
Mereka semua pun makan siang bersama.
Jaka, Rena, Dira dan Sania dimeja satu.
Ayah, Bunda, Ibu dan Dani dimeja dua.
Jarko dan Fendi dimeja tiga.
Setelah menyediakan minuman, untuk meja satu, dua dan tiga. Dini dan kelima orang temannya, melaksanakan tugas tambahan mereka, di meja 4 dan meja 5.
Mereka berenam pun makan siang dengan lahap dan bahagia. Bisa dikatakan mereka baru sekali seumur hidupnya, memakan makanan Hotel berbintang seperti itu.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun, menikmati makan siang mereka.
Jaka yang telah selesai makan pun, agak bingung mencari tempat untuk mengatur nafasnya.😕😕
"Fendi apakah di ruangan ini ada tempat untuk mengatur nafas?" tanya Jaka.
"Maksudnya Bang?" tanya Fendi bingung.😕😕
Jaka pun memberi kode dengan tangannya, kalo dia ingin merokok.
"Oh, Abang mau merokok. disana Bang, di balkon." Kata Fendi sambil, menunjuk ke arah balkon yang dimaksudnya.
Jaka pun melihat ke arah Dini, yang sudah selesai makan juga.
"Sayangku, cintaku, dambaan hatiku, aku ngatur nafas dulu ya di balkon, kalian nikmati dulu makannya, sekalian aku ada yang mau ditanyakan ke Dini," kata Jaka tegas sambil membawa kacamata hitamnya.
"Iya Mas," jawab Dira, Rena dan Sania bersamaan tanpa curiga.
"Dini, kamu sudah selesai makannya?" kata Jaka tegas.
"Sudah Pak, saya sudah selesai." Jawab Dini tegas, dan langsung berdiri disamping kursi meja makan.
"Tolong kamu bawakan minuman saya, ke balkon ya," kata Jaka tegas.
"Siap Pak, akan saya bawakan minumannya," sahut Dini tegas dan ramah.
Jaka pun berjalan menuju balkon, sambil mengambil sebatang rokok kreteknya, dan meletakkan di bibirnya.
__ADS_1
Setelah sampai di balkon. Jaka pun melepaskan jaketnya, lalu duduk di sofa yang ada di balkon, dan menyalakan rokoknya.
"Dini, sekalian minuman kami juga ya," kata Fendi.
"Iya Pak," sahut Dini ramah.
Jarko dan Fendi pun bergegas ke balkon, mengikuti jejak Sang Abang. Mereka pun duduk didekat Jaka.
"Waaah, Bang Jaka keren banget." Kata Fendi dan Jarko bersamaan.
"Berarti Bang Jaka, sudah dari ruangan khusus ya?" tanya Fendi.
🤫🤫 Jaka memberi kode.
"Jangan keras-keras, cukup kita aja yang tau," kata Jaka.
"Oke Bang," balas Fendi dan Jarko bersamaan.
"Emangnya ada apa Bang, kok Abang seperti mau nanya sesuatu dengan Dini? Abang nggak cari istri lagi kan?" tanya Jarko penasaran.
"Liat aja nanti, lagian Dini buat kamu aja. Daripada kamu jadi jomblo ngenes," kata Jaka sambil tersenyum.
"Kayaknya ada yang lagi ngarep banget nih," seloroh Fendi.
"Bisa aja kamu Fendi," sahut Jarko dengan wajah tersipu.
Dini pun datang dengan membawa nampan berisi minuman Jaka, Jarko, dan Fendi, yang susunannya sudah diaturnya, agar tidak tertukar. Dia pun meletakkan minuman dimeja.
"Silahkan Bapak-bapak," kata Dini sopan. Walaupun agak kaget, dengan penampilan Jaka, yang memakai rompi yang ada 2 pistolnya.
"Dini, kamu ambil minuman mu, trus duduk disini. Ada yang mau saya tanyakan!" kata Jaka tegas.
"Siap Pak," jawab Dini tegas dan sopan.
Dini pun bergegas mengambil minumannya dan kembali ke balkon lagi.
"Duduk!" kata Jaka tegas.
"Terima kasih Pak, apa yang mau Bapak tanyakan, kalo saya boleh tau," kata Dini sopan, sambil melirik ke arah Jarko.
__ADS_1
"Pendidikan terakhir kamu, apa Dini?" tanya Jaka .
"Sa_yaa tamatan S1 perhotelan Pak," jawab Dini grogi.
"Bagaimana menurutmu tentang Hotel Grand Republik kita? Santai aja Dini, anggap yang nanyain ini Abang kamu." Kata Jaka sambil tersenyum.
"Emangnya boleh begitu Pak?" sahut Dini terkejut.
"Ya boleh dong, emangnya ada yang ngelarang? Nggak ada kan, lagian kayaknya sebentar lagi juga kamu bakal jadi Adikku." Kata Jaka.
"Menurutku, hotel kita sudah berjalan dengan baik Bang, tapi masih butuh beberapa perbaikan, untuk bisa menjadi lebih baik lagi." Kata Dini tegas. Sambil melirik ke arah Jarko.
"Nah gini kan lebih baik, nyantai aja," sahut Jaka sambil tersenyum.
"Maksudnya perkataan Abang tadi, yang sebentar lagi aku bakal jadi Adik Abang? Gimana Bang, aku nggak ngerti," kata Dini penasaran.
"Kamu masih jomblo kan? Atau jangan-jangan kamu, anggota organisasi rahasia ya?" kata Jaka sambil tersenyum jahil. 😉
"Maksudnya Bang? Tapi emang iya sih, aku masih jomblo," sahut Dini.
Jarko tersenyum, mendengar jawaban Dini barusan.
"Bener berarti tebakan ku, kamu anggota organisasi rahasia, yang tidak terdaftar secara resmi. Nama organisasinya Jomblo Ngenes," seloroh Jaka.
"Abang bisa aja," sahut Dini tersipu.
"Aku perhatikan sejak awal masuk ruangan serbaguna tadi, kamu suka curi-curi pandang ke sesama anggota organisasi Jomblo Ngenes?" kata Jaka.😉
"Maksudnya apa Bang?" tanya Dini terkejut. Sambil menundukkan kepalanya, karena malu.
"Lah! Nggak nyambung dia," seloroh Jaka.
"Sampai detik ini pun kalian berdua masih saling curi-curi pandang." Sambung Jaka sambil tersenyum.
Fendi yang mengerti maksud Jaka pun tersenyum.
"Iya Bang, emang dari dulu Bang Jarko, suka kayak gitu. Tampangnya aja yang tegas, dan berwibawa, tapi nyalinya kecil, untuk urusan percintaan Bang," seloroh Fendi.
Yang membuat pipi Jarko merona, dan terdiam tanpa kata.
__ADS_1
Dini pun terkejut, mendengar perkataan Fendi barusan. Tapi Dini tetap menundukkan kepalanya karena malu.