
"Sudah sarapan kamu Nang," kata Jaka.
"Alhamdulillah, sudah Bang," sahut Nanang.
"Oh ada Mas Nanang toh, sudah sarapan Mas?" tanya Papa ramah, yang baru ke teras depan lagi, karena baru dari kamar kecil.
"Alhamdulillah sudah Pak," jawab Nanang.
"Nang, masalah nyari tenaga yang kita omongin tempo hari, gimana perkembangannya?" ucap Jaka.
"Sementara ini aku baru dapat 25 orang Bang. Tapi ada masalah sedikit Bang. Tenaga yang ku dapatkan ini, 10 orang sudah biasa bekerja di perkebunan, sedangkan untuk yang 15 orang masih awam Bang, karena mereka masih baru tamat SMA, dan benar-benar baru mau mencari pekerjaan." Jawab Nanang panjang kali lebar.
"Waaah, sudah lumayan banyak ya, berarti sudah ada 35 orang.
Kalo masalah itu nggak apa-apa Nang, karena nantinya kan bisa belajar sambil jalan.
Dan dalam kegiatan pemanenan dan perawatan ini, aku sangat membutuhkan bantuan kalian berenam." Kata Jaka dengan antusias.
"Dan sewaktu-waktu, aku butuh 2 atau 3 orang diantara kalian berenam, untuk menjadi supir mobil yang bakal ku beli nanti. Untuk armada angkutan hasil panen kita, gimana apakah kalian sanggup?" sambung Jaka panjang kali lebar.
"Siap Bang," jawab Gatot dan Nanang bersamaan dengan semangat.
"Assalamu'alaikum," ucap Om Dodi sambil membawa tas koper, beserta rombongan yang baru datang ke rumah Ayah.
"Wa alaikumussalam warahmatullah. Ayoo masuk Mas Dodi, Mas Harto, semuanya. Ayoo, jangan malu-malu." Sahut Ayah sambil berdiri bersalaman, dan dikuti oleh yang lainnya.
Ayah masih agak kaget karena tidak menyadari kedatangan tamu yang dinantikan sudah datang.
Mama, Bunda, Tami dan Rena pun beranjak dari ruang tamu, untuk menyambut tamu-tamu yang datang.
"Ayo Mbak Lisa, Mbak Maryam, Mbak Eva. Ayoo, ayoo, masuk Mbak." Kata Mama sambil bersalaman, dan berpelukan, yang di ikuti oleh Bunda, Tami dan Rena.
"Mbak Dira, Dani, Mas Edo nggak ikut ke sini Bude," sahut Rena.
"Ada kok, mereka ikut semua," jawab Bude Lisa.
"Mbak Dira. Mbak makin modis dan cantik aja. Ayoo, masuk Mbak," sapa Rena sambil memeluk hangat Dira, yang diikuti Tami , Mama dan Bunda.
Dani dan Edo pun masuk keruang tamu. Setelah bersalaman dengan semua yang duduk di teras depan.
Dan bersalaman dengan semuanya.
__ADS_1
"Dani, kamu kok tambah ganteng," kata Rena sambil mengacak-acak rambut Dani lalu memeluknya hangat.
"Mbak Rena , jangan kebiasaan deh. Tiap ketemu selalu aja mengacak-ngacak rambut Dani!" kata Dani sewot.
"Aku geregetan aja, kalo ketemu sama kamu Dan," sahut Rena sambil tersenyum jahil.😉😉
"Geregetan ya geregetan Mbak! Tapikan nggak gitu juga kali. Aku kan udah gede Mbak," balas Dani merajuk.
"Duh yang udah gede. Jangan marah-marah dong, ntar cepat tua lhoo." Sahut Mama.
"Jadi makin gemes," kata Rena sambil mengacak-acak rambut Dani lagi.
"Mbak Rena!" sahut Dani merajuk.
"Sudah, sudah! Ayoo masuk, kita sarapan dulu," sahut Bunda sambil tersenyum ramah. Di ikuti senyuman semua yang ada disana.
Mereka pun bergegas sarapan, kecuali Dani dan edo. Dani keluar lagi ke teras depan, dan di ikuti oleh Edo.
"Mas Jaka," panggil Dani.
"Iya Dani, ada apa? Sarapan dulu," ucap Jaka sambil beranjak dari tempat duduknya ke arah Dani.
"Mas Jaka, katanya tempo hari mau main kerumah." sahut Dani.
karena banyak persiapan pelaksanaan pekerjaan, yang harus dilakukan." Jawab Jaka sambil tersenyum manis.
"Sudah, sudah! Jangan merajuk lagi, jadi hilang gantengnya Adek Mas Jaka yang satu ini, ayo sarapan. Ayoo Edo, bareng kita," kata Jaka sambil merangkul pundak Dani dan Edo, lalu membawanya masuk untuk sarapan.
Yang lainnya agak terkejut melihat dan mendengar keakraban keduanya.
Dira pun melihat kedatangan Jaka dan Dani langsung bergegas mendekati Jaka langsung mencium pipi kiri dan kanan Jaka.
Spontan Jaka pun kaget dan melihat ke arah Rena yang tersenyum manis melihat kejadian itu.
"Aku nggak nyangka Mas, kita ketemu lagi," ucap Dira tersenyum ramah.
"Tapi nggak gitu juga Dira! kan aku kaget tau-tau kamu nya nyosor kayak angsa gitu!" sahut Jaka sewot, karena dia takut Rena cemburu.
"Kan malu Dira, diliatin yang lainnya," sambung Jaka.
"Tapi yang lainnya kan biasa aja tuh," jawab Mama tersenyum jahil.
__ADS_1
"Malu-malu mau tuh Ma. Pura-pura nya nggak mau, tapi kalo dikasih lagi nggak bakalan nolak. Ya kan Mas?" sahut Rena dengan senyuman jahil.
Jaka pun bingung melihat reaksi semua orang yang ada disitu.
"Kok jadi kayak gini ya? Semuanya terlihat biasa-biasa saja termasuk Rena, dia nggak cemburuan kayak biasanya. Ada apa ini?" gumam Jaka, sambil bertanya-tanya dalam kebingungannya.😟😟🤔🤔
Akhirnya saat yang ditunggu pun tiba. Mereka semuanya telah selesai sarapan, dan mengobrol diantara mereka.
Om Dodi pun segera memasuki ruang tamu, lalu mengambil dan membuka tas koper yang dibawanya tadi, dan mengeluarkan beberapa berkas dan arsip.
Semua orang yang disana pun bergegas mendekati Om Dodi, kecuali Gatot dan Nanang mereka masih duduk mengobrol di kursi teras rumah.
"Jaka Pambudi!" kata Om Dodi tegas
"Iya Om!" sahut Jaka.
"Kemari kamu! Kamu baca dan lihatlah berkas- berkas ini. Setelah itu kamu tanda tangan, di tempat yang ada namamu, dan kamu jangan bertanya, sebelum kamu memberikan tanda tangan mu, di berkas-berkas ini!" kata Om Dodi dengan tegas dan tenang.
"Iya Om Dodi," balas Jaka agak bingung, sambil mengambil berkas-berkas lalu melihat, dan membacanya dengan serius.
"Ini?" gumam Jaka terkejut lalu melihat ke arah sekelilingnya.
Yang dilihatnya hanya anggukan, dan senyuman dari orang-orang yang duduk di sekitarnya.
Jaka pun menanda tangani berkas kepemilikan PT. TBS, lalu dia pun membuka berkas selanjutnya,
Jaka pun menanda tangani kepemilikan 2 buah showroom mobil Mitsubishi satu berada di kota Z dan satu lagi berada di kota X.
Lalu Jaka membuka berkas yang ke-3, dia menanda tangani kepemilikan 400 hektar lahan kosong kabupaten AY dan 200hektar kebun sawit yang berada di perbatasan antara kota Z dan kampung GIG.
Lalu Jaka membuka berkas yang ke-4, dia menanda tangani kepemilikan
PT. MBX, yang bergerak di bidang rental alat berat, dan jasa pelayanan pengiriman barang, di kabupaten AY.
Jaka pun bergegas membuka berkas yang terakhir, dia pun menangis, ðŸ˜ðŸ˜ ketika selesai melihat, dan membaca berkas terakhir, karena didalamnya ada foto Almarhum Sang papa.
Beserta arsip-arsip sebuah perusahaan, yang bergerak di bidang ekspor impor barang, yang berada di dekat sebuah pelabuhan internasional, di Ibukota DC di Negara Republik ini.
"Jaka itu adalah PT. SAP, yang telah diboikot oleh rekanan Almarhum mas Adjie. Dan pesan terakhir mas Adjie adalah Jaka Pambudi harus merebut kembali, hak kepemilikan dan pengelolaan PT. SAP." Kata Om Dodi.
"Mas Harto apakah engkau masih menyimpan video, tentang pesan yang telah diamanatkan almarhum mas Adjie, kalo ada tolong diputar." Sambung Om Dodi.
__ADS_1
"Baiklah Dodi, aku akan memutar video nya," sahut Om Harto sambil mengeluarkan laptop.