
"Kenapa berhenti kak.?" Tanya Davina saat tiba-tiba Farrel menepikan mobilnya, padahal mereka baru setengah perjalan menuju tempat party.
"Ada telfon,," Jawabnya tanpa menatap Davina karna sibuk merogoh ponsel dari saku celananya. Ponsel yang sejak tadi terus bergetar padahal tadinya berniat untuk tidak mengangkatnya.
Tapi karna terus bergetar berulang kali, membuat Farrel geram dan terpaksa harus mengangkatnya.
"Tadi siang mengusirku, sekarang malah menelfon." Gerutunya setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel adalah nama Dave.
"Ada apaan Om.? Gue lagi kawal istri Om nih,," Serunya begitu panggilan tersambung.
Mendengar Farrel menyebut Om, Davina semakin fokus menatapnya.
Dia selalu ingin tau apa yang mereka bicarakan, padahal sedang berusaha untuk tidak peduli lagi dengan apapun yang berhubungan dengan Dave.
Davina takut kalau mereka berdua diam-diam bekerja sama untuk membuatnya kembali pada Dave dan membatalkan gugatan perceraian terhadap Dave.
Belajar dari yang sudah-sudah saat Dave dan Farrel bekerja sama untuk membuatnya tinggal bersama di apartemen. Davina tidak mau kecolongan lagi kali ini.
"Nyerah juga akhirnya.?" Farrel mengulas senyum meledek.
"Memang lebih baik tinggal di rumah sakit sampai benar-benar sembuh, jadi aku nggak perlu repot-repot jengukin Om tiap hari ke apartemen." Farrel terkekeh. Dia terlihat senang mendengar kabar buruk dari Dave yang akhirnya terpaksa di larikan ke rumah sakit karna kondisi kesehatannya semakin menurun.
Davina terdiam, ekspresi wajahnya terlihat cemas meski ragu antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Sulit untuk percaya sepenuhnya kalau Dave benar-benar berada di rumah sakit.
"Iya bawel.! Lagi sakit aja masih bisa ngotot.!" Farrel menggerutu lalu segera mematikan sambungan telfonnya.
"Kita ke apartemen Om Dave dulu sebentar, dia minta dibawakan baju ganti." Ujar Farrel sembari menyimpan ponselnya dan bergegas melajukan mobilnya.
"Untuk apa di bawakan baju ganti.?" Davina bertanya dengan ekspresi datar dan nada bicara yang tenang. Dia ingin menunjukan ketidakpeduliannya terhadap Dave.
"Om Dave harus di rawat, dia minta di bawakan baju ganti." Jawab Farrel.
__ADS_1
"Kamu yakin nggak akan peduli lagi sama dia.?"
"Om Dave benar-benar sakit, mungkin dia sangat menyesal sampai mengabaikan kesehatannya."
Nada bicara Farrel terdengar serius, begitu juga dengan tatapan sekilasnya pada Davina.
Untuk pertama kalinya Davina mendengar dan melihat Farrel begitu serius saat bicara dengannya.
"Om Dave memang salah, tapi coba berikan kesempatan lagi padanya. Aku liat dia benar-benar mencintai kamu dan ingin mempertahankan pernikahan kalian."
"Sekali-kali jangan menghindar darinya, bicarakan lagi baik-baik dari hati ke hati."
Dari awal sampai akhir kalimat, Farrel mengatakannya dengan nada bicara yang serius, tapi setelah itu dia terkekeh. Merasa geli sendiri dengan apa yang baru saja dia ucapkan karna terlalu bijak.
"Ya ampun,, sepertinya aku jadi gila karna tau permasalahan kalian dan berada di tengah-tengah kalian." Gumamnya sembari menahan tawa.
Dia bahkan bingung kenapa bisa berbicara seperti itu.
"Aku turun disini saja. Kak Farrel urus Om Dave saja, aku akan naik taksi ke restoran." Pinta Davina. Dia mencari alasan agar tidak perlu bertemu dengan Dave. Karna jika Farrel mengajaknya mengambil baju ganti milik Dave, sudah pasti Farrel juga akan membawanya ke rumah sakit.
"Nggak bisa.! Enak aja mau pergi sendiri.!" Tegur Farrel.
"Kalau kamu lecet sedikit saja, aku bisa di gantung sama Om Dave dan Papa." Keluhnya. Farrel terus melajukan mobilnya tanpa berniat menurunkan Davina di jalan.
"Tapi kak,,,
"Udah jangan banyak protes. Atau aku laporin ke Papa biar kamu nggak bisa dateng ke party." Ancam Farrel tegas. Davina seketika melotot kesal.
Hobby Dave yang suka mengancam di turunkan pada Farrel.
...***...
"Kamu saja yang siapin baju gantinya, aku mana tau letak baju dan pakaian da -lamnya dimana." Suruh Farrel begitu mereka masuk ke dalam apartemen.
__ADS_1
Davina hanya bisa menghela nafas tanpa berniat menolak karna tidak mau membuang waktu hanya untuk berdebat.
Dia masuk ke kamar Dave. Pandangannya langsung tertuju pada ranjang yang sedikit berantakan dan beberapa bungkus obat di atas nakas.
Langkah Davina semakin dekat, membuat wanita itu menyipitkan pandangan saat melihat bingkai foto yang tergeletak di atas nakas.
Bingkai yang sebelumnya tidak ada di sana saat terakhir kali dia meninggalkan apartemen.
Davina meraih bingkai itu, kini dia bisa melihat isi di dalamnya.
Sesaat terdiam, tapi kemudian tersenyum kecut dan segera meletakkan kasar bingkai foto itu di atas nakas.
Semua itu hanya membuatnya ingat pada hal yang menyakitkan.
Davina keluar dari kamar dengan membawa beberapa baju dan perlengkapan milik Dave yang di masukkan kedalam tas.
"Ayo kak, aku sudah terlambat," Davina meminta Farrel agar buru-buru pergi dari apartemen Dave karna dia harus menghadiri undangan ulang tahun temannya.
"Kamu masih saja memikirkan untuk pergi,," Kata Farrel sambil menggelengkan kepalanya. Heran dengan Davina yang bersikeras untuk tidak bertemu dan berurusan dengan Dave lagi, sekalipun saat ini Dave sedang sakit.
Davina justru lebih mementingkan untuk menghadiri acara ulang tahun temannya di banding melihat keadaan Dave saat ini.
"Lalu apa yang harus aku pikirkan selain itu.? Bukannya kak Farrel tau sendiri kalau aku memang ingin pergi ke sana." Jawab Davina acuh. Dia berjalan cepat mendahului Farrel.
Masuk ke dalam mobil dan memilih untuk diam dengan membuang pandangan ke luar jendela.
Davina enggan berdebat lagi dengan Farrel hanya karna mempersoalkan tentang Dave.
...****...
...Yang belum vote, buruan langsung vote setelah baca 🤣...
...Jangan sampe nggak vote ðŸ¤...
__ADS_1