Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 41


__ADS_3

2 minggu berlalu, hubungan Davina dan Dave masih saja seperti itu. Dave tak pernah memberikan kejelasan, tapi selalu meyakinkan Davina bahwa dia akan selalu menepati janjinya dengan tidak menikahi Jasmine. Sejak awal Dave memang bilang jika acara pernikahannya dengan Jasmine tak lebih dari sekedar rencananya untuk balas dendam.


Acara itu sengaja di gelar untuk mengumpulkan semua petinggi perusahaan keluarga Jasmine dan orang yang bekerja sama dengan perusahaan mereka. Saat itulah dia akan melihat kehancuran keluarga Jasmine. Meski semua itu mungkin tak seberapa dengan kehancuran yang dulu dirasakan oleh Dave, Sandra dan juga Ibu mereka.


"Om,,," Davina membuyarkan lamunan Dave. Laki-laki itu tengah duduk di balkon dengan menghisap sebatang rokok di tangannya.


Dave menoleh, mengulas senyum tipis dengan tatapan mata sendu. Davina bisa melihat kesedihan yang mendalam dari sorot matanya. Hal yang tak pernah ia lihat sebelumnya dari pria itu.


"Om Dave kenapa.?" Tanya Davina lirih, dia bergeser dengan berdiri di depan Dave.


Bukannya menjawab pertanyaan Davina, Dave justru menggenggam tangan Davina dan menuntunnya untuk duduk di pangkuan.


"Kamu nggak ikut jemput Farrel.?" Dave terlihat mengalihkan perhatian Davina dengan menanyakan hal lain.


Davina menggeleng pelan. Saat ini dia sudah duduk di pangkuannya Dave dengan posisi menyamping.


"Nanti ada yang lihat kita Om,," Davina mengedarkan pandangan, takut salah satu pekerja rumah naik ke lantai dua dan memergoki dia sedang duduk di pangkuan Dave. Bisa-bisa hubungan dia dan Dave akan di ketahui oleh seisi rumah ini.


Dave terlihat acuh, dia justru mendekap erat pinggang Davina dan menatapnya lekat.


"Nggak ada yang berani naik ke lantai dua selagi mereka nggak dapat perintah." Jawab Dave tenang. Tentu saja Davina sudah tau hal itu, tapi tetap saja dia merasa cemas.


"Setelah Farrel pulang dan menetap disini, saya akan jarang tidur di kamar kamu." Tutur Dave lembut. Sebelah tangannya mengusap rambut panjang Davina. Mengusapnya dengan penuh perasaan dan tatapan teduh.


Raut wajah Davina seketika berubah sendu. Akhir-akhir ini dia sudah terbiasa tidur dengan Dave sembari memeluknya. Hampir setiap hari Dave datang ke kamarnya untuk menemaninya tidur. Bagaimana gadis itu tidak terlihat sedih mendengar Dave yang mungkin akan sulit tidur di kamarnya karna ada Farrel.


"Om kan masih bisa menyelinap diam-diam ke kamarku." Davina sedikit merengek. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher Dave, menatap pria itu dengan bibir yang mencebik hingga membuat Dave tersenyum gemas.


"Nggak semudah itu Davina, Farrel akan curiga kalau sekali saja dia melihat saya ada di dekat kamar kamu." Tutur Dave. Posisi kamar Dave dan Davina yang terbilang jauh, sudah pasti akan menimbulkan kecurigaan Farrel jika dia melihat Dave berada di sekitar kamar Davina.


Karna di sekitar kamar Davina tak ada ruangan apapun lagi, hanya ada kamar Farrel yang berada di sampingnya. Selebihnya hanya ada balkon.

__ADS_1


Dan tidak mungkin jika Dave beralasan akan duduk di balkon itu sementara di samping kamar Dave juga ada balkon.


"Tapi Om, aku sudah biasa tidur berdua. Bagaimana kalau aku susah tidur.?" Davina semakin memasang wajah cemberut.


Sudah pasti dia akan kesulitan tidur jika Dave tidak menemaninya lagi.


karna dulu saat Davina ingin pisah kamar dengan Papa Edwin, dia tidak bisa tidur semalaman dan itu berlangsung selama beberapa hari.


"Jangan banyak alasan kamu,," Dave mencubit gemas hidung Davina.


"Bilang saja nggak bisa jauh-jauh dari saya." Ujarnya sembari mengulas senyum.


"Kalau Om sudah tau, harusnya jangan bilang nggak bisa tidur di kamarku lagi." Davina memukul pelan dada bidang Dave.


Rasanya tidak rela kalau harus pisah kamar dengan Dave. Pasti akan rindu dengan pelukan dan kecupan bibir Dave di keningnya. Dan yang paling membuatnya rindu adalah kegiatan memabukkan yang selalu membuatnya candu.


...****...


Dan benar saja, sudah 3 hari sejak kepulangan Farrel, Dave tidak berani tidur di kamar Davina. Farrel terlalu jeli dalam mengamati situasi. Tanpa Bahkan tanpa melakukan interaksi dengan Davina di depan Farrel, keponakannya itu sudah menaruh curiga padanya. Mungkin karna melihat gelagat dari Davina yang sering mencuri pandang ke arah Dave setiap kali berada di meja makan.


Davina yang melihatmu Jasmine tengah mendekap tangan Dave, hanya melirik sekilas dengan sorot mata tajam. Lagi-lagi tidak terima melihat Jasmine sangat dekat dengan Dave walaupun wanita itu sudah lebih dulu memiliki Dave.


"Bagaimana kalau kita liburan berempat.?" Farrel memberi usul. Dia kemudian ikut bergabung dengan duduk di depan mereka.


"Temanku baru saja membuka resort beberapa minggu lalu, aku bisa menghubunginya untuk mengosongkan resort itu besok." Tuturnya.


"Waw,, ide bagus. Aku setuju liburan di pantai."


"Bagaimana Dave,? Kamu setuju kan.?" Tanya Jasmine dengan nada bicaranya yang manja.


"Saya sibuk, lain kali saja." Tolak Dave. Dia sempat melirik Davina sekilas. Melihat raut wajah sendu Davina, mana mungkin Dave tega menerima ajakan Farrel untuk liburan bersama dengan Jasmine. Dia enggan membuat gadis kecilnya itu semakin cemburu melihat kedekatannya dengan Jasmine.

__ADS_1


"Ayolah Dave, kali ini saja." Pinta Jasmine memohon


"Aku janji kalau kamu setuju untuk liburan bersama, aku siap menggelar pernikahan kita secepatnya,," Buruknya. Jasmine menatap penuh harap pada pujaan hatinya yang sama sekali tidak mencintainya.


Davina langsung mengalihkan pandangan. Muak sekaligus sesak mendengar rengekan Jasmine pada Dave. Apa lagi Jasmine menyebutkan tentang pernikahan. Hatinya terasa terbakar mendengarnya.


"Baiklah." Jawab Dave.


Akhirnya Dave menyetujui ajakan Jasmine, semata-mata untuk mempercepat acara pernikahan mereka. Karna dia sudah tidak sabar untuk melihat kehancuran keluarga Jasmine.


"Ya ampun,, makasih sayang,,," Seru Jasmine sembari memeluk Dave. Dia terlihat sangat bahagia karna Dave mau berlibur bersamanya. Walaupun dia harus mempercepat pernikahannya dengan Dave.


"Aku ke kamar dulu Kak,," Davina beranjak dari duduknya, bergegas pergi dari sana karna hanya membuat hatinya sakit melihat Dave di peluk oleh Jasmine. Dia sampai mengabaikan Farrel yang memanggilnya.


"Mau kemana sayang.?" Tanya Sandra yang baru saja menuruni tangga. Dia dan Edwin akan ke ruang keluarga untuk bergabung dengan Dave dan Jasmine. Karna sebelumnya Dave sudah meminta Sandra untuk membujuk Jasmine agar wanita itu mau segera menggelar acara pernikahan.


"Ke kamar Mah, mau istirahat,," Jawab Davina lirih.


"Kamu sakit.?" Edwin langsung menyentuh kening putrinya. Dia terlihat cemas, begitupun dengan Sandra yang ikut memastikan suhu tubuh Davina.


"Nggak enak badan, mungkin cuma kecapean aja." Davina mengulas senyum tipis. Kondisinya saat ini memang tidak baik-baik saja, banyak pertanyaan dan segala perasaan berkecambuk di hatinya hingga membuat imunnya menurun seketika.


"Lebih baik ke rumah sakit, atau mau Papa panggilkan dokter untuk memeriksa kamu.?" Tawar Edwin. Bukan berlebihan mengajak Davina pergi ke rumah sakit, tapi Edwin hanya khawatir lantaran selama ini Davina tak pernah terlihat selemah itu.


"Papa benar, Davina. Sebaiknya periksa ke dokter saja." Bujuk Sandra.


"Nggak usah Mah, Pah, aku cuma perlu istirahat saja. Nanti juga baikan,," Tolak Davina.


Setelah menyakinkan kedua orang tuanya jika dia baik-baik saja, Davina segera naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Berbaring di sana dan membalut tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher.


"Apa yang harus aku lakukan.?" Lirih Davina dengan mata yang berkaca-kaca. Dia bingung harus berbuat apa. Di sisi lain sangat cemburu dan kesal pada Jasmine, tapi dia juga merasa kasihan padanya.

__ADS_1


"Apa aku akan kehilangan Om Dave jika Tante Jasmine berhasil mengambil hatinya."


Sorot mata Davina menerawang jauh. Tidak ada yang tak mungkin bukan.? Kalau perasaan dendam dan benci berubah menjadi cinta.


__ADS_2