
"Nggak lama Mas, saya baru datang kok," kata Pak Seno ramah.
Jaka pun meletakkan dua bungkus rokok kreteknya, asbak rokok dan segelas kopi hitam yang dibawanya ke meja ruang tamu.
"Rokoknya Pak, boleh dihisap itu," sahut Jaka.
"Pak Seno mau minum kopi hitam Pak? Maaf Pak, karena nggak banyak persiapan. Untuk sementara cuma ada 2 pilihan Pak. Air putih atau air hitam." Seloroh Jaka.
"Iya Mas, air hitam aja Mas Jaka, segelas kayak Mas Jaka," jawab Pak Seno tersenyum, sambil mengambil sebatang rokok kretek, dan menyalakan rokoknya.
"Adukan berapa Pak?" tanya Jaka.
"2:1, Mas, 2 kopi, 1 gula," jawab Pak Seno.
"Ternyata seleranya Pak Seno sama kayak saya, tunggu sebentar ya Pak? Nggak tau kalo Pak Seno mau minum kopi itu, masih utuh kok Pak, belom saya minum. Saya tinggal dulu Pak," ucap Jaka sambil berjalan menuju dapur.
Setelah membuat segelas kopi hitam Jaka pun kembali ke ruang tamu.
"Ini Pak Seno air hitam nya," kata Jaka sambil tersenyum.
"Saya sudah minum kopi yang ini Mas Jaka, kayaknya selera kopi kita memang sama," jawab Pak Seno, sambil memikirkan sesuatu.
"Setelah ku perhatikan, sejak awal pertama kali pertemuan dengan Mas Jaka ini, kok aku selalu teringat dengan Mas Setyo Adjie Pambudi ya? Selera kopinya, tingkah-laku, dan cara bicaranya, kok sama ya," gumam Pak Seno.
Jaka tidak menyadari, bahwa Pak Seno selalu memperhatikan tingkah-laku, dan cara bicaranya. Sejak awal pertama kali pertemuan mereka.
__ADS_1
Jaka pun mengambil sebatang rokok kretek, dan menyalakan rokoknya, lalu menghisapnya dalam-dalam, dan baru menghembuskan asapnya dengan santainya.
"Maaf Pak Seno, tolong di jawab dengan jujur, semua pertanyaan saya, dan saya pastikan, saya pun akan menjawab dengan jujur, semua pertanyaan Pak Seno," kata Jaka ramah dan tegas.
Pak Seno pun tertegun, dengan kejadian ini.
"Nggak salah lagi? Sepertinya perkiraan dan tebakan Mas Hadi benar," gumam nya.
"Emangnya, Mas Jaka mau nanya apa, kok ngomong nya sampe kayak gitu," ucap Pak Seno penasaran.
"Beginilah Pak, cara saya berbicara, dengan orang yang baik, dan penuh perhatian, serta peduli dengan saya. Dan saya pun akan berbuat hal yang sama, dengan orang itu. Karena saya yakin dengan hukum Allah, sebab-akibat.
Sebabnya baik, akibatnya akan di baikin. Sebabnya peduli, akibatnya akan di peduliin juga." Kata Jaka.
"Pertanyaan saya dimulai dengan. Pak Seno sudah lama kan tinggal di kampung GIG ini? Apakah Pak Seno punya anak?" tanya Jaka.
"Nggak ada apa-apa kok Pak, saya cuma mau tau keadaan, dan suasana tempat yang saya datangi aja. Kalo boleh tau Pak, Kakak angkat Pak Seno itu meninggal karena apa Pak? Berarti Pak Seno, sudah lama tau dengan yang namanya Gatot itu kan?" tanya Jaka.
"Oh gitu ya Mas. Kakak angkat saya itu, meninggal bareng bersama dengan istri dan sopirnya, dalam kecelakaan maut Mas. Mobil yang dikendarai nya, masuk ke dalam jurang, dan meledak." Ucap Pak Seno.
"Emangnya ada apa Mas," sambung Pak Seno.
"Iya Pak, cuma gitu aj, nggak ada maksud lain kok." Sahut Jaka, yang agak terkejut, ketika mendengar cerita, tentang kakak angkat Pak Seno.
"Orang yang namanya Gatot ini, dari kabar yang saya tau, nggak pernah sekolah Mas, dia seorang pemuda baik, yang bergabung dengan kelompok yang salah. Umurnya sekarang 23, atau 24 tahun." Pak Seno menjelaskan.
__ADS_1
"Kapan kira-kira si Gatot ini memanen sawit Pak? Atau lebih tepatnya, kapan kira-kira saya bisa ketemuan, dengan Gatot ini Pak Seno?" tanya Jaka.
"Kalo nggak ada halangan bisa 3, sampai 4hari lagi Mas, atau kalo Mas Jaka mau ketemu cepat, dia dan anak buahnya, biasanya mereka ngumpul di cafe, yang ada di ujung jalan aspal depan Mas. Kerjaannya, dan anak buahnya sekarang, cuma berfoya-foya, mabuk-mabukan, dan main perempuan." Kata Pak Seno panjang kali lebar.
"Ternyata gitu ya Pak, wajarlah kalo Papa kesal, dengan ulah Gatot ini Pak," jawabnya, sambil mengangguk, dan tersenyum jahil.
Jaka pun mengambil sebatang rokok kretek lagi dan menyalakan rokok itu, lalu dia menghisap dalam-dalam rokoknya, setelah itu baru dia membuang asapnya dengan santainya.
Jaka pun meminum kopinya, sampai habis dan berencana membuat kopi lagi.
"Kopinya mau di buatin lagi Pak Seno?" tanya Jaka.
"Nggak usah Mas Jaka, lagian sekarang sudah jam 01:12. Sudah mau pagi ini. saya pulang istirahat dulu Mas Jaka. Besok malam aja kita sambung lagi." Ucap Pak Seno.
"Saya nggak nyangka Pak kalo sudah jam segitu, inilah penyakit saya, dari dulu, kalo sudah ke keasyikan ngobrol, sampai lupa waktu. Pak Seno nggak tidur di sini aja Pak?" ucap Jaka.
"Terima kasih Mas, besok aja kalo nggak ada halangan, sekalian saya ngomong dengan istri saya besok. Paling, kalo dia takut tidur sendirian, dia ikut tidur di sini juga." Kata Pak Seno.
"Oke Pak Seno kalo gitu, saya tunggu besok malam. ngajak istrinya juga nggak apa-apa kok Pak, biar rame," kata Jaka.
Pak Seno pun pamit, untuk pulang kerumah nya.
Setelah sampai di rumah, Pak Seno menelpon mas Harto. Dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Jaka barusan.
Pak Seno yakin, kalo Jaka adalah anak Almarhum Mas Adjie, yang mereka cari selama ini.
__ADS_1
"Seno kamu simpan dulu rapat-rapat masalah ini, yang boleh tau hanya orang-orang tertentu saja, yang bisa kita percayai. Kamu ngerti maksud ku kan," kata Mas Harto.
Panggilan telepon pun berakhir, dan mereka pun melanjutkan istirahat nya.