
Akhirnya Gatot dan Nanang sampai, dirumah Pak Dahlan Sang Penghulu Pernikahan.
"Assalamu'alaikum," ucap Gatot sambil mengetuk pintu.
"Assalamualaikum," sahut Nanang.
"Wa alaikumussalam warahmatullah," kata orang yang didalam rumah, sambil membuka pintu.
"Gatot, Nanang, ada apa kalian kemari?" tanya Pak Dahlan.
"Ini lho Pak, kami dapat tugas dari Pak Seno untuk menemui Pak Dahlan," kata Gatot ramah.
"Menemui saya, maksud kamu?" tanya Pak Dahlan.
"Kami mau minta tolong Pak, bisa nggak Pak Dahlan siang ini menikahkan anak Pak Seno?" tanya Nanang.
"Pak Seno yang mana nih?" ucap Pak Dahlan.
"Pak Seno yang rumahnya, di sebelah Pak Hadi yang punya kebun sawit itu, lho Pak," sahut Gatot.
"Bukankah Pak Seno ini nggak punya anak? Terus anak siapa yang mau menikah?" sambung Pak Dahlan.
"Yang mau nikah Bang Jaka Pak, anak angkatnya Pak Seno," sahut Nanang.
"Ya sudah kalo kayak gitu, aku mau siap-siap dulu. Kalian mau masuk dulu, atau mau langsung? Nanti aku nyusul bermotor." Sambung Pak Dahlan.
"Kalo kayak gitu kami nunggu di sini aja, nanti kita berangkat bersama ke rumah Pak Seno," jawab Gatot.
"Baiklah kalo gitu, aku siap-siap dulu ya," sahut Pak Dahlan.
"Silahkan Pak," jawab Gatot ramah.
Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya Pak Dahlan Sang Penghulu pun keluar, dari dalam rumahnya. Pak Dahlan memakai helm dan menaiki motornya.
"Ayo Gatot, Nanang, kita berangkat," ajak Pak Dahlan.
"Ayoo Pak," sahut Gatot dan Nanang bersamaan.
Mereka bertiga pun menuju ke rumah Pak Seno, setelah melalui perjalanan santai sekitar 25 menit, sampailah mereka bertiga, di halaman depan rumah Pak Seno.
"Assalamu'alaikum," ucap Pak Dahlan.
"Wa alaikumussalam warahmatullah," jawab semua orang yang sedang duduk, di atas karpet ruang tamu.
__ADS_1
Ruang tamu minimalis itu terlihat lapang, setelah kursi tamunya dikeluarkan, dan diletakkan di teras depan rumah.
"Ayoo, silahkan masuk Pak Dahlan, kita makan siang dulu," ajak Pak Seno ramah sambil bersalaman.
"Ayoo Nak Gatot dan Nak Nanang kita makan siang dulu," sambung Pak Seno.
"Maaf Pak Seno, sebelumnya saya mau tanya. Yang mana orangnya, yang mau dinikahkan?" tanya Pak Dahlan penasaran.
"Orang yang ditanya Pak Dahlan, tadi lagi makan Pak diruang tengah." Sahut Pak Dodi ramah sambil bersalaman.
"Pak Dahlan, ayoo kita makan siang dulu, nanti kita pasti ketemu kok, sama orang yang lagi ngebet nikah," kata Pak Dodi sambil tersenyum.
"Mari Pak Dahlan," ajak Pak Seno ramah.
"Silahkan Pak, ini piring nya," kata Bunda Ratih, sambil menyodorkan piring.
"Ayo Nak Gatot, Nak Nanang, silahkan jangan malu-malu lho, kalo malu nanti lapar," seloroh Ayah Seno sambil tersenyum
"Iya Pak," sahut Gatot dan Nanang bersamaan.
"Tedi, Darno, Lubis, dan Nurdin mana Pak? Apakah mereka sudah makan?" tanya Gatot.
"Mereka di belakang tadi, tapi mereka sudah makan semuanya kok," jawab Pak Seno.
Dan setelah selesai makan siang, acara akad nikah dadakan dimulai.
"Ini Pak Dahlan, mempelai pria nya. Dan, yang dua lagi duduk, dengan pakaian yang sama warna itu mempelai wanitanya," kata Pak Seno ramah.
"Jadi ini yang namanya Jaka, yang akan menikahi kedua gadis itu bersamaan," sahut Pak Dahlan, tertegun sejenak.
"Iya Pak, saya Jaka!" balas Jaka dengan tegas, sambil tersenyum.
Setelah Pak Penghulu Pernikahan ngobrol dengan Pak Dodi, Pak Hadi,dan Pak Seno, tentang nama ke-3 mempelai, acara akad nikah pun dimulai.
"Bagaimana Pak Hadi , Nak Jaka, apakah kalian siap," tanya Pak Dahlan
"Insya Allah kami siap Pak," jawab mereka berdua.
Ijab qobul pun dimulai. Pak Hadi dan Jaka bersalaman.
"Saya nikahkan dan kawinkan Ananda Jaka Pambudi bin Setyo Adjie Pambudi, dengan Ananda Rena Auliani binti Hadi Rudyatmo, dengan maskawin uang
Rp50.000.000.- dibayar tunai." Ucap Pak Hadi tegas.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Rena Auliani binti Hadi Rudyatmo, dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Jawab Jaka tegas.
"Gimana para saksi? Sah?" tanya Pak Dahlan
"Sah. Sah. Sah," ucap semua orang yang hadir.
"Sekarang selanjutnya, silahkan Pak Dodi bertukar tempat dengan Pak Hadi." Kata Pak Dahlan.
"Apakah kalian berdua siap?" tanya Pak Dahlan.
"Kami siap Pak," ucap Pak Dodi dan Jaka kompak.
Ijab qobul pun dimulai.
Pak Dodi dan Jaka bersalaman.
"Saya nikahkan dan kawinkan Ananda Jaka Pambudi bin Setyo Adjie Pambudi, dengan Ananda Dira Safitri binti Dodi Nugroho, dengan maskawin uang
Rp50.000.000.- dibayar tunai," kata Pak Dodi tegas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Dira Safitri binti Dodi Nugroho, dengan maskawin tersebut dibayar tunai," jawab Jaka tegas.
"Sah. Sah. Sah," jawab semua orang yang ada di ruangan itu.
Setelah acara ijab qobul selesai. Jaka , Rena, dan Dira melanjutkan prosesi pernikahan, tradisi daerah AY.
Setelah acara akad nikah dadakan selesai.
Para pria pun bergegas menuju ke teras depan rumah, mengobrol santai disana.
Sambil melakukan aktifitas yang sama, mengatur nafas lewat sebatang rokok sambil ngobrol dan ngopi.
Pak Dahlan, Pak Seno, Pak Dodi, Pak Hadi, dan Pak Harto duduk bersama di kursi teras.
"Kok bisa Pak, terjadi acara pernikahan dadakan seperti ini?" tanya Pak Dahlan penasaran.
"Ya bisa aja lah Pak, namanya juga anak muda, kalo sudah ngebet nikah kan, nggak bisa ditunda lagi. Kayak nggak pernah muda aja," seloroh Papa Hadi. Yang diikuti tawa semua orang.
"Jadi kami sebagai orang tua, hanya bisa mengikuti kehendak anak-anak kami Pak," sambung Pak Harto bijak.
"Silahkan dinikmati Pak Dahlan suguhannya, nggak pake malu-malu ya Pak," ucap Ayah Seno sambil menikmati cemilan dan kopi nya.
"Iya Pak," jawab Pak Dahlan sambil tersenyum, lalu menikmati cemilan, dan secangkir kopi sambil menyalakan rokoknya.
__ADS_1