Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 90


__ADS_3

Davina menutup pintu perlahan dan berdiam diri di sana. Kehadirannya belum di ketahui oleh mereka karna perhatiannya sedang tertuju pada Dave.


Perawat itu tengah memeriksa kondisi Dave, sedangkan Raka tampak memperhatikan dengan seksama.


Tak lama, perawat itu pamit setelah memastikan kondisi Dave baik-baik saja. Baju pasien yang sempat dia bawa, hanya di masukan ke dalam lemari di dekat ranjang.


Dan saat perawat itu berjalan ke arah pintu, barulah mereka menyadari keberadaan Davina.


Dia melangkah maju untuk memberikan jalan pada perawat itu yang akan keluar.


"Apa Nona mau menggantikan baju Tuan Dave.?" Tanya Raka begitu Davina menghentikan langkah di sisi ranjang Dave.


"Kalau begitu saya akan tunggu di luar." Raka membungkuk hormat dan meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


Sementara itu, Dave mengukir senyum tipis sejak melihat keberadaan Davina. Hatinya sedikit menghangat karna akhirnya Davina mau menemuinya.


"Aku pikir kamu sudah pergi dengan Farrel." Kata Dave. Senyum di bibirnya semakin merekah.


"Jangan terlalu lama di sana," Pintanya dengan penuh perhatian.


Davina diam dengan ekspresi yang sulit di artikan, dia menarik kursi dan duduk di samping ranjang.


Keduanya saling beradu pandang untuk beberapa saat.


"Aku dengar, Om Dave menolak gugatanku." Davina berkata dengan santai dan perlahan.


"Tolong jangan di persulit." Pintanya memohon.


Akibat Dave menolak gugatan dari Davina, perceraian mereka tak kunjung di proses. Hal itu seakan menjadi beban untuk Davina karna merasa masih memiliki ikatan dengan Dave. Sedangkan Davina ingin merasakan kebebasan, kebebasan menjalani hidup tanpa rasa sakit akibat cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Terlepas bagaimana Dave ingin memperbaiki semuanya dan memulai dari awal, tapi Davina sudah terlanjur kecewa. Kecewa karna Dave terus melakukan kesalahan berulang kali meski banyak kesempatan yang sudah dia berikan padanya.

__ADS_1


Sayangnya, Dave terlalu menganggapnya remeh. Berfikir seolah tak bisa hidup tanpanya hingga dia bisa berbuat sesuka hati tanpa memikirkan bagaimana perasaan Davina.


"Semakin cepat di proses, maka akan semakin cepat pula permasalaha kita selesai."


"Setelah itu, Om Dave bebas membagi hati dan pikiran pada siapapun. Jangan 2 orang sekaligus, lebih dari itu pun nggak akan jadi masalah." Davina mengukir senyum tipis.


"Aku pergi, semoga cepat sembuh." Davina beranjak dari kursi.


"Kamu pasti tau kenapa aku menolak." Dave mencekal pergelangan tangan Davina untuk menahan wanita itu tetap di sana.


"Aku memang salah, tidak seharusnya masih menyimpan perasaan untuk orang lain di saat telah memutuskan menikahimu." Dave menatap sendu. Dia menatap kedua mata Davina penuh cinta yang bercampur kesedihan.


"Mendengarmu ingin berpisah, itu adalah hukuman yang terasa menyakitkan. Lebih menyakitkan dari sekedar kamu mengabaikan ku dalam keadaan seperti ini." Dave menggenggam tangan Davina dengan kedua tangannya.


"Memikirkan berpisah denganmu membuatku gila." Mata Dave berkaca-kaca. Sebagai laki-laki, rasa sakit di hatinya terasa begitu menyayat hingga ingin meneteskan air matanya. Namun tak mau membuat Davina berfikir bahwa dia hanya pura-pura menangis untuk mendapatkan belas kasihan darinya.


"Aku tidak keberatan kamu tinggal sementara di rumah Kak Sandra. Selama yang kamu kamu."


"Aku yakin masih ada cinta di hati kamu untukku, meski mungkin perasaan itu sudah tertutup oleh rasa sakit dan kecewa."


"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, menyembuhkan luka dan mengembalikan kepercayaanmu padaku."


Dave menatap penuh harap. Dia benar-benar serius ingin menebus kesalahannya. Menggantikan luka di hati Davina dengan kebahagiaan.


"Untuk terakhir kalinya, tolong beri aku kesempatan."


"Jika aku mengulangi kesalahan lagi, kamu boleh meninggalkanku saat itu juga. Bahkan aku akan pergi sejauh mungkin jika kamu menggarapkannya."


Genggaman Dave perlahan mengendur saat Davina menarik tangannya perlahan.


Reaksi Davina sudah menunjukkan bahwa tak akan ada lagi kesempatan bagi Dave.

__ADS_1


"Om bisa memohon seperti ini karna wanita itu sudah bahagia dengan pria lain, bahkan mereka sudah memiliki anak."


"Jika wanita itu masih sendiri, apa Om akan tetap mempertahanku dengan menolak gugatan perceraian dari ku.?" Davina menatap lekat. Ingin tau jawaban apa yang akan diberikan oleh Dave.


Dia merasa hanya menjadi pelampiasan Dave saja setelah mengetahui semuanya.


Merasa jika Dave kekeuh mempertahankan rumah tangga mereka karna Dave tak bisa lagi kembali pada Sisy.


"Tentu saja aku tetap mempertahankan kamu." Jawab Dave cepat.


"Tapi aku yakin kamu tidak akan mempercayainya." Dave mengulas senyum yang menyimpan sejuta kesedihan. Dia tidak tau harus bagaimana lagi untuk meyakinkan Davina.


Dave kembali meraih tangan Davina, perlahan meletakkan tangan Davina di dadanya.


"Jika kamu tidak bisa mempercayai perkataan ku, kamu bisa mempercayai hatiku." Kata Dave. Dia sedikit menekan tangan Davina agar Davina bisa merasakan detak jantungnya.


"Aku mencintaimu Davina, sangat mencintaimu," Ungkapnya dengan tatapan dalam.


Davina segera menarik tangannya, setengah berlari keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang tidak menentu.


"Apa yang kalian lakukan.?" Davina menatap Farrel dan Raka bergantian. Kedua laki-laki itu sedang berdiri di depan pintu saat dia keluar, seolah baru saja mengintip apa yang terjadi di dalam. Karna keduanya langsung salah tingkah saat melihat Davina.


"Kka,kami,,kami sedang mengobrol,," Raka menjawab gugup.


Sementara itu, Farrel pura-pura tidak tau dengan mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Kak Farrel, ayo pulang.!" Seru Davina tegas, dia langsung beranjak dari sana dengan langkah cepat. Farrel yang melihat itu, segera menyusul Davina.


...***...


Jangan lupa tinggalin votenya😊

__ADS_1


__ADS_2