SESUATU YANG TERTUNDA

SESUATU YANG TERTUNDA
84. Pada demo


__ADS_3

Albert pun mendekati Jaka dengan membawa 3 buah map arsip-arsip kantor.


"Ini Bang, arsip-arsip yang harus Abang ketahui dan pelajari," kata Albert.


"Sayangku, cintaku, dambaan hatiku, udahan dulu ya telponnya. Karena masih ada sesuatu yang harus Mas selesaikan," kata Jaka.


Iya sayangku, cintaku, dambaan hatiku," kata Dira dan Rena bersamaan.


Jaka pun memutuskan panggilan teleponnya, dan melihat 3 map arsip besar, yang dibawa oleh Albert barusan. "Apakah masih ada lagi?"


"Untuk sementara waktu, cuma ini Bang," sahut Albert, sambil menyodorkan sebuah pena.


Jaka melihat jam tangannya, yang menunjukkan jam 21:30.


Sambil menghisap rokok dan menyeruput kopinya, Jaka mulai membuka map arsip yang pertama. "Albert, aku bisa minta tolong nggak?"


"Apa yang bisa saya bantu Bang?" tanya Albert.


"Tolong carikan aku, sesuatu yang bisa dimakan! Cacing di perutku sudah pada demo minta makan," sambung Jaka.


"Siap Bang! Tapi, sabar ya Bang, aku minta bagian dapur, untuk menyiapkan makan malam dulu." Sahut Albert.


"Oke!" kata Jaka sambil tersenyum, dan meneruskan melihat map arsip.


Albert pun melakukan panggilan telpon ke bagian dapur villa, untuk menyiapkan makan malam.

__ADS_1


Jaka membaca dan menandatangani arsip-arsip yang tertera namanya.


Setelah menelpon, Albert mendekat ke Jaka. "Sekarang Abang sudah tau kan berapa jumlah anggota RSAP, dan posisinya yang tersebar di seluruh negara Republik, dan ada juga di Amsterdam serta beberapa negara Eropa" kata Albert.


"Iya, aku nggak nyangka aja, kalo jumlah anggota RSAP sebanyak ini," kata Jaka.


"Semua anggota RSAP selalu solid dengan organisasi Bang. Dengan pasukan sebanyak ini, Abang bisa membuat negara sendiri lho," sahut Albert.


"Secara pribadi aku cuma ingin menegaskan bahwa, aku Jaka Pambudi hanya ingin menjadikan negara Republik ini, sebagai negara yang aman dan nyaman, untuk kita dan semua warga negara Republik yang lain." Kata Jaka.


"Aku tidak menginginkan hal-hal, seperti yang kau sebut barusan!" sambung Jaka tegas.


"Aku cuma bercanda Bang, serius amat ... " sahut Albert.


Terdengar suara ketukan pintu ruangan.


"Masuk!" kata Albert.


"Permisi Pak, makan malamnya sudah siap, mau diletakkan di mana Pak?" tanya ramah seorang pelayan bagian dapur, sambil mendorong troli makanan.


Albert melihat kearah troli makanan, "Tinggalkan disitu aja, terimakasih."


"Iya Pak Albert, kalo begitu saya permisi Pak," kata pelayan tersebut dengan ramah.


"Iya, terimakasih ya," kata Albert.

__ADS_1


Pelayan tersebut mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan itu.


"Bang Jaka, ini makan malamnya sudah siap, mau dimakan dimana Bang?" tanya Albert.


"Bawa kesini aja, kayaknya lebih enak makan malam di sini," jawab Jaka.


Albert pun bergegas mendorong troli makanan itu ke arah balkon. Ketika Albert akan memindahkan makanan di troli itu kemeja balkon.


Jaka langsung melarangnya, "Udah nggak apa-apa, biarin aja di troli, trolinya aja yang diletakkan di antara kursi ini. Kamu dari sebelah sana, aku disebelah sini," kata Jaka.


"Oke Boss!" sahut Albert sambil tersenyum, dan mendorong troli makanan ke arah yang ditunjuk Jaka.


Baru saja troli makanan berhenti di tempat yang ditunjuk.


"Ayo kita makan," kata Jaka dengan semangat langsung mengambil piring makan.


Albert hanya tersenyum melihat tingkah laku Boss baru nya, sambil mengikuti Jaka mengambil piring makan.


Mereka berdua pun makan malam bersama dengan santai, sambil mengobrol ringan tentang keluarganya masing-masing.


Ternyata Albert sudah menikah di Amsterdam, tapi sudah setahun belum dikaruniai anak.


Albert kaget mendengar cerita Jaka tentang pernikahan ketiganya yang akan diselenggarakan besok di rooftop Hotel Grand Republik.


Jaka pun mengundang Albert untuk menghadiri acara pernikahannya.

__ADS_1


__ADS_2