
Memeluk erat tubuh Dave dari belakang, kedua tangan Davina bermain di dada bidang Dave. Perlahan mulai turun ke perut dan semakin turun hingga membuat Dave dengan cepat menahan tangan Davina karna tangan istrinya itu hampir menyentuh miliknya.
Jika saat ini hubungan mereka sedang baik-baik saja, mungkin Dave tak akan menghentikan aktivitas yang di lakukan oleh Davina.
Tapi sekarang keadaan sedang berbeda, membuat Dave bingung dengan sikap Davina yang menurutnya aneh.
Dave langsung berbalik badan, menatap heran pada pada istrinya itu.
Sedangkan Davina hanya tersenyum santai, seolah tak ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.
"Kenapa.?" Tanya Davina lembut. Tangannya kembali berusaha untuk menyentuh tubuh Dave, tapi lagi-lagi Dave menahan tangan Davina.
"Aku yang harusnya bertanya, sebenarnya kamu itu kenapa.?" Dave menatap cemas.
"Memangnya ada yang salah dari ku.?"
"Aku hanya ingin melakukan tugasku saja. Aku pikir Om menahanku disini karna ingin melakukannya." Kini Davina melepas satu persatu kancing dress di tubuhnya.
Membiarkan 3 kancing yang ada di sana terlepas seluruhnya dan memperlihatkan bagian atas dua benda kenyal di dalam sana.
"Om rindu padamu bukan.?" Tanya Davina lagi.
"Ayo kita lakukan sekarang,,"
Davina menggoda dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Dave. Bergerak maju sampai tubuhnya menempel dengan pria itu.
Dave terlihat menelan salivanya, tubuhnya mulai bereaksi dengan apa yang di lakukan dan di tunjukkan oleh Davina. Namun Dave tak mau menuruti permintaan Davina begitu saja sebelum tau apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu.
"Aku nggak suka kamu seperti ini,," Dave melepaskan perlahan tangan Davina dari lehernya. Dia tidak bisa melihat Davina bersikap seperti seorang wanita bayaran di depannya.
Davina memasang wajah cemberut. menunjukkan kekecewaan karna Dave menyingkirkan tangannya.
"Om menolak ku.? Kenapa nggak suka melihatku seperti ini.?"
"Lalu aku harus bagaimana.? Harus bagaimana agar Om tergila-gila padaku sampai rela mengukir tubuh,, maksudku, sampai Om bisa mengukir namaku di dalam sini.!" Davina menekankan kalimat terakhirnya sembari meletakkan jari telunjuk di dada Dave.
"Kamu masih marah padaku.?" Tanya Dave. Melihat Davina seperti itu membuatnya semakin cemas. Dia tidak tau apa yang sebenarnya akan di lakukan oleh Davina dengan perubahan sikapnya yang drastis. Dari yang sebelumnya dingin dan tak mau di sentuh, kini begitu dia kembali, Davina justru menawarkan diri untuk di sentuh.
"Sepertinya aku nggak punya alasan untuk marah." Jawab Davina.
"Bagaimana.? Om nggak tertarik bermain sore ini.? Atau nanti malam saja.?" Tawarnya.
__ADS_1
Davina memainkan kancing dressnya.
"Katakan dulu kamu kenapa.?" Nada bicara Dave sedikit naik.
"Sudah ku bilang, aku sedang rindu dengan suamiku ini." Davina langsung memeluk Dave.
"Apa sekarang Om masih lelah.? Kalau begitu nanti malam saja." Setelah mengatakan itu, Davina melepaskan pelukannya.
"Om pasti sudah sibuk dengan pekerjaan sejak pagi." Davina mulai memasang kembali kancing dressnya, tapi baru masang 1 kancing, Dave tiba-tiba meraih tengkuk Davina dan memagut lembut bibirnya.
Membuat Davina mengukir senyum tipis dan menyebut ciuman Dave dengan sedikit kasar dan menuntut.
Dave yang awalnya berusaha untuk menahan diri, akhirnya tergoda juga karna ulah Davina.
Ciuman yang saling menuntut itu berubah menjadi kegiatan panas di atas ranjang.
Merengkuh kenikmatan bersama dengan suara des sah han yang memenuhi kamar.
Pergulatan panas itu di akhiri oleh Davina yang merengek untuk makan malam.
Dave sudah mulai tenang, tak lagi mencemaskan perubahan sikap aneh Davina padanya. Mungkin karna Davina selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan menunjukkan sikap santai seperti dulu.
Mereka bahkan mengulangi kegiatan panas itu lagi setelah menghabiskan waktu berdua di ruang keluarga.
Dave melirik jam weker di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dia juga menatap wajah Davina yang terlelap sembari memeluknya.
Dave perlahan menyingkirkan tangan Davina dari tubuhnya, lalu bergeser menjauh dan turun dari ranjang.
Davina mengukir senyum kecut, dia diam-diam mengetahui Dave turun dari ranjang disaat mengira dirinya sudah tertidur.
Pria itu terlihat berjalan ke arah meja, mengambil map yang tergeletak di sana dan membawanya ke ruang kerja setelah mengecek isi di dalam map tersebut. Seolah ingin memastikan tak ada yang hilang dari isi map itu.
...****...
"Kenapa harus repot-repot memasak.? Kamu bisa pesan makanan."
Dave tiba-tiba menghampiri Davina di dapur.
Pria itu hanya bertelanjang dada dan memakai celana pendek saja.
"Memangnya Om nggak mau mencicipi makananku.?"
__ADS_1
"Aku pastikan rasanya nggak mengecewakan karna aku sudah belajar memasak."
Davina meletakkan makanan yang baru dia masak di atas meja makan.
Walaupun hanya sepiring nasi goreng dan 2 telor mata sapi.
"Nggak masalahkan kalau satu piring berdua.?".Ujar Davina lagi. Dia kemudian duduk di depan meja makan.
Dave mengangguk, dia tersenyum sembari mengusap pucuk kepala Davina.
Lega karna akhirnya Davina tak marah lagi padanya dan mau tinggal di apartemen tanpa memberontak ingin pulang ke rumah.
"Sini biar aku suapin,," Dave berniat mengambil alih sendok dari tangan Davina, tapi Davina melarangnya.
"Om duduk saja yang tenang, biar aku yang suapin Om,," Ujarnya. Davina lalu menyendokkan makan dan menyuapkan pada Dave.
"Sekarang weekend, kamu ingin pergi ke suatu tempat.?" Tanya Dave.
Davina menggeleng cepat.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama di apartemen. Anggap saja sedang honeymoon."
"Kita belum honeymoon sejak menikah kan."
Dave menyetujui permintaan Davina, walaupun dia sempat menawarkan pergi honeymoon ke luar kota dan Davina tetap memilih untuk menghabiskan waktu berdua di apartemen.
...***...
..."Penyesalan Balas Dendam"...
Kini hanya ada Devan dan Nisa selain 2 orang yang sedang menata rambut Nisa.
"Aku harap keputusanmu tidak salah." Ucap Devan lirih. Dia bahkan duduk di samping Nisa.
"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu." Ujarnya lagi.
Perkataan Devan membuat Nisa terkekeh sinis.
"Apa tidak keliru.? Harusnya aku yang bicara seperti itu padamu."
"Kamu yang yang lebih dulu mengambil keputusan dan memilih wanita lain."
__ADS_1
"Tolong berhenti membuatku muak Mas,!" Ucap Nisa tegas.
"Anggap saja kita tak saling mengenal." Sinisnya.