
Jaka dan yang lainnya bersamaan keluar dari lift dan langsung menuju ke kamar masing-masing.
"Ayah, bunda, Ibu dan Emak, kami masuk ke kamar mau mandi dan istirahat dulu," kata Jaka, yang diikuti anggukan Rena dan Dira.
"Iya Nak, kami pun mau istirahat dulu, sahut Ayah yang diikuti anggukan kepala Bunda, Ibu, dan Emak.
"Dani dan Angga gabung di satu kamar aja ya, kalian kan cowok! Masak masih tidur dikamar yang sama dengan Ibu dan Emak," kata Jaka sambil tersenyum.
"Iya Bang, biar Emak tidur sama Mbak Dini," sahut Angga.
"Iya Mas, biar Ibu tidur sama Mbak Sania aja," sambung Dani.
"Tapi kami tidurnya dikamar yang mana Mas?" tanya dani, yang disertai anggukan kepala Angga.
"Terserah kalian berdua mau pilih kamar yang mana, karena seluruh kamar VVIP yang ada dilantai 7 ini, sudah dibooking semua." Jawab Jaka santai.
"Mas Jaka, emang keren banget," sahut Dani.
"Kami pilih kamar ini aja Bang," kata Angga sambil menunjuk kearah kamar yang berseberangan dengan kamar Jaka.
"Oke, lanjut," kata Jaka sambil tersenyum, dan berjalan memasuki kamarnya.
Diikuti semua orang yang ada disitu juga mengikuti memasuki kamarnya masing-masing.
__ADS_1
Dani dan Angga pun bergegas menuju kamar Ibu dan Emak, untuk mengambil barang-barang mereka. Dan kembali ke kamar baru mereka.
Roki, Ujang dan Zaki pun menelpon Jaka dengan tujuan untuk mendapatkan bantuan dari Jaka.
Disaat lagi negosiasi dikamar, tentang siapa yang akan mandi duluan. Jaka, Rena, dan Dira, dikejutkan dengan suara ketukan pintu dan langsung ada seseorang yang masuk ke dalam kamar itu.
"Sania?" kata mereka bertiga bersamaan.
"Dek Sania, ngapain kamu kesini membawa barang-barang mu?" Tanya Jaka bingung, sambil menggaruk-garuk kepalanya, yang tidak gatal.
"Emangnya aku nggak boleh ya Mas, tidur di kamar ini bersama kalian?" kata Sania sendu.
"Sania! Apa kamu sudah berpikir jernih dengan keputusan mu ini?" tanya Jaka penasaran.
Aku sudah berpikir jernih Mas, mangkanya aku kesini, lagian aku sudah ngomong sama Ibu kok Mas," jawab Sania.
"Sania! Kita itu belum muhrim lhoo, kamu jangan ngomong sembarangan ya? Gimana kalo kami mau olahraga malam, apakah kamu mau ikutan juga?" kata Jaka bingung.
"Kalo Mas Jaka mau olahraga malam, ya aku ikutan juga dong, nggak apa-apa kan Mas?" tanya Sania dengan polosnya.
"Astaghfirullahaladzim! Kamu serius dengan omongan kamu Sania?" tanya Jaka marah.
"Kok Mas Jaka istighfar dan marah sama aku Mas?" tanya Sania sendu dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ya iyalah Sania, aku nggak mau berzinah ya!" jawab Jaka tegas.
"Maksudnya apaan sih Mas? Apa hubungannya coba? Antara olahraga malam, dan berzinah?" tanya Sania dengan polosnya.
"Maksudnya Dek ... olahraga malam itu hanya kata kiasan, untuk menyebutkan hubungan suami-istri, hubungan badan, bercinta, apalagi ya bahasa yang bisa kamu mengerti?" kata Jaka yang bingung bagaimana cara menjelaskan ke Sania.
Tak lama kemudian Rena dan Dira pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk.
"Mas Jaka kepanjangan kasih penjelasannya. Yang pendek aja Mas, bilang aja kalo kita mau indehoy, dan mau bikin anak," sahut Dira sambil tersenyum, dan diikuti anggukan kepala Rena.
Sania pun tersipu malu, dan mukanya merah kayak kepiting rebus.
"Maafin aku ya Mas? Ternyata kalian semua pikirannya mesum," ucap Sania sambil berlari keluar dari kamar Jaka.
Yang diiringi dengan Rena dan Dira yang tertawa cekikikan.ðŸ¤ðŸ¤
"Lha! Kabur dia, mana barang-barangnya ditinggalkan lagi!" gerutu Jaka sambil tertawa terbahak-bahak. 😆😆
Jaka pun melepaskan rompinya, dan meletakkan rompi anti peluru itu di kursi meja makan yang ada di kamarnya.
"Ya sudahlah! Dek, kalian berdua aja yang mengembalikan barang-barang Sania ke kamar Ibu ya? Aku mau mandi dulu," kata Jaka.
"Iya Mas, Mas Jaka mandi aja dulu, nanti akan kami kembalikan barang-barang Sania ke kamar Ibu." Jawab Dira, yang diikuti anggukan Rena.
__ADS_1