Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 54


__ADS_3

“Om, aku serius. Aku mau kita cerai saja.!” Seru Davina setelah cukup lama diam.


Dia sengaja diam untuk memberikan Dave waktu agar menanggapi ucapan sebelumnya. Tapi Dave tak kunjung memberikan tanggapan sampai akhirnya membuat Davina geram dan kembali mengutarakan keinginannya. Pernikahan ini tak akan berarti apapun jika Dave masih bersikap kasar dan dingin padanya. Dave juga tak mau mendengarkan penjelasan dari Davina, sedangkan Davina sudah berusaha untuk meluruskan kesalahpahaman itu.


Lagi-lagi Dave hanya melirik tajam. Seperti sulit mengeluarkan suara indahnya yang seksi walaupun dalam mode dingin dan marah.


“Aku sudah berusaha untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi Om sendiri yang nggak mau tau. Om hanya percaya dengan apa yang terlihat di depan mata, tanpa mau mendengarkan kejadian sebenarnya.”


Davina mengucapkan kata demi kata sembari menarik nafas dalam. Pernikahan seperti ini tentu saja bukan pernikahan yang dia impikan.


Sejak Dave mengutarakan niat untuk menikahinya, Davina sudah membayangkan pernikahan yang dipenuhi dengan cinta dan kebahagiaan. Mengingat saat itu Dave juga memiliki perasaan padanya. Namun yang terjadi tak sesuai harapan. Masalah itu tiba-tiba datang dan merenggut kebahagiaan yang seharusnya sudah dirasakan oleh Davina saat ini.


“Bianca sengaja menjebakku seolah-olah tidur dengan Justin dan dia mengirimkan foto itu pada Arga.”


“Karna Bianca ingin membuat Arga berhenti mengejarku.”


“Tapi sampai saat ini aku belum mengerti kenapa Bianca bekerjasama dengan Justin. Dan laki-laki itu malah menghilang,,”


Tatapan mata Davina menerawang jauh. Dia mencoba untuk memecahkan misteri ini sejak pertama kali Dave menunjukkan foto dirinya bersama Justin di atas ranjang.


Kalau memang Justin sengaja menjebak agar bisa mendapatkannya, bukankah seharusnya Justin tak pergi begitu saja malam itu.?


Tapi yang ada malah menghilang tanpa jejak.


Lalu apa untungnya Justin melakukan semua itu.?


Dave sempat melirik Davina. Menatap dengan dahi berkerut. Terlihat sedang memikirkan baik-baik apa yang di ucapkan oleh Davina.


Sejujurnya dia juga merasakannya kejanggalan atas menghilangnya Justin yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya.


Seharusnya memang Justin tak pergi dan bersikeras untuk menikahi Davina, jika memang itu tujuan dari penjebakan yang dilakukan olehnya.


Tapi karna dia sudah terlanjur melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, Dave tak bisa menerima penjelasan dari siapapun sebelum dia mendapatkan buktinya sendiri dan menyeret Justin ke hadapannya.


Namun pembicaraan yang baru saja dia dengar saat di kafe, sedikit memberikan titik terang atas apa yang sebenarnya terjadi malam itu.


Davina bergegas turun setelah Dave memarkirkan mobilnya di basemen. Dia memilih berjalan mendahului Dave.


“Om nggak perlu repot-repot mengantarku ke atas. Cukup berikan saja akses card padaku dan setelah itu Om bisa kembali ke kantor.!" Ujar Davina tanpa menatap Dave. Namun dia tau kalau Dave sedang mengikutinya di belakang. Karna langkah kakinya terdengar sangat dekat.


“Saya nggak suka di atur-atur." Sahut Dave dengan suara berat.

__ADS_1


Davina langsung menoleh, dia terpancing ucapan Dave.


"Om pikir aku suka di atur-atur.?!“ Timpal Davina kesal.


Dave bilang tidak suka di atur, tapi pria itu justru selalu mengatur seenaknya. Atau lebih tepatnya memaksa Davina untuk menuruti apa yang Dave inginkan.


“Kamu memang harus di atur.” Jawab Dave.


" Dia atur saja masih melanggar, apa lagi kalau nggak di atur." Nada bicara Dave terdengar sedikit kesal. Semua itu karna Davina sulit mendengarkan ucapannya. Tidak mau menuruti aturan yang sudah dia buat.


Entah sudah diperingatkan berapa kali untuk tidak pergi ke club, tapi Davina masih saja melanggarnya.


Dave juga sudah mengingatkan Davina agar tidak ikut campur dengan masalah yang sedang menimpa Bianca.


"Lagipula aturan yang saya buat juga demi kebaikan kamu, bukan untuk saya.!" Tegas Dave.


"Kalau kamu mendengarkan ucapan saya, apa semua ini akan terjadi.?" Tanya Dave dengan tatapan tajam. Bukannya mau menyudutkan atau menyalahkan Davina sepenuhnya, tapi kalau mau berfikir logis, kejadian buruk itu tak akan menimpa Davina jika mendengarkan ucapan Dave.


Davina seketika terdiam. Dia sadar kalau ucapan Dave memang benar. Dan itu membuatnya merasa bersalah sekaligus menyesal.


"Cepat masuk,," Ucap Dave setelah membuka pintu apartemen.


"Om mau kembali ke kantor.? Terus aku akan dikurung disini.?" Tanya Davina cemas.


Davina menghela nafas kasar.


"Aku bukan hewan peliharaan, Om.! Kenapa harus di kurung segala.? Bagaimana kalau aku juga butuh sesuatu.?" Protesnya tanpa mai melangkahkan kaki untuk masuk ke apartemen.


Dave benar-benar kejam kalau dia tega mengurungnya seorang diri di dalam apartemen.


Kalau mengurung Davina bersamanya di dalam, mungkin tak akan terlihat sekejam ini.


"Bukan soal hewan peliharaan atau bukan, saya harus memastikan kalau kamu diam disini. Itu jauh lebih aman daripada kamu bebas keluar dan berakibat fatal.!"


"Turuti saja perkataan saya. Jangan membantah.!" Tegas Dave. Dia lalu menggandeng Davina agar mau masuk ke dalam apartemen.


"Aku nggak mau Om.! Jangan di kunci pleaseee,,,!" Teriak Davina memohon. Tapi Dave menghiraukan teriakannya dan bergegas keluar untuk menutup dan mengunci pintu.


"Saya akan segera pulang." Itu kalimat terakhir yang keluar dari mulut Dave sebelum pintu tertutup dan tak bisa dibuka oleh Davina.


"Om Dave.!! Kamu jahat sekali.!!" Geram Davina sembari menendang pintu apartemen sekuat tenaga.

__ADS_1


"Dasar Om tua menyebalkan.!" Cibirnya. Untuk kedua kalinya Davina kembali menendang pintu.


Dave yang mendengar suara gaduh dari dalam, hanya menggelengkan kepalang, setelah itu buru-buru pergi untuk menyelesaikan urusan penting.


...****...


"Sial.!! Kakak tidak berguna.!" Jasmine membanting ponselnya ke lantai hingga ponsel itu hancur.


Emosinya meluap setelah mengubungi nomor ponsel Justin sampai puluhan kali namun tetap tidak tersambung.


Sudah hampir 1 minggu Justin menghilang tanpa kabar. Tepatnya setelah menjebak Justin dan Davina malam itu.


"Justin, bangun,,!"


Jasmine menggoncang pelan lengan saudara kembarnya. Laki-laki itu tak sadarkan diri karna pengaruh obat tidur yang dia berikan pada Justin.


Obat tidur dengan dosis rendah itu hanya akan membuat seseorang tertidur pulas dalam 1 atau 2 jam saja.


Setelah cukup lama berusaha membangunkan Justin, akhirnya laki-laki itu mulai membuka matanya. Dia terkejut begitu bangun dan mendapati hanya memakai celana pendek saja.


Tak hany itu, keberadaan gadis cantik di atas tempat tidur juga semakin membuat Justin terkejut. Terlebih, Justin tau kalau Davina dalam keadaan tidak sadar.


"Jasmine,, apa yang kamu lakukan.?!" Justin menatap tajam. Dia turun dari ranjang dan berusaha memunguti pakaiannya.


"Stop Jautin.! Jangan pakai dulu baju kamu."


"Ini kesempatan kamu untuk bisa menikahi Davina." Jasmine mencegah Justin agar tidak memunguti bajunya.


"Kami harus menunggu sampai Davina bangun, bilang padanya kalau kamu akan bertanggungjawab."


"Nikahi.perempuan itu karna dia dan Dave diam-diam memiliki hubungan.!" Sorot mata Jasmine berubah penuh kemarahan dan kebencian. Dia sudah mengetahui semua itu sejak beberapa minggu yang lalu. Berawal dari kecurigaan, dia mulai memata-matai keduanya hingga akhirnya kecurigaan itu terbukti.


"Jangan gila Jasmine.! Aku memang sempat menginginkannya, tapi sekarang ada hal yang jauh lebih penting dari dia."


"Aku nggak akan pernah menikahi Davina. Lagipula aku melakukan apapun." Justin menepis tangan Jasmine, dengan cepat mengambil semua pakaiannya dan memakainya dengan buru-buru.


Dia kemudian pergi begitu saja dari sana, tak mau menghentikan langkah walaupun Jasmine terus memanggilnya.


"Kak, bagaimana rencana kita.?" Tanya Bianca saat melihat Jasmine lewat di depannya.


"Dasar bodoh.! Kamu nggak lihat Justin pergi.!" Bentak Jasmine.

__ADS_1


"Cepat urus temanmu itu.?!" Serunya kemudian berlalu untuk kembali mengejar Justin.


__ADS_2