
"Om Dave mau apa.?" Suara Davina terdengar lirih. Manik matanya menatap lekat wajah Dave dalam jarak sangat dekat. Tangannya reflek dikalungkan pada leher Dave saat pria itu mengangkat tubuhnya.
"Menurut kamu apa yang akan saya lakukan.?" Dave balik bertanya. Rasanya dia juga tak perlu menjawab karna Davina pasti sudah tau apa yang akan dia lakukan padanya.
"Memperlakukan ku seperti wanita penghibur.?" Tebak Davina dengan menekankan kalimatnya untuk menyindir Dave.
Pria itu hanya mengukir senyum tipis, kemudian membaringkan perlahan tubuh Davina di atas ranjang.
"Jadi kamu merasa seperti itu.?" Tanya Dave. Dia mengungkung tubuh Davina, satu tangannya mengusap lembut pipi Davina yang merona dan berhenti pada bibir sensualnya yang menggoda.
Davina hanya diam saja sejak tadi, merasakan sentuhan lembut tangan Dave di wajahnya sampai tak berfikir untuk menjawab pertanyaan Dave.
"Kenapa diam saja.?" Tanya Dave lagi.
"Kamu nggak bisa menjawab karna menikmatinya juga kan." Dave tersenyum penuh arti.
Perkataannya tak mungkin salah, karna jika Davina tak menikmati sentuhnya, pasti sejak awal Davina sudah menolak.
"Kalau begitu mulai detik ini aku akan menolaknya.!"
"Om Dave nggak bisa seenaknya sentuh aku.!" Davina mendorong dada Dave, kemudian beranjak turun dari ranjang.
Sebenarnya Davina memang sangat menikmati sentuhan Dave, dia tidak keberatan kalau harus melakukan kontak fisik seperti beberapa minggu yang lalu. Davina tak memungkiri kalau dia juga menginginkan hal itu lagi, namun Davina ingin mendengar ungkapan cinta dari Dave lebih dulu. Paling tidak dia tau kalau Dave mencintainya.
"Davina.! Mau kemana kamu.?!" Teriak Dave.
"Om tidur saja di tempat tidur, aku mau tidur di sofa.!" Davina terus melangkahkan kakinya menuju sofa panjang di salah satu pojok kamar. Dia lebih memilih tidur di sofa daripada harus tidur dengan Dave. Si gunung es yang pandai memaksa tapi tak bisa mengungkapkan cinta.
"Kamu menolak saya.?" Dave menatap tajam pada Davina. Kesal karna Davina tidak mau melakukan kontak fisik yang memabukkan dengannya.
"Bagaimana aku bisa menolak kalau Om saja belum mengungkapkan perasaan padaku.!" Seru Davina cepat. Jawaban menohok itu membuat Dave terdiam. Rupanya Davina masih mengharapkan pengakuan cinta darinya. Padahal selama ini sikap yang dia tunjukkan pada Davina sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan bagaimana perasaannya pada gadis itu.
"Kamu ingin saya mengungkapkan perasaan.?" Kata Dave. Dia juga turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Davina.
"Mengatakan hal yang menggelikan untuk di dengar.?" Cibir Dave.
__ADS_1
Dia memang tak seperti kebanyakan laki-laki pada umumnya. Pria dingin itu tak suka mengekspresikan perasaan lewat ucapan. Seumur hidupnya bahkan baru 1 kali mengatakan cinta pada seseorang. Itupun disaat usianya masih terbilang muda. Dave tak biasa puitis, apalagi romantis. Mungkin itu sebabnya cinta pertamanya pergi karna merasa Dave tidak benar-benar mencintainya.
"Apa.?! Menggelikan Om bilang.?!" Davina tidak terima dengan pernyataan Dave yang mengatakan bahwa pengakuan cinta adalah sesuatu yang menggelikan untuk di dengar.
"Asal Om Dave tau, ratusan bahkan jutaan wanita di dunia ini merasa sangat berarti setelah mendengar pengakuan cinta dari seseorang."
"Tak jarang banyak yang bertahan dalam suatu hubungan hanya karna kata cinta.!"
"Kalau mengatakan cinta saja terasa sulit, jangan harap mereka akan percaya kalau Om Dave punya cinta.!"
Davina tak habis pikir pada dirinya sendiri. Entah bagaimana dia bisa menaruh hati pada Dave, sedangkan laki-laki itu tak pernah mengutarakan perasaannya. Yang lebih membingungkan lagi, dia sudah memiliki hubungan terlarang dengan Dave.
Menjadi selingkuhannya tanpa ada ungkapan cinta ataupun kesepakatan menjalin hubungan. Semuanya berjalan dan mengalir begitu saja.
"Saya nggak perlu tau dan nggak mau tau." Ucap Dave datar. Pria itu menatap lekat wajah cantik Davina yang berdiri di hadapannya.
"Sudah saya katakan, kamu milik saya.!" Tegasnya dengan kedua tangan memeluk erat pinggang Davina hingga membuat tubuh wanita itu menempel erat pada Dave.
Gunung es itu tetap saja tidak mengungkapkan cinta pada Davina. Kata cinta sepertinya sangat mahal untuk di dengar dari mulut Dave.
Kontak fisik itu berakhir dengan sentuhan hangat yang memabukkan. Pada akhirnya Davina tak bisa menahan diri, dia membiarkan Dave menyentuh bagian atas tubuhnya.
"Om mau kemana.?" Davina mencegah tangan Dave yang akan beranjak dari ranjang.
"Ke kamar mandi." Jawab Dave dengan wajah lesu. Dia sangat bersemangat dan menggebu-gebu saat menyentuh Davina, tapi selalu berakhir mengenaskan. Tetap saja dia harus bermain sendiri karna tidak mungkin melakukannya dengan Davina.
Dave berusaha menahan diri untuk tidak menyentuh gadis itu, dia tak mau mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu.
Merenggut kesucian seseorang yang ternyata bukan jodohnya. Kesalahan itu membuat Dave terus dihantui penyesalan, meski saat itu bukan kesalahan dia sepenuhnya.
...****...
"Tante,,? Ada apa.?" Davina menatap Jasmine dengan dahi berkerut. Dia heran melihat Jasmine datang ke rumah di siang hari begini, disaat Dave masih berada di kantor.
"Om Dave belum pulang,," Ujarnya lagi.
__ADS_1
"Memangnya siapa yang mau bertemu Dave.?" Jasmine tersenyum geli, dia lalu melenggang masuk dan duduk di ruang tamu.
"Aku kesini karna mau mengajak kamu makan siang di luar dan jalan-jalan. Aku bosan seharian di rumah sendirian,," Tuturnya setelah duduk di sofa.
Davina sedikit terkejut mendengar keinginan Jasmine, dia pikir wanita itu akan malas bertemu dengannya lagi setelah kejadian di mall malam itu. Karna ulahnya berhasil membuat Jasmine kesal. Tapi kenapa sekarang wanita itu malah sengaja datang ke rumah hanya untuk mengajaknya pergi bersama.?
"Kenapa kamu jadi pendiam.?" Tanya Jasmine sembari melirik Davina sekilas.
"Kemarin kamu sangat cerewet." Ujarnya.
Davina tersenyum kaku, menatap Jasmine yang sedang mengemudikan mobil. Ya, saat ini dia sedang berada di dalam mobil Jasmine dan akan pergi ke pusat perbelanjaan. Davina menyetujui ajakan Jasmine untuk pergi bersama. Selain ingin mengetahui lebih jauh hubungan Dave dan Jasmine yang tidak dia ketahuan dari dua sisi, Davina juga ingin mengenal lebih jauh sosok Jasmine yang sebenarnya. Dia seperti apa penasaran Jasmine selama bertunangan dengan Dave, mengingat sikap Dave yang juga sangat dingin pada wanita itu.
"Bingung saja karna tiba-tiba Tante mengajakku pergi." Sahut Davina.
"Apa Tante sedang bertengkar dengan Om Dave.?" Davina sengaja menanyakan hal itu untuk memancing Jasmine. Mungkin saja dengan bertanya seperti itu, Jasmine mulai terbuka padanya mengenai hubungan mereka.
"Bertengkar.? Mana mungkin kami bertengkar." Jasmine mengukir senyum yang terlihat menyedihkan.
"Sejak awal kita jarang berkomunikasi. Kalaupun aku pulang ke Indonesia dan pergi bersama, Dave lebih banyak diam." Jasmine kembali tersenyum. Kali ini dia tersenyum kecut dengan pandangan mata yang seolah merutuki dirinya sendiri.
"Apa kamu tau, Davina.? Sakitnya mencintai seseorang yang tidak mencintai kita.?" Tanyanya. Jasmine kembali melirik Davina, sorot matanya penuh dengan keputusasaan.
Mendengar penuturan Jasmine, Davina jadi sedikit iba padanya. Dia seolah bisa merasakan kepedihan yang di rasakan oleh Jasmine. Karna saat ini dia juga merasakan hal yang sama, merasa tak dicintai meskipun Dave mengatakan bahwa dia adalah miliknya.
"Aku tau bagaimana rasanya, karna aku juga mengalami hal yang sama." Ujar Devina.
"Lalu apa yang kamu lakukan saat itu.?" Tanya Jasmine antusias.
"Tentu saja aku akan berjuang untuk membuatnya jatuh cinta padaku.!" Jawab Davina tegas.
Sekalipun dia merasa kasihan pada Jasmine, bukan berarti Davina akan melepaskan Dave begitu saja. Dia akan tetap mengambil Dave dari tangan Jasmine.
"Aku suka dengan semangat dan kepercayaan dirimu." Jasmine mengukir senyum lebar.
"Sepertinya aku harus banyak belajar dari kamu."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Davina hanya tersenyum tipis tanpa menanggapi ucapannya.