
Setelah hampir satu jam melepas emosinya dengan menangis, Jaka pun bergegas melepaskan pelukannya, dari Bunda dan Ayahnya.
"Terima kasih Ayah, Bunda," ucap Jaka sendu, tapi tidak menangis lagi.
Mungkin, stok air matanya sudah habis.
Dani pun mendatangi Jaka diiringi Edo.
"Ternyata mas Jaka, bisa nangis juga ya," seloroh Dani.🤔🤔
"Mas Jaka yang ku temui pertama kali, macho banget! Tapi yang hari ini kutemui, melow banget, kayak anak gadis yang baru diputusin pacar nya," sambung Dani.😉😉
"Maksud mu gimana Dani?" tanya Rena sambil mengacak-acak rambutnya.
"Ternyata adiknya Mbak ini, memang sudah dewasa. Udah punya pacar belum?" sambung Rena 😉😉
"Mbak Rena, tangan nya di kondisikan dong! Jahil banget, lagian Dani masih jomblo!" ucap Dani kesel.
"Udah dong Ren, seneng banget godain Dani." Ucap Dira.
"Ya iyalah Mbak Dira, kapan lagi coba, aku punya adik cowok, yang bisa di godain kayak Dani." Sahut Rena.😉😉
"Dani maksud omongan mu apa tadi?" tanya Dira penasaran.
"Dulu Mbak, waktu Ibu masuk RSUD Kabupaten AY, yang nganterin aku pulang malam itu Mas Jaka! Mbak, karena nggak ada mobil travel lagi. Alhamdulillah, karena dianterin Mas Jaka, aku selamat sampai di RSUD malam jam 10an." Kata Dani.
"Bukannya jalanan ke daerah AY rawan, kalo malam Dan?" tanya Rena penasaran.
"Iya Mbak, dulu memang rawan penodongan, tapi setelah kami lewati malam itu, hingga saat ini jalan ke AY, sudah nggak rawan penodongan lagi Mbak." Sahut Dani,
"Kok bisa." Sahut Dira.
"Semua gara-gara Mas Jaka Mbak! 4 penodong yang menghadang kami malam itu, dihajar Mas Jaka sampai babak belur, dengan 2 pentungan sekuriti, dan hebatnya lagi Mbak. Dua motor yang di parkir kan ditengah jalan, ditendang Mas Jaka, sampai tebang ke pinggir jalan mbak. Dan Mas Jaka pun mengancam 4 penodong itu dengan gagah. "Awas! Kalo aku masih bertemu dengan kalian lagi, aku akan menghabisi nyawa kalian!" jawab Dani.
"Serius kamu Dan?" tanya Edo.
"Aku sangat serius Mas Edo!" jawab Dani dengan bangga.
Semua orang terkejut, dan tertegun sejenak, setelah mendengar perkataan Dani. Cuma Ayah saja yang tersenyum bangga. Sedangkan Gatot dan Nanang terdiam,sambil melamun membayangkan, kalo mereka berenam sampe dihajar Jaka, seperti motor yang diceritakan Dani barusan.
Jaka masih terdiam dengan wajah sendunya. Dia pun bergegas memasuki ruang tamu, sambil membawa laptop.
"Aku Jaka Pambudi sudah memutuskan bahwa mulai hari ini, aku hanya akan bertindak dibelakang layar untuk semua properti, dan perusahaan, almarhum Papa, aku minta Om dan Tante tetap melakukan aktivitas seperti biasa, di properti dan perusahaan Almarhum Papa. Aku hanya akan turun tangan langsung pada perkebunan, dan lahan. Serta akan merebut kembali, hak kepemilikan dan pengelolaan PT. SAP secara bertahap! Apakah kalian semua siap dan sanggup!" kata Jaka dengan tegas, lugas dan berwibawa.
"Kami siap dan sanggup Mas Jaka," sahut mereka kompak.
"Ini laptop nya Om Harto, terima kasih Om. Dan tolong. Kasih Jaka waktu untuk sendiri." Ucap Jaka sambil mengambil flashdisk, dan memasuki kamarnya.
Jaka pun menutup pintu kamar, terus mengambil laptopnya, lalu menyalakan laptop, dan menonton rekaman video itu lagi.
Rekaman video pun sampai pada kata-kata ini "jadilah putra Papa dan Mama yang tangguh, bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur".
"Baiklah Papa, Mama, mulai detik ini, aku akan menjadi putra kalian seperti yang Papa dan Mama inginkan." Kata Jaka berbicara sendiri.
Rena, Dira, kata Mama, sambil memberikan kode dengan mata, dan menoleh ke arah kamar Jaka.
"Maksudnya Ma?" tanya Rena dan Dira bersamaan.
"Hibur calon suami kalian, masak gitu aja nggak ngerti," sahut Mama sambil berbisik.
__ADS_1
"Baiklah Ma," jawab Dira dan Rena, lalu Rena bergegas menuju ke arah teras, mengambil kopi, dan rokok kretek Jaka.
Dira pun bergegas mengetuk pintu kamar Jaka. "Mas," ucapnya.
"Masuk aja, nggak dikunci kok," sahut Jaka dengan suara agak serak.
"Mas Jaka baik-baik aja kan?" tanya Dira dengan risau.
Rena pun memasuki kamar Jaka, yang pintunya terbuka.
"Mas Jaka nggak apa-apa kan? Ini Mas kopi, dan sajennya," ucap Rena sambil meletakkan kopi, dan rokok kretek, di meja kamar Jaka.
"Mas nggak apa-apa kok. Aku cuma kangen, sama Papa dan Mama," jawab Jaka sendu.
"Tapi Mas Jaka, jangan larut dalam kesedihan terus ya, masih ada kami disini yang siap berbagi, suka dan duka bersama Mas," sahut Dira sambil duduk di belakang Jaka dan memeluk hangat Jaka, lalu meletakkan dagunya di bahu Jaka.
"Iya Mas, benar kata Mbak Dira, masih ada kami yang siap menemani Mas Jaka," ucap Rena sambil mendekap erat Jaka dan Dira.
Jaka pun tertegun, dan tersenyum, mendengar perkataan, dan merasakan tingkah kedua calon istrinya.
"Bisa aku minta tolong pada kalian berdua," ucap Jaka lemas.
"Minta tolong apa Mas," sahut Rena dan Dira bersamaan.
"Tolong...
Tolong... Jangan memancing jiwa lelakiku," kata Jaka, dengan polosnya.
"Ii_iyaa 5mas," jawab Rena dan Dira, sambil bergegas melepaskan pelukan, dan dekapan mereka, dari Jaka dengan wajah merah merona, karena malu.😚😚
"Eehmm, eehmm!" ucap Bunda.
"Apa kalian mau kami nikahkan saat ini juga!" sambung Bunda.
Dira dan Rena pun hanya diam tersipu.😚😚
"Jangan Bun, jangan,
jangan ragu-ragu Bun," jawab Jaka polos, dengan mata berbinar.
"Gimana Dira, Rena? Apakah kalian berdua mau menikah dengan Jaka," ucap Bunda.
Dira dan Rena pun saling pandang, dan memberikan kode.😚😚😍😍💡
"Nggak Bun. Nggak mau Bun. Kami berdua nggak mau nolak tawaran Bunda," jawab Dira, sambil menundukkan kepalanya, yang di iringi dengan anggukan kepala Rena.
Mereka semua yang ada, dan mendengar, percakapan itupun tertawa terbahak-bahak bersama.
"Kayaknya sih nolak awalnya, tapi mau. Nggak tau namanya, malu-malu tapi mau, atau mau-mau tapi malu," seloroh Om Dodi.
"Gimana Seno, bisa nggak cari penghulunya hari ini," ucap Om Harto.
"Nggak tau Mas. Penghulunya siap apa nggak, nikahin mereka hari ini. Request nya aja dadakan," seloroh Ayah. Yang di ikuti dengan senyuman, semua orang yang ada di rumah itu.
"Mas Jaka. Emang sudah disiapkan, Maskawin nya?" tanya Papa Hadi.
Jaka pun tersipu-malu,😚😚 mendengar pertanyaan Papa Hadi barusan.
"Kalo maskawin nya berupaya barang berharga belum ada Pa. Tapi, kalo maskawin nya bisa via transfer banking, ada Pa," ceplos Jaka sambil, garuk-garuk kepalanya.
__ADS_1
"Dasar anak muda jaman sekarang! Dikit-dikit transfer, dikit-dikit transfer, transfer kok sedikit," seloroh Om Harto.
Diikuti dengan suara tawa semua yang ada di situ.
Dan Jaka pun cuma garuk-garuk kepalanya. Sedangkan Dira dan Rena hanya tersipu-malu 😚😚
"Nak, emangnya ada berapa duit yang mau kamu transfer ?" tanya Ayah serius.
"Tabungan Jaka sendiri ada sedikit Yah, cuma ada Rp 158.000.000.-," sahut Jaka sambil tersenyum malu-malu.
"Berapa Nak tabungan mu?" tanya Ayah terkejut.
"Tabungan Jaka baru ada
Rp 158.000.000.- Ayah," kata Jaka mengulangi perkataannya.
"Serius kamu Nak, mau nikah hari ini?" tanya Ayah lagi.
"Nggak serius sih Yah, tapi sangat serius! Itupun kalo omongan Bunda tadi nggak becanda!" jawab Jaka tegas dan lugas.
"Gimana Mas Hadi, Mas Dodi sekeluarga, apakah menerima permintaan Jaka barusan?" tanya Ayah.
"Kalo kami sih, tergantung pada anaknya aja, kalo mereka mau. Ya silahkan," jawab Om Dodi bijak.
"Gimana Rena, Dira apakah kalian mau menikah dengan Jaka?" tanya Papa Hadi tegas.
"Terus terang saya mau, pake banget Om," jawab Dira malu-malu.😚😘
"Kalo Rena kayaknya, nggak bakalan nolak Pa," sahut Rena malu-malu mau.😘😘😍
Papa Hadi dan Om Dodi pun saling pandang, lalu mereka melihat kearah Ayah Seno, dan menganggukkan kepala tanda setuju.
"Baiklah kalo memang sudah bulat keputusan ini, aku akan minta tolong Gatot dan Nanang, menemui Penghulu Pernikahan di rumah nya. Kalau beliau bisa, kalian akan melaksanakan akad nikah hari ini," ucap Ayah bijak.
Ayah pun bergegas ke teras depan, untuk menemui Gatot dan Nanang.
Para Ibu-ibu rumah tangga, kecuali Mama Rena dan Mami Dira, bergegas menuju dapur untuk memasak, menyiapkan menu makan siang, dan sajian ala kadarnya, untuk acara akad nikah dadakan.
Rena, Dira Mama dan Mami, kembali ke rumah sebelah, untuk merias kedua calon pengantin dadakan hari ini.
"Mas Gatot dan Mas Nanang, aku mau minta tolong kepada kalian, menemui pak Dahlan, untuk menikahkan Jaka, dengan Rena dan Dira hari ini. Kalo beliau bisa dan tidak berhalangan, tolong di dampingi ke rumah ini ya. Sekalian tolong hubungi Tedi, Darno, Lubis dan Nurdin serta keluarga kalian, supaya ke sini, untuk membantu persiapan akad nikah." Kata Pak Seno.
"Baiklah Pak Seno, kami akan segera menemui pak Dahlan kerumahnya," sahut Nanang.
Gatot sedang melakukan panggilan telepon ke Lubis.
Halo Lubis tolong ajak Tedi, Darno, dan Nurdin ke rumah Pak Seno ya, ucap Gatot.
"Emang mau ngapain Bang?" tanya Lubis.
"Bantu-bantu Bang Jaka, tapi kalo Bang Jaka sibuk, kalian langsung bantuin Pak Seno aja ya," jawab Gatot.
"Ya udah, kalian langsung aja ke sana. Aku dan Nanang ada tugas lain, nanti kami kesana lagi," sambung Gatot tegas.
"Siap Bang, secepatnya kami nanti ke rumahnya Pak Seno." Jawab Lubis.
"Oke lanjut," jawab Gatot, sambil mematikan panggilan telpon.
Gatot dan Nanang pun bergegas menuju ke rumah Sang Penghulu.
__ADS_1