
Seperti biasa, alarm HP Jaka berbunyi, pertanda bahwa dia harus bangun tidur, untuk melaksanakan aktivitas, dan kewajibannya seperti biasa.
Karena Rena dan Dira juga terbangun, mereka pun bergegas melaksanakan kewajiban sholat Subuh secara berjamaah.
Setelah selesai sholat berjamaah, Mereka pun bergegas melipat perlengkapan sholat nya. Jaka keluar dari kamar menuju teras depan rumah, dia pun mengambil sapu lidi, dan langsung menyapu halaman.
Rena dan Dira pun berbagi tugas, hari ini Rena membuat sarapan pagi, dan minuman. sedangkan Dira berbenah di kamar.
Karena Rena hanya melihat ada telur dan mie goreng di dapur, akhirnya Rena pun membuat mie goreng, dengan telur orak-arik di atasnya.
"Bikin sarapan apa Dek?" tanya Dira, setelah selesai berbenah di kamar, sambil melihat sekelilingnya.
"Cuma bikin mie goreng dikasih orak-arik telur," jawab Rena.
"Minumnya belum dibuat ya Dek? Kalo belum aku aja yang buatin," ucap Dira.
"Belum Mbak, airnya belum mendidih." Jawab Rena.
"Ya nggak apa-apa kok, kalo Mbak mau bikin minumnya." Sahut Rena.
Setelah selesai membuat sarapan pagi, dan minumannya. Rena dan Dira bergegas membawa nampan, ke arah kursi teras, untuk sarapan pagi bersama Sang suami.
"Mas Jaka, ayo sini sarapan dulu," ajak Rena.
"Iya Mas sarapan dulu, mumpung masih anget," sahut Dira.
"Iya bentar, lagi nanggung ini." Jawab Jaka, sambil meneruskan mengumpulkan daun kering, yang tinggal sedikit lagi, dan membakarnya. Lalu Jaka pun bergegas mencuci tangan, dan menuju meja teras untuk sarapan.
"Waaah, kayaknya enak nih." Kata Jaka sambil mengambil piring, dan memulai sarapannya.
"Siapa yang masak?" sambung Jaka.
"Adek yang masak Mas, aku cuma bikin minumnya," sahut Dira.
"Nah, gitu dong sayang. Kalian berdua harus akur, biar aku betah dirumah, dan makin cinta dengan kalian." Ucap Jaka sambil berdiri, terus menciumi kening kedua istrinya.
"Makasih ya sayang," sambung Jaka sambil tersenyum manis, dan kembali duduk, meneruskan sarapannya.
"Iya Mas, kami kan memang selalu akur dari dulu." Jawab Rena dan Dira bersamaan, sambil mengambil sarapan mereka, dan memakannya.
Selesai sarapan pagi, Rena pun bergegas mengambil piring kotor, dan membawanya ke dapur, trus balik lagi ke teras depan.
__ADS_1
"Mas Jaka, mobilnya Mas jadi dikirim ke sini hari ini?" tanya Dira.
"Nggak tau Dek, kalo katanya Om Harto kemarin kan, hari ini datang mobilnya." jawab Jaka.
"Mas, dipanggil Bunda nya Mas Jaka. Disuruh sarapan," kata Dani yang tiba-tiba muncul.
"Kami baru aja selesai sarapan pagi Dani," sahut Rena sambil tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil, yang beriringan memasuki halaman.
"Jangan-jangan ini mobil yang dikirim oleh Pakde Harto," sambung Rena antusias, sambil berdiri dari duduknya, dan diikuti oleh Dira.
Tak lama kedua mobil pun berhenti parkir di samping teras. Lalu keluarlah sopir dari kedua mobil tersebut.
"Assalamu'alaikum Pak, apa benar ini rumah Pak Jaka Pambudi? Tanya sopir 1.
"Wa alaikumussalam warahmatullah, iya Pak benar, saya sendiri," jawab Jaka.
'Nama saya Dadang Pak, dan ini teman saya Dudung. Kami ditugaskan Pak Harto, mengirimkan mobil ini kesini Pak." Sahut Pak Dadang ramah, sambil membawa tas. Dan bersalaman dengan Jaka.
"Silahkan masuk Pak, kedalam ruang tamu." Balas Jaka ramah.
"Dek, tolong bikinin 2 kopi hitam ya, sekalian tanya Dani, mau minum apa," ucap Jaka.
"Nggak usah repot-repot Pak, kalo boleh kita duduk di kursi teras aja Pak," sahut Pak Dadang, dan diiringi anggukan Pak Dudung.
"Silahkan duduk Pak," kata Jaka ramah.
Pak Dadang dan Pak Dudung pun duduk, lalu Pak Dadang membuka tasnya, dan menyodorkan sebuah map dokumen kepada Jaka.
"Ini Pak tolong diperiksa kelengkapan administrasi, dan dokumen mobilnya." Ucap Pak Dadang ramah, sambil menyodorkan map dokumen, dan sebuah pena.
Jaka pun menerima map dokumen itu, dan langsung membacanya.
1 unit mobil Mitsubishi Pajero sport Dakar ultimate AT 4×4.
Kapasitas 7 penumpang
Dengan plat nomor pesanan khusus
BB 74 KAP.
__ADS_1
"Berarti saya tinggal membubuhkan tanda tangan saya, ditempat yang ada nama saya aja kan Pak Dadang?" tanya Jaka.
"Iya Pak Jaka, silahkan ditandatangani," sahut Pak Dadang ramah.
Rena dan Dira pun datang membawa nampan, berisi 2 cangkir kopi hitam dan cemilan.
"Ini Bapak-bapak silahkan," kata Rena sambil menyuguhkan kopi, dan cemilan, dibantu Dira.
"Terima kasih Bu Jaka," sahut Pak Dadang, yang disertai anggukan Pak Dudung.
Jaka pun menandatangani dokumen ditangannya, dan langsung memberikan map dokumen itu ke Pak Dadang.
"Ini Pak Dadang tolong dicek lagi," ucap Jaka.
"Ayo Bapak-bapak, silahkan kopi, dan cemilannya," sambung Jaka ramah.
Pak Dadang pun membuka map dokumen, dan memeriksanya kembali, lalu mengambil STNK, dan BPKB mobil, dari tasnya dan langsung diserahkan kepada Jaka.
"Ini Pak Jaka, surat-surat kelengkapan mobilnya," sahut Pak Dadang ramah, sambil menyodorkan 2 kunci kontak, 2 STNK dan BPKB mobil ke arah Jaka.
"Iya Pak, terima kasih," jawab Jaka sambil mengambil STNK dan BPKB mobil. Lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakan rokoknya.
"Ayo Pak, silahkan dinikmati suguhannya," ucap Jaka.
"Kalo boleh tau Pak, kenapa plat nomor mobilnya BB 74 KAP, padahal plat nomor daerah kita kan bukan seri BB, Pak?" sambung Jaka.
"Untuk hal itu saya kurang tahu pasti Pak Jaka, tapi sepertinya plat mobil ini, langsung menjelaskan identitas Pak Jaka," jawab Pak Dadang.
"BB 74 KAP menegaskan, kalo pemilik mobil ini adalah Boss Besar 74KA Pambudi. Tapi, di dokumen yang Pak Jaka tanda tangani tadi kan, ada dua plat nomor Pak, dan ini ada 2 STNK dengan plat nomor kendaraan yang berbeda. BB 74 KAP dan GG 999 JP, tapi tetap atas nama Pak Jaka. Untuk dudukkan plat nomornya, bisa digeser bolak balik kok Pak." Sambung Pak Dadang menjelaskan.
"Iya Pak terima kasih ya penjelasannya," sahut Jaka.
"Sama-sama Pak Jaka, kalo gitu kami langsung pamit ke kantor lagi Pak. Karena kata Pak Harto, kalo urusan mobil sudah selesai, kami harus kembali ke kantor lagi.' Ucap Pak Dadang. Sambil melanjutkan menghabiskan kopinya.
"Tunggu sebentar Pak," Kata Jaka sambil masuk ke dalam rumah, mengambil uang Rp500.000.- , dan memasukkan ke dalam amplop.
"Ini Pak, tolong di terima dan jangan ditolak. Untuk Pak Dadang dan Pak Dudung." Ucap Jaka tegas.
"Tapi Pak, kami..." sahut Pak Dadang dan Pak Dudung bersamaan sambil saling pandang karena bingung. 😕😕
"Nggak ada tapi-tapian! Ini murni dari saya pribadi!" potong Jaka tegas, sambil menyodorkan amplop
__ADS_1
"Terima kasih Pak Jaka, Bu Jaka. Kami pamit untuk kembali ke kantor lagi." Sahut Pak Dadang ramah, yang disertai anggukan Pak Dudung. Sambil bersalaman.
"Iya Pak sama-sama, hati-hati dijalan," ucap Jaka.