
"Ibu!" kata Sania, sambil berlari memeluk Sang Ibu.
"Kok nangis Mbak? Kalo Mbak nggak mau ya, nggak usah dipikirin Mbak," sahut Ibu tersenyum jahil, sambil membelai rambut Sania.
"Sania memang nggak mau Ibu, nggak mau nolak," jawab Sania manja.
"Anak Ibu udah besar gini, masak masih manja, dan cengeng," kata Ibu sambil mengelap air mata Sania pakai saputangan, yang baru diambil dari tas kecil yang selalu di bawanya.
"Sania bahagia Ibu, bukan cengeng," sahut Sania.
"Yang namanya nangis bin mewek, dari dulu sampe sekarang pasti disebut cengeng Mbak ku," ceplos Dani, yang datang ke balkon diiringi oleh yang lainnya.
"Dani? Ayoo, jaga omongan mu! Apa mau Bunda jewer, kayak Mas Jaka mu?" kata Bunda kesal.
"Maaf Bunda, jangan jewer Dani, tadi cuma becanda. kalo mau jewer, Mas Jaka aja Bunda," sahut Dani.
Jaka pura-pura tidak mendengar perkataan Dani barusan. Dan Jaka mengubah topik pembicaraan.
"Fendi, apakah kamu ada kenalan Penghulu Pernikahan di DC ini?" tanya Jaka.
Dia mengubah topik omongan agar Dani selamat dari jewer maut Sang Bunda.
"Ada Bang, aku ada kenalan Penghulu Pernikahan." Sahut Fendi.
Mendengar perkataan Jaka dan Fendi, semua orang yang ada disitu menatap, dan memperhatikan, keduanya dengan antusias.
"Fendi bisakah kau menghubungi Penghulu Pernikahan itu, untuk menikahkan kami berempat besok?" tanya Jaka tegas dan berwibawa.
__ADS_1
"Bisa Bang, nanti secepatnya ku hubungi Penghulu Pernikahan nya," sahut Fendi.
Ibu pun melepaskan pelukannya dari Sania, dan memberikan kode ke Sania, untuk mendekati Dini.
Sedangkan Dini masih diam ditempat duduknya, karena syok, mendengar perkataan Jaka barusan.
"Dini! sini Nak, kata Ibu sambil tersenyum, dan merentangkan kedua tangannya.
Dini pun tersadar, dari lamunannya, dan langsung bergegas berdiri, dan langsung memeluk Ibu.
Karena saat ini, Dini butuh seseorang, untuk dijadikan tempat bersandar, dan berbagi kebahagiaan.
"Ibu sangat bersyukur, dan bahagia, karena Nak Dini mau jadi mantu Ibu, mau jadi istri Jarko," kata Ibu. Sambil mencium kening Dini, dan mengeratkan pelukannya.
Dini pun langsung mengeratkan pelukannya, dan mengangguk dalam tangis bahagianya.
"Iya Mbak Dini, terima kasih ya, karena Mbak Dini sudah berbaik hati, dan mau menerima Bang Jarko menjadi suami, dan mengakhiri nasib kalian berdua sebagai jomblo ngenes," kata Dani sambil ikut memeluk Ibu, dan kedua Mbaknya.
Melihat kondisi ini, membuat Jaka pun mengambil sikap tegas.
"Fendi, nanti siapkan kamar tambahan untuk Dini, dan Orangtuanya, dilantai yang sama dengan kami. Sekarang kamu temani Jarko kerumah Dini, untuk menjemput Orangtuanya, dan jelaskan apa yang terjadi, sekalian minta bawakan baju ganti Dini, dan katakan kalo mereka menginap di Hotel Grand Republik!" kata Jaka tegas dan berwibawa.
"Siap Bang Jaka!" kata Fendi dan Jarko bersamaan. Mereka pun bergegas menjalankan tugas, menuju ke rumah Dini.
Sesampainya di lobby Bank KH. Fendi pun menelpon, dan memberitahukan kepada bagian penerimaan tamu Hotel Grand Republik, kalo kamar VVIP sudah dibooking semua. Dan meminta pihak Hotel menyiapkan sebuah mobil, untuk menjemput tamu Hotel.
Lalu dia dan Jarko, bergegas ke rumah Orangtuanya Dini. Menggunakan mobil pribadinya.
__ADS_1
Setelah hampir 1 jam perjalanan, sampailah mereka didepan rumah Orangtuanya Dini.
"Beneran Bang, ini rumah Orangtuanya Dini?" tanya Fendi.
"Iyaa inilah rumahnya," kata Jarko.
"Darimana Abang tau?" kata Fendi.
"Aku tau dari hasil penyelidikan ku lah," jawab Jarko.
"Penyelidikan, apa penyelidikan?" goda Fendi.
Tiba-tiba ada sebuah motor, memasuki pekarangan rumah itu, dan parkir di dekat teras depan rumah. Pengendara motor itu langsung melepaskan helmnya, dan duduk di kursi teras.
Fendi pun bergegas ke arah teras rumah itu. Diikuti oleh Jarko.
"Assalamu'alaikum," ucap Fendi.
"Wa alaikumussalam warahmatullah, cari siapa Bang?" kata pemuda yang seumuran dengan Dani.
"Benarkah ini rumah Orangtuanya Andini, Yang bekerja di Hotel Grand Republik?" tanya Fendi ramah.
"Perkenalkan nama saya Fendi, dan teman saya ini Jarko," kata Fendi sambil tersenyum, dan mengulurkan tangannya, untuk bersalaman.
"Saya Angga Bang, Adiknya Mbak Andini," kata Angga sambil tersenyum, dan bersalaman dengan Fendi dan Jarko.
"Silahkan duduk Bang," sambung Angga ramah.
__ADS_1