-kaca menatap pria yang ia cintai namun tega memperlakukannya dengan kasar.
Davina lalu bergegas pergi ke kamarnya. Menutup pintu dan menguncinya.
Dave terlihat menghela nafas selepas kepergian Davina. Dia tidak bisa mencari bukti bahwa Davina tak bersalah atas kejadian malam itu lantaran tak ada cctv pada saat kejadian.
Bahkan semua pekerja di club itu mengatakan kalau Justin sendiri yang memesan kamar di sana.
Dia ingin memastikan lagi apa yang sebenarnya terjadi, walaupun sudah 3 kali mendatangi club itu untuk mencari bukti sendiri.
Meski Davina sudah mengatakan bahwa semua itu hanya sebuah jebakan, Dave tak bisa percaya begitu saja sebelum dia melihat buktinya sendiri.
Masa lalu yang kelam dan menyakitkan membuat Dave tak bisa percaya pada siapapun, kecuali pada kakak dan mendiang Mamanya.
...****...
Pagi itu Davina sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Dia kemudian keluar dari kamar dan mencari Dave, karna tanpa Dave, dia tak akan bisa keluar dari apartemen. Dave tak memberinya akses card, juga tak memberitahu password pintu padanya.
"Om,,," Panggil Davina. Dia mengetuk pintu kamar Dave. Tak lama pria itu keluar dengan memakai kemeja lengan panjang dan jas yang dia pegang. Rupanya Dave sudah bersiap untuk pergi ke kantor.
Dave memasang wajah datar, namun dengan tatapan mata yang tajam seperti biasa.
"Bisa tolong buka pintunya.? Aku mau berangkat ke kampus sekarang." Pinta Davina memohon.
__ADS_1
Dave terlihat acuh, dia menutup pintu kamar dan beranjak dari hadapan Davina tanpa mengatakan apapun.
Davina terpaksa membuntuti Dave karna dia harus membujuknya agar mau membukakan pintu.
Dia mengikuti Dave sampai ke dapur.
Dave meletakkan tas serta jas miliknya dia atas kursi. Kemudian berdiri di depan dapur lalu mulai mengambil roti dan bahan makanan lainnya.
"Om,, bukain dulu pintunya." Ujar Davina.
"Kamu nggak liat saya sedang apa.!" Ketus Dave tanpa menoleh sedikitpun pada Davina.
"Duduk dan jangan bicara apapun sampai saya selesai.!" Titahnya dengan nada bicara yang tak mau di bantah.
Davina menurut. Dia terpaksa duduk di depan meja makan untuk menunggu Dave. Karna percuma saja terus memohon padanya, sedangkan Dave tak berniat untuk membukakan pintu sebelum selesai membuat sarapan.
Setelah 15 menit, Dave berjalan ke arah meja makan dengan membawa 2 piring berisi sandwich. 1 piring dia letakkan di depan Davina, dan satu lagi untuk dirinya sendiri.
"Cepat makan dan habiskan.!" Ketusnya.
Dave tak mau disalahkan oleh Edwin dan Sandra kalau sampai Davina sakit karna melewatkan sarapan. Tak hanya itu saja, dia juga tidak mau repot mengurus orang sakit.
Davina hanya mengangguk patuh, meski dia menyembunyikannya seulas senyum tipis dibibirnya karna Dave masih peduli padanya dengan membuatkan sarapan.
Davina yakin kalau Dave tidak mau melihatnya sakit.
Sarapan pagi itu di lewati dengan keheningan. Keduanya hanya fokus menghabiskan makanan di piring masing-masing.
"Jangan coba-coba pergi setelah pulang kuliah."
"Pastikan pulang tepat waktu atau kamu akan tau akibatnya.!" Ketus Dave setelah membuka pintu apartemen.
"Jadi aku harus pulang dan menunggu di depan apartemen sampai Om pulang dari kantor.?" Sahut Davina cepat.
"Aku bahkan nggak punya akses card dan password nya." Tuturnya sedikit menggerutu.
"Jangan banyak bicara, lakukan saja apa saya perintahkan.!" Ucap Dave tegas.
__ADS_1
Davina hanya bisa mengangguk pasrah. Dia kemudian bergegas pergi untuk berangkat ke kampus.