
Akhirnya Tante pun datang dengan membawa nampan, yang berisi dua gelas kopi hitam dan sepiring ubi rebus panas.
"Terus gimana ceritanya?" kata Tante penasaran.
"Emang tadi, sampai mana ceritanya Tan?" tanya Jaka.
"Tadi sampai ngontrak bedeng Rp200.000/bulan." jawab Tante.
"Jadi, setelah pak Slamet berbicara, dan menceritakan, semua yang jaka alami, dengan pak Kosim. Aku dibolehkan menyewa bedeng kontrakan, pak Slamet langsung pamit pulang, dan Jaka di antar Pak Kosim, ke bedeng yang aku sewa, dan sampe di kontrakan Jaka memberikan uang
Rp 1.000.000. Untuk sewa selama 5 bulan." Kata Jaka.
"Jadi selama 5 bulan itu, Jaka ngapain aja?" tanya Tante.
"Aku nggak ngapa-ngapain Tan, karena aku bingung mau ngapain. Kerjaan ku cuma nongkrong dikontrakkan, melamun, dan cari makan, kalo lapar tiap harinya. Kalo lapar langsung cari warung.
Gitu aja Tante." Jawab Jaka.
"Pada awal bulan ke-7 aku nyewa, Jaka mulai bingung dan berpikir cara menghasilkan uang, karena uang ku tinggal sedikit. Aku sempat menjual HP ku, saat itu." Sambung Jaka.
"Pada suatu ketika, aku duduk ditengah pasar, ada seorang ibu-ibu minta tolong, bawakan barang-barang belanjanya, dari toko ke mobil pickup suaminya. Dan aku pun membantunya. Setelah selesai, aku dikasih upah Rp25.000. Akhirnya, mulai hari itulah, aku jadi kuli panggul barang, Tante." Kata Jaka meneruskan ceritanya.
"Ternyata perjalanan hidup mu lumayan berat Jaka, Tante, dan Om, minta maaf, karena saat itu belum bisa menemukan mu," kata Tante Ratih sendu.
"Adik masih mau meneruskan keinginan kita dulu, kalo Jaka sudah ketemu?" tanya Om Seno.
Jaka pun terlihat bingung, setelah mendengar perkataan Om dan Tantenya. Tapi dia tetap diam.
"Ya masih mau dong Mas, mau banget malahan, tapi nggak tau Mas, semuanya tergantung pada Jaka," sahut Tante Ratih sendu.
"Emangnya Om, dan Tante, punya keinginan apa?" tanya Jaka penasaran, setelah mendengar pembicaraan mereka barusan.
"Sebenarnya Om, dan Tante mu, ingin mengangkat Jaka jadi anak kami, itupun kalo Jaka mau? Karena kami nggak punya anak," sahut Om Seno.
"Serius Om, Tante?" tanya Jaka, yang menangis terharu, mendengar penuturan Om nya.
"Iya Jaka, kami ingin kamu menjadi anak kami, kamu mau kan?" tanya Tante Ratih berharap.
Jaka pun langsung beranjak, dari tempat duduknya, dan berdiri.
Sedangkan, Om dan Tante nya terkejut, melihat tingkah Jaka, dan mereka pun bergegas berdiri.
"Kamu kenapa Jaka, kamu nggak mau jadi anak kami?" kata Tante, sambil menangis. Dan Om Seno hanya diam membisu.
Jaka masih terdiam sambil menangis bahagia, karena bakal punya keluarga baru. Akhirnya Jaka pun bersuara.
"Om, Tante. Tolong peluk Jaka dengan erat," pinta Jaka.
Mereka berdua pun bergegas mengikuti permintaan Jaka tanpa bersuara.
__ADS_1
"Om, Tante. Aku mau menjadi anak kalian." kata Jaka sambil terisak. mereka bertiga pun berpelukan, dengan derai air mata kebahagiaan.
"Alhamdulillah, kamu mau jadi anak kami, mulai saat ini panggil kami, dengan sebutan Bunda, dan Ayah," kata Tante Ratih, masih dengan Isak tangis bahagianya.
"Iyaa Bunda," ucap Jaka bahagia.
"Ayoo kita duduk lagi, sambil menikmati ubi rebus dan kopi, capek berdiri terus," ucap Om Seno.
"Iyaa Ayah," sahut Jaka, dengan senyuman kebahagiaan.
"Ayoo Jaka ceritanya disambung lagi dong," sahut Bunda
Sambil makan ubi rebus, dan menyeruput kopinya, Jaka pun mengambil sebatang rokok kretek, dan menyalakan rokoknya, sambil melanjutkan ceritanya tadi yang terputus.
"Suatu hari aku bertemu dengan mama Rena, dan Rena, aku pun membantu mama Rena, membawa kan barang-barang belanjaannya ke mobilnya.
Karena keadaan. Kami tidak bertemu sekitar 4 tahun lamanya, Bun.
Semua itu terjadi, karena Jaka sibuk mengumpulkan duit, untuk merubah nasib.
Bekerja sebagai kuli angkut barang, memang melelahkan, tapi cuma itu aja yang aku bisa saat itu." Kata Jaka.
"Lagian hasilnya juga lumayan, jaka cuma menyisihkan uang makan aja setiap hari, dan sisanya ku masukkan celengan Semar yang besar. Ada 4 celengannya, setelah 4 tahun, aku memecahkan celengannya. Dan ternyata isinya ada Rp 11.400.000." Kata Jaka.
"Waaah, Jaka memang hebat, top kamu." Kata Bunda.👍
"Gitu ya Yah, ternyata benar kata orang-orang dulu. Dunia ini kecil, tapi tak selebar daun kelor." Jawab Jaka sambil tersenyum.
"Tapi Yah, kenapa waktu pertama kali aku kesini, Ayah dan Bunda panggil papa Rena, dengan sebutan pak Hadi?" tanya Jaka.
"Semuanya sudah diatur, dan direncanakan Jaka. Semuanya dilakukan, untuk mengecoh orang lain, jadi kami sepakat, merahasiakan hubungan kekeluargaan kami, sebelum kamu ditemukan," jawab Ayah.
"Oh gitu Yah ceritanya," sahut Jaka.
"Iya memang begitulah, yang terjadi," balas Ayah.
"Trus kelanjutan ceritanya tadi?" ceplos Bunda.
"Iya Bunda, sabar. ceritanya sebentar lagi akan disambung." Jawab Jaka.
"Trus setelah membongkar celengan, dengan uang itu jaka membeli kredit sebuah motor, serta perlengkapan untuk ngojek, dan membeli HP android murah. Serta membuat SIM C.
Awalnya aku membuat SIM dulu, lalu ke Showroom motor Honda.
Setelah mengurus, dan menandatangani, persyaratan kredit, dan mendapatkan motor baru, trus membeli HP android serta perlengkapan ngojek, sesuai peraturan pemerintah, untuk mengendarai motor.
Setelah semua keperluan sudah ku dapatkan, aku pun mendownload aplikasi Gojek, dan mendaftar menjadi anggota ojol Gojek." Kata Jaka.
"Emangnya, sejak kapan Jaka bisa mengendarai motor?" tanya Tante penasaran.
__ADS_1
"Jaka belajar disekolah Tan, waktu libur, Kadang minta ajarin anak bibi yang di kantin, kadang sama penjaga Sekolah," jawab Jaka.
"Suatu hari Jaka mendapatkan orderan dari Tami, Jaka nggak tau kalo Tami itu, mbak sepupunya Rena. Setelah sampai di tujuan yang tepatnya adalah rumah papa Hadi.
Aku pun di ajak Rena, dan Tami, mampir ke dalam rumah. Setelah hampir 1 bulan, dari itu aku di tembak Rena, dan kami pun resmi pacaran, Rena bilang kalo papa Hadi pengen ngobrol dengan ku.
Setelah ngobrol panjang lebar, dan beberapa kali pertemuan, dengan keluarga papa Hadi, akhirnya, Jaka pun ada disini, dan menjadi anak Bunda, dan Ayah. Ceritanya dengan semangat, karena mendapatkan keluarga baru.
"Alhamdulillah Nak, kamu selamat, dalam beberapa tahun terakhir, dan kami pun bertemu dengan Jaka. Dan akhirnya, keinginan kami, untuk memiliki anak pun terpenuhi." Ucap Ayah tersenyum.
"Iyaa Ayah. Alhamdulillah," ucap Jaka dan Bunda bersamaan.
"Jaka, terus apa rencana mu dengan Gatot, dan Tedi?" tanya Ayah.
Ketika Jaka ingin menjawab pertanyaan Ayah angkatnya, HP nya berdering dan ada nama Rena cayang dilayar.
"Sebentar Yah, aku angkat telepon dulu," kata Jaka, sambil menunjukkan layar HP nya, ke arah Ayah, dan Bundanya.
"Iya Nak, terimalah panggilan telpon, yayang mu itu," goda Bunda.
Jaka pun menerima telpon itu.😚😚
"Assalamu'alaikum, ada apa sayang?" ucap Jaka.
Jaka tidak menyadari, bahwa panggilan telepon dari Rena, di loud speaker dan didengarkan oleh Papa, Mama, dan Tami.
"Wa alaikumussalam warahmatullah. Mas Jaka dimana sekarang?" sahut Rena.
"Duh mesra banget, yang udah punya yayang." Ceplos Mama yang membuat Rena tersipu 😚😚
"Maaf Dek, Mas keceplosan. Mas Jaka lagi sama Bunda, dan Ayah disini." sahut Jaka tersipu 😚😚 sambil me-loud speaker HP nya.
"Maksudnya apa Mas?" tanya Papa, Mama, Tami, dan Rena bersamaan.
"Maksudnya Jaka, dia lagi dirumah ku Mas Hadi, dan Jaka sekarang, adalah anak kami," ucap Ayah angkatnya, dengan bangga.
"Alhamdulillah Seno, ternyata keinginan mu, dan Ratih sudah tercapai, untuk menjadikan anak Mas Adjie sebagai anak kalian," ucap Papa Rena bahagia.
"Selamat ya," ucap Mama Rena.
"Iya Mas Hadi, Mbak Mirna, terima kasih. Alhamdulillah keinginan kami, sudah tercapai," sambung Bunda semangat.
mereka pun mengobrol dengan akrab, dan semangat, setelah mendengar berita yang menggembirakan itu.
Papa pun menjelaskan kenapa mereka menelpon. Setelah selesai ngobrol panjang kali lebar. Panggilan telepon di akhiri, dengan keputusan bahwa 2 hari lagi Papa, Mama, Tami, dan Rena akan berkunjung ke Kampung GIG, dan menginap untuk beberapa hari.
Jaka, Bunda, dan Ayah, pun tersenyum bahagia, dengan apa yang terjadi barusan.
"Jaka, terus apa rencana mu dengan Gatot, dan Tedi?" Ayah mengulang kembali pertanyaan nya.
__ADS_1