
Jaka pun menjalankan rencananya.
Dia bergegas mengambil sebotol air, di motornya. Lalu menyiram muka 3 orang, yang pingsan, sampai mereka sadar.
"Maafin kami Bang, jangan hajar kami lagi Bang.
Kami tobat Bang," kata mereka ber-3.
"Siapa nama kalian?" ucap Jaka tegas.
Saya Nurdin Bang.
Saya Lubis Bang.
Saya Darno Bang.
"Namaku Jaka Pambudi. Nanang apa benar itu nama mereka?" tanya Jaka tegas.
"Iya Bang benar, itu nama mereka," jawab Nanang
"Kumpulkan KTP kalian, dan serahkan padaku! Bentak Jaka.
"Iyaa Bang." jawab mereka ber_4. Mereka pun terpaksa, mengeluarkan KTP dari dompet, dengan menahan rasa sakit di seluruh tubuh.
"Ini Bang KTP nya," jawab mereka ber_4 serempak, sambil menyerahkan KTP.
"Aku tidak akan melaporkan kalian semua ke polisi. Tapi, ada empat persyaratan, yang harus kalian patuhi, dan laksanakan." Kata Jaka tegas.
Mereka pun saling menoleh diantara mereka, lalu saling mengangguk.
"Apa syaratnya Bang?" tanya mereka berempat bersamaan.
Pertama,
menjaga kehormatan diri sendiri dan keluarga.
Kedua,
selalu melakukan kebajikan, dan tidak melakukan kejahatan.
Ketiga,
selalu patuh, dan tidak akan pernah menentang ku.
Keempat,
selalu menjaga solidaritas, dan kekompakan.
Apakah kalian siap, dan sanggup memenuhi persyaratan ku!" kata Jaka dengan tegas dan lugas.
"Kami siap Bang," kata mereka kompak.
"Kalian tadi kesini naik apa?" sahut Jaka.
"Kami naik motor Bang." Kata Nanang
"Kamu bisa mengendarai motor Nang?" tanya Jaka.
"Bisa Bang," jawab Nanang.
"Ini tugas pertama mu Nang! ini duit
Rp 1.000.000.-. Bawa mereka ke puskesmas, atau berobat, kalo ada apa-apa telpon aku!" kata Jaka, sambil menyodorkan uang ke Nanang.
"Iya Bang, saya akan membawa mereka. Saya berjanji Bang, mulai detik ini, saya akan meninggalkan semua pekerjaan, dan perbuatan tidak benar. Dan saya akan memulai segala sesuatunya dari nol bersama Bang Jaka. Terima kasih Bang," ucap Nanang, sambil menangis, karena sudah diberikan kesempatan bertobat.
"Kami juga Bang, akan memulai segala sesuatunya dari nol bersama Bang Jaka." Sahut Nurdin, Lubis,dan Darno bersamaan.
"Oke kalo gitu, aku tunggu kabar, dari kalian kalo sudah sembuh, dan sehat." kata Jaka.
Mereka pun bertukar nomor HP. Dan, Jaka pun pamit pulang ke rumah nya.
Dalam perjalanan pulang, Jaka tidak menyadari bahwa dia berpapasan dengan Gatot dan anak buahnya, yang sedang berboncengan.
"Bang, itu target kita kok balik arah. Berarti gagal rencana kita," kata anak buahnya.
"Kayaknya sih gagal," sahut Gatot.
Mereka pun bergegas menuju ke markas, tempat ngumpul kelompoknya.
"Kok sepi Ted! Pada kemana anak-anak yang lain?" kata Gatot, sambil menelpon Nanang.
Panggilan telpon pun masuk.
"Iya Bang, nggak ada orang di markas," jawab Tedi.
"Dimana kamu Nang! Kamu sama anak-anak yang lain nggak?" kata Gatot.
"Maaf Bang kami gagal, dan kami lagi berobat di Puskesmas," jawab Nanang polos.
"Bang, kami sudah berunding, dan memutuskan, bahwa kami mau tobat Bang," sambung Nanang.
"Apaa! Kalian semua serius mau berhenti, dan bertobat!" sahut Gatot dengan nada marah.
__ADS_1
"Iya Bang. Kami kapok, barusan kami dihajar sampai babak belur. Orang yang kami temui, ternyata jago beladiri Bang," jawab Nanang.
"Kami tadi mau dilaporkan ke polisi Bang, kami pun ketakutan, kalo sampe masuk penjara, mau makan apa anak Isti kami." Sambung Nanang.
"Kurang ajar!" sahut Gatot yang emosi, tanpa menyadari siapa yang benar, dan siapa yang salah.
"Ted kita balik arah, dan kejar orang tadi." Sambung Gatot dengan marah.
"Iyaa Bang," sahut Tedi, sambil memutar motor yang dikendarainya.
"Ayoo cepat, ngebut Ted! Kejar orang itu sampai dapat!" perintah Gatot.
Akhirnya Gatot dan Tedi hampir mendekati, dan hampir memotong motor Jaka.
"Woy, berhenti kamu, teriak Gatot.
"Jaka pun menghentikan motornya, dengan santai. Ada apa Bang?" tanya Jaka polos.
"Kamu orang yang telah menghajar, ke-4 anak buah ku kan!" sahut Gatot.
"Oh ternyata, Abang ini pimpinan mereka. Iya Bang aku yang menghajar ke-4 anak buah mu." Ucap Jaka dengan polosnya.
"Kurang ajar kamu!" kata Gatot marah, dan berniat menyerang Jaka.
"Sabar Bang, jangan disini, terlalu rame disini nggak enak diliat orang." Sahut Jaka santai.
Gatot pun melihat sekelilingnya, ada banyak motor dan mobil berhenti, karena mereka menghadang di tengah jalan.
"Ikuti aku Bang!" sambung Jaka tegas.
"Oke! Kamu duluan," kata Gatot dengan kesal, dan penasaran.
"Ada apa dengan orang ini, digertak nggak ada takutnya," gumam Gatot sambil bermotor di bonceng Tedi, dan mengikuti Jaka.
Jaka pun langsung mengarahkan motornya ke tengah-tengah kebun sawit, yang diserahkan Papa Hadi kepadanya.
"Tempat ini sunyi dan sepi, pas untuk tempat unjuk gigi," gumam Jaka sambil tersenyum jahil.
"Mengapa orang ini membawa ku ke kebun sawit Pak Hadi." Gumam Gatot penasaran.
Jaka pun menghentikan motor dan berjalan menjauhi motornya. Tak lama Gatot dan Tedi pun memarkirkan motornya.
"Ayoo Bang, ke sini," ajak Jaka.
"Sekarang! Terserah kalian berdua, mau apa pun aku ladeni!" kata Jaka, sambil tersenyum jahil.
Pak Seno yang penasaran, karena melihat Jaka masuk ke kebun sawit, di ikuti oleh Gatot, dan Tedi, pun bergegas menyusul mereka bermotor.
"Ada apa dengan Mas Jaka dengan mereka ya," gumam Pak Seno.
"Ted, kamu diam aja disini. nggak usah ikutan!" kata Gatot tegas.
"Iya Bang," jawab Tedi.
Dan tanpa ba-bi-bu Gatot langsung menendang Jaka dengan kesal.
"Terima ini!" teriak Gatot.
Jaka pun yang telah bersiap-siap, hanya bergeser sedikit, ke kiri. Untuk mengelak dari serangan itu.
"Kurang lincah Abang," kata Jaka sambil tersenyum manis.
"Kampret kamu ya! Sekarang terima ini!" kata Gatot yang kesal, karena merasa dirinya di remehkan, sambil mengayunkan tinjunya, bertubi-tubi kearah Jaka.
Jaka pun langsung menangkis serangan itu, dan menangkap, serta menarik tinju terakhir, lalu membanting Gatot.
Gee...
Dhe...
Buug...
Gatot pun terhempas dengan keras, dan beranjak bangun, sambil memegang pinggulnya.
"Kenapa Bang, encok ya?" seloroh Jaka sambil tersenyum manis.
"Abang nggak apa-apa kan?" tanya Tedi.
"Serang dia!" perintah Gatot ke Tedi.
Tedi pun mengeluarkan pisau lipatnya. dan mengayun-ayunkan pisau tersebut ke arah Jaka.
"Eehmm... Eehmm.... Pakai senjata ya," seloroh Jaka, sambil tersenyum jahil.
"Jangan suka main senjata tajam, nanti terluka." Sambung Jaka, dengan nada mengejek.
"Kamu, emang harus di habisin," jawab Tedi emosi.
"Ayoo maju! Jangan ngomong aja Bang!" sahut Jaka.
Tedi pun dengan lincah menyerang Jaka.
Shuut...
__ADS_1
Shuut...
Shuut....
Jaka pun langsung menghindari serangan pertama Tedi.
"Masih kurang lincah Bang!" seloroh Jaka.
Tedi pun marah, dan langsung menyerang lagi, dengan pisau lipatnya.
Shuut...
Jaka pun mengelak ke samping kiri.
Hiaat...
Tedi menyerang lagi.
Dengan lincahnya, Jaka mengelak, kesamping kanan, dari serangan. Langsung maju, menarik tangan Tedi, dan menghempaskan, tangan itu ke pahanya, lalu merebut pisau, dan langsung menghujamkan, pisau lipat itu, ke bahu Tedi.
Tedi pun mengerang kesakitan.
Aaaargh...
Terlihat pisau menancap, di bahunya, yang langsung mengeluarkan darah.
Jaka pun langsung mundur, mengatur nafas, dan kuda-kuda nya.
Ayoo maju! Serang lagi! ucap Jaka, dengan emosi.
Tapi Jaka berusaha meredam emosi nya. Sambil menatap marah, ke arah Gatot dan Tedi.
Gatot dan Tedi pun melihat ke arah Jaka sebentar, lalu menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Jaka.
"Maafkan kami Bang!" kata Gatot, dan Tedi bersamaan.
Pak Seno bergegas menuju motornya, dan menyalakan motor itu, lalu mengarahkan motornya mendekat ke arah Jaka.
"Ada apa ini?" tanya Pak Seno.
"Nggak ada apa-apa kok Pak, cuma nge_tes fisik aja," jawab Jaka, sambil tersenyum ramah.
"Kenapa kalian berdua menyerang Mas Jaka," ucap Pak Seno kesal, sambil menampar pipi Gatot, dan Tedi, sampai mengeluarkan darah.
"Maafkan kami Pak Seno," jawab mereka berdua bersamaan, sambil meringis, menahan sakit, habis ditampar oleh Pak Seno.
"Kita laporkan ke polisi aja Mas," ucap Pak Seno emosi.
"Tolong Bang? Pak Seno, tolong jangan laporkan kami ke polisi. Kami nggak mau masuk penjara," kata Gatot, dan Tedi memelas.
"Nggak usah repot-repot Pak Seno, biarkan ini menjadi urusan saya," jawab Jaka ramah, dan tegas.
"Baiklah Mas, kalo Mas Jaka maunya begitu," sahut Pak Seno pasrah.
"Terus gimana nasib kami Bang?" tanya Tedi memelas.
"Mulai detik ini, kalian berdua harus mematuhi semua perkataan, dan perintah ku!" jawab Jaka tegas dan lugas, sambil menjelaskan panjang lebar, persyaratan yang sama, seperti yang disebutkan nya, kepada Nanang dan ke-3 temannya.
Mereka berdua saling melihat satu sama lain, lalu menganggukkan kepala.
"Baiklah Bang, kami siap mengikuti semua perkataan, dan perintah Abang," sahut mereka berdua.
"Bagus! Ini uang untuk kalian. Bawa dia ke puskesmas atau berobat." Kata Jaka tegas, sambil menyodorkan uang
Rp500.000.
"Dan kalo ada apa-apa telpon aku," sambung Jaka.
"Baiklah Bang," jawab Gatot, sambil menundukkan kepalanya.
Mereka lalu bertukar nomor telepon, dan Gatot pun bergegas, membawa Tedi berobat.
Akhirnya, cuma tersisa Jaka, dan Pak Seno ditempat itu.
Jaka pun memperhatikan, gerak-gerik Pak Seno, yang terlihat penasaran, seperti mau menanyakan sesuatu.
Setelah melihat pertarungan tadi, Pak Seno memang terlihat sedang melamun.
"Sepertinya Jaka ini memang anak mas Setyo Adjie Pambudi yang hilang," gumam Pak Seno.
"Ada apa Pak Seno? Apakah ada yang mau Pak Seno bicarakan?" ucap Jaka ramah.
Pak Seno agak terkejut, dari lamunannya. Setelah mendengar perkataan Jaka barusan.
"Apa Mas? Tolong di ulangi. Saya nggak dengar tadi," tanyanya sopan.
"Saya tadi bertanya ke Pak Seno. Ada apa Pak? Apakah ada yang Pak Seno mau bicarakan," ulang Jaka ramah.
"Apakah Mas Jaka tau, dan kenal, dengan orang yang bernama Setyo Adjie Pambudi?" tanya Pak Seno penasaran.
Jaka pun terkejut, mendengar pertanyaan, Pak Seno barusan.
Tapi dia tetap berusaha terlihat tenang.
__ADS_1