Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 103


__ADS_3

"Davina,, kamu sedang apa.?" Dave memergoki Davina yang tengah membuka lemari pendingin.


Entah apa yang di cari oleh wanita itu pukul 11 malam. Terlihat sedang mencari isi di dalam freezer dengan sedikit memajukan kepalanya.


Kedatangan Dave membuat Davina dengan cepat menutup lemari pendingin dan langsung berbalik badan. Wajah Davina terlihat gugup bercampur bingung.


"A,aaku ingin minum," Ucapnya gugup.


"Minum.?" Dave balik bertanya sembari berjalan mendekat ke arah Davina.


"Ingin minum atau ingin makan es krim yang aku makan tadi.?" Katanya dengan mengulum senyum. Sekarang Dave sudah tau siapa yang menyebabkan es krimnya berkurang tadi.


Alasan Davina yang ingin minum terlihat tidak masuk akal lantaran di membuka freezer yang tka ada minuman di dalamnya.


"Tidak." Jawab Davina cepat. Dia tidak mengatakan yang sebenarnya, padahal jelas-jelas dia menginginkan es krim itu. Karna saat di rumah, dia selalu makan es krim hampir setiap malam.


Dan es krim milik Dave yang dia curi tadi, belum membuatnya merasa puas.


"Jangan bohong, aku tau kamu ingin makan es krim." Desak Dave. Padahal jelas-jelas raut wajah Davina mengatakan iya, tapi masih bisa menyangkalnya.


"Siapa yang bohong, aku memang mau minum." Davina tetap menyangkal. Dia kembali membuka lemari pendingin dan mengambil air dingin dari sana.


"Yakin tidak mau es krim.? Kita bisa membelinya sekarang kalau kamu mau." Tawar Dave. Namun Davina langsung menggelengkan kepala dan pura-pura acuh dengan tawaran Dave.


"Aku akan membeli banyak es krim kalau kamu mau. Ayo pergi,," Dave langsung merangkul pinggang Davina begitu istrinya itu selesai minum.


"Nggak mau Om, lepasin,," Davina menolak untuk ikut dengan Dave.

__ADS_1


"Sudah ikut saja. Jangan sampai ada yang ileran kalau sekarang kamu menunda untuk makan es krim." Ucap Dave. Dia tetap membawa Davina pergi dari dapur untuk mengajaknya membeli es krim di supermarket yang buka 24 jam.


"Ileran.? Siapa yang ileran.?" Pertanyaan Davina membuat Dave mengulum senyum. Entah sampai kapan istrinya itu akan menutupi kehamilan darinya. Padahal tanda-tanda yang terlihat, sudah cukup membuktikan kalau Davina memang sedang mengandung.


Dan. sekarang Dave meyakini tentang sindrom couvade itu benar-benar ada.


"Sepertinya berat badan kamu bertambah,," Kata Dave sembari memakaikan sweater untuk Davina. Dia memperhatikan dengan seksama, pipi Davina yang sedikit lebih berisi, juga area pinggangnya yang terasa penuh saat dia merangkulnya tadi.


"Kamu pasti makan dengan baik. Tidak sepertiku yang kesulitan makan karna lebih sering muntah saat melihat makanan berat." Curhatnya sembari menggandeng tangan Davina dan membawanya keluar apartemen.


Davina hanya menatap Dave tanpa menanggapi ucapannya. Mendengar penuturan Dave tentang hal itu, membuat Davina merasa kasihan. Pasti sangat tersiksa kalau harus mengalami mual dan muntah yang berkelanjutan. Tak seperti dirinya yang hanya mual setiap pagi saja, tapi selesai muntah dia bisa makan dengan baik tanpa merasakan mual lagi. Jadi bebas makan makanan berat setelah melewati jam sarapan.


...****...


"Sebanyak ini.?" Mata Davina terus membelalak setiap kali Dave memasukkan es krim ke dalam troli belanjaan. Dave mengambil 3 cup sekaligus untuk setiap 1 jenis es krim yang sama. Dan ada 7 jenis es krim yang di ambil oleh Dave. Itu artinya ada 21 cup es krim ukuran sedang yang akan di beli oleh Dave.


"Kita akan menghabiskannya bersama untuk 1 minggu ke depan." Jawab Dave santai.


"Tapi terlalu banyak Om,," Protesnya.


"Tidak banyak kalau untuk stok 1 minggu, apalagi kita berti,, maksudku kita berdua yang memakannya." Tutur Dave. Dia lalu mendorong troli itu ke arah kasir. Davina mengikuti di belakang sambil terus memikirkan ucapan Dave yang tadi seperti akan mengatakan bertiga.


"Apa Om Dave sudah tau.? Mungkinkah Mama Sandra memberitahu Om Dave tentang kehamilanku."


Batin Davina dalam hati.


Dia bukan tidak mau memberitahukan kehamilan itu pada Dave. Dia masih butuh waktu untuk melupakan semuanya dan seolah tak pernah terjadi sesuatu antara dia dan Dave.

__ADS_1


Karna jika dia ingin memulai dari awal dan memberitahukan tentang kehamilannya, artinya dia dan Dave harus kembali menjalani pernikahan seperti sebelumnya.


Saat ini keduanya sudah kembali ke apartemen. Mereka hanya membeli es krim dan bahan makanan yang di inginkan oleh Davina saja. Setelah itu memilih untuk langsung pulang agar es krim yang mereka beli tidak mencair.


"Kamu mau maka yang mana dulu.?" Tawar Dave. Dia menumpukan es krim itu di atas meja makan sebelum menyimpannya di dalam freezer.


Dengan malu-malu, Davina mengambil salah satu es krim yang ada di hadapannya.


Dave yang melihat Davina tengah menahan malu, pura-pura tidak melihatnya dan langsung memasukan semua es krim itu ke dalam freezer. Lalu ikut bergabung dengan duduk di samping Davina yang sejak tadi sudan menyantap es krim itu.


"Enak.?" Tanya Dave saat Davina baru saja menyantap es krim untuk kesekian kalinya. Davina menjawab dengan anggukkan lantaran mulutnya di penuhi es krim.


Dia lalu menggeser cup es krim itu ke depan Dave, secara tidak langsung menyuruh Dave untuk mencicipi sendiri es krim itu.


"Aku tidak mau makan es krim dari tempatnya. Bagaimana kalau aku minta es krim dari mulutmu saja.?"


Setelah mengatakan itu, Dave langsung menyambar bibir Davina.


Karna kaget dengan gerakan Dave yang tiba-tiba, Davina reflek membuka sedikit mulutnya dan hal itu justru memudahkan Dave untuk mencicipi es krim yang masih ada di dalam mulut Davina.


Dave meng -sapnya, memindahkan semua es krim itu kedalam mulutnya tanpa sisa. Bahkan membersihkan sisa-sisa es krim yang ada di sudut bibir Davina.


Davina sudah memukul berkali dada Dave namun tak kunjung melepaskan ciumannya.


"Om,,!!" Pekik Davina setelah Dave melepaskan ciumannya. Ciuman itu berakhir setelah es krim di dalam mulut Davina habis tak tersisa.


"Yang ini lebih enak." Kata Dave dengan senyum yang mengembang sempurna di wajahnya.

__ADS_1


...***...


Jangan lupa di vote😊


__ADS_2