SESUATU YANG TERTUNDA

SESUATU YANG TERTUNDA
06. Kepercayaan


__ADS_3

Hari Minggu pun tiba.


Pagi ini Jaka bersiap-siap, untuk pergi ke rumah calon mertuanya.


Dan setelah tiba dirumah calon mertua jam 07:00. Jaka pun mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum," katanya, sambil memencet bel rumah.


"Wa alaikumussalam warahmatullah," jawab Rena yang belum mandi, bergegas membuka pintu.


"Masuk Mas, kok pagi bener Mas, kirain jam 8_an," ceplos Rena.


"Sengaja Dek, biar Mas aja yang nungguin, jangan sampe Papa dan Mama yang nungguin Mas." balas Jaka semangat.


"Lhoo, ternyata calon mantu sudah datang," ucap Mama.


"Sudah sarapan belum Mas?" sambung Mama.


"Belum sarapan Ma, soalnya semangat, untuk menempuh hari esok yang lebih baik, jadi kelupaan sarapan," jawab Jaka apa adanya.


"Ya sudah kalo kayak gitu, sarapan bareng aja sama Mama Mas, ntar juga Papa nyusul." sahut Mama.


"Adek mandi dulu sana, bau jingong tau?" goda Mama.


"Iya Ma," sahut Jaka.


"Iihh mama, sembarangan kalo ngomong, Adek sudah sikat gigi tadi." Ucap Rena sewot, sambil bergegas mandi, dan bersiap-siap.


"Lhoo, Mas Jaka sudah datang. Ayoo Mas jangan malu-malu. Anak-anak mana Ma, kok belom keliatan?" ucap Papa. Setelah mengabari Pak Seno, bahwa mereka sekeluarga, mau ngeliat rumah, dan kebun, di kampung GIG.


"Tami nggak ikut Pa, katanya mau istirahat sambil ngerjain laporan kantor.


Kalo Rena, tadi barusan Mama suruh mandi Pa," Mama menjelaskan.


Setelah semuanya termasuk Rena sudah selesai sarapan, mereka pun berangkat menuju ke kampung GIG. Karena sudah bisa nyetir, dan punya SIM, Jaka yang membawa mobilnya, dan Papa duduk di sebelahnya sebagai navigator.


Jam 09:00 mereka pun sampai dikampung GIG. Setelah satu setengah jam perjalanan, dan mobil pun memasuki pekarangan rumah.


"Ini rumahnya. Rumah sederhana dengan desain minimalis," kata Papa sambil membuka pintu dengan kunci serep.


"Rumahnya, lumayan besar dan halamannya lumayan luas," gumam Jaka, yang terlihat bengong.😮😮


"Mas, Mas Jaka," panggil Rena sambil menepuk bahu Jaka.


"Oh iya sayang," ucapnya Jaka keceplosan.😂😂


"Eehmm... Eehmm... Ayoo masuk," kata Papa pura-pura batuk.


Mama hanya tersenyum melihat tingkah laku Jaka dan Sang suami.


"Beginilah keadaan rumahnya, lumayan kan?" sambung Papa.


"Kalo ini sih, bukan lumayan lagi Pa, bagus banget, dan rapi. Mana halamannya luas," jawab Jaka.


"Panjang tanah bangunan rumah ini 200m, dan lebarnya 100m. Terus dibelakangnya, ada kebun sawit berumur 7 tahun seluas 15 hektar, kebun mangga, dan durian, masing-masing luasnya 2 hektar, diantara kebun sawit, dan mangga, ada rawa selebar 15m." Papa menjelaskan.


"Tanah beserta bangunan dan kebun ini, Papa serahkan ke Mas dan Adek untuk mengurusnya. Terus terang Papa kan sudah tua Nak, capek ngawasin kebun secara langsung, jadi awalnya Papa nyuruh Gatot, karena dia rajin, dan jujur, untuk ngurusin proses panen, pemasaran, dan perawatan kebun sawit, dan buah-buahan. Awalnya setoran Gatot, perbulannya lumayan banyak, tapi akhir-akhir ini, terutama 6 bulan ke belakang, selalu menurun. Papa jadi curiga sama Gatot. Apa lagi Pak Seno, secara gak langsung, adalah mata-mata Papa di kebun. Jadi gimana menurut kamu Mas, prospek dan rencana ke depannya," ucap Papa.


"Prospeknya sangat bagus Pa. Tapi, Jaka harus survei dulu Pa. Untuk sawit berapa harga di pengepul, dan berapa harga pabrik. Trus untuk buah berapa harga pengepul, dan berapa harganya, kalo langsung dijual ke minimarket,dan swalayan.


Dan sekaligus Jaka mau cari tau dulu, tentang Gatot kata Papa tadi.


Kedepannya, halaman rumah juga bisa digunakan sebagai tempat usaha," sahut Jaka bersemangat.


"Inilah yang Papa sebenarnya suka, dari watak kamu, jujur, kreatif, pekerja keras, dan ngomongnya, ceplas-ceplos apa adanya," sahut Papa.


Lalu terdengarlah suara seseorang dari pintu depan.


"Assalamu'alaikum. Assalamu'alaikum." Teriak Pak Seno.


"Kayaknya ada tamu." Kata Papa.


"Wa alaikumussalam warahmatullah."


Balas Jaka dan Rena, sambil berjalan beriringan, menuju ruang tamu. Mereka semuanya tadi, sedang berkumpul di ruang tengah rumah tersebut.


"Pak Seno kan?" tanya Rena ragu-ragu.


"Iya Nak, saya Pak Seno tetangga sebelah itu," jawabnya, sambil menunjuk rumahnya.


Rena pun langsung mencium tangan Pak Seno diiringi Jaka. Tak lama kemudian Papa dan Mama pun bergabung. Papa pun langsung menyalami Pak Seno.


"Pak Seno, apa kabar Pak?" tanya Mama ramah, sambil bersalaman.


"Alhamdulillah sehat Bu," jawab Pak Seno segan.

__ADS_1


Pak Seno memang sangat segan, dengan keluarga Pak Hadi Rudyatmo, yang sudah banyak membantunya, dan keluarganya.


"Gadis cantik ini, Nak Rena kan Pak? Trus yang ganteng ini siapa? Kok kayaknya saya belom pernah liat," kata Pak Seno.


"Pak Seno benar, cewek ini Rena, dan yang cowok bernama Jaka, Pak Seno. Dia yang nantinya akan mengawasi, dan mengurus perkebunan, dan mungkin juga tinggal di rumah ini. Dan Jaka itu, calon mantu kami," sahut Papa bangga.


"Saya pangling Pak?


Oh iya Pak, karena keasyikan ngobrol, saya hampir lupa, pesan istri saya, kalo Pak Hadi sekeluarga berkenan, mampir ke gubuk saya Pak, istri saya sudah menyiapkan, makan siang Pak." Ajak Pak Seno.


"Aduh Pak Seno, nggak usah repot-repot lho Pak, yang ada aja keluarin semua," seloroh Papa, sambil melihat ke arah Jaka.


"Pak Hadi bisa aja," sahut Pak Seno.


"Iidih Papa, kayaknya udah mulai ketularan Mas Jaka nih," ceplos Rena.


"Iya niih Papa nggak kreatif. Untung belum di ajukan Mas Jaka hak patennya." Sambung Mama sambil tersenyum.


Jaka yang jadi perhatian cuma cengar-cengir.😉😉😅


"Mari. Pak, Bu, semuanya, kita makan siang, bersama dirumah saya," kata Pak Seno.


Mereka semuanya ikut Pak Seno kerumahnya.


Sebenarnya Pak Hadi, dan Seno, adalah saudara angkat, tapi mereka menyembunyikan identitas mereka, sampai sekarang.


Yang pastinya sampai identitas, Anak Sang pemilik tanah, dan kebun yang mereka urus terkuak.


"Assalamu'alaikum," kata mereka bersamaan.


"Wa alaikumussalam warahmatullah. Waaah. Alhamdulillah, tamu dari kota sudah datang." Balas Bu Seno.


"Silahkan masuk Pak Hadi, Bu Mirna, Adik-adik ayo masuk. Langsung ke ruang tengah aja ya. Kita makan siang bersama," sambung Bu Seno sambil ngeliatin Rena dan Jaka.


Bu Mirna memperhatikan Bu Seno.


"Itu Rena dan Jaka Bu, calon mantu kami," ucapnya sambil tersenyum.


"Oh jadi yang cantik ini Nak Rena ya.


Maaf Nak Rena, ibu pangling," balas Bu Seno.


"Ayoo, Ayoo. Kita makan dulu. Kok jadi pada ngobrol, nanti aja ngobrolnya setelah makan. Tapi maaf ya, makan ya seadanya, dan jangan malu-malu," sahut Bu Seno merendah sambil tersenyum.


"Bu Seno bisa aja, lauk-pauk sebanyak ini, sampe mejanya penuh, dibilang seadanya," ucap Mama memuji.


Bu Seno penasaran, dengan Jaka, Bu Seno selalu memperhatikan gerak-gerik, dan cara bicaranya.


"Kok aku ngerasa kalo Mas Adjie, dan Mbak Fira, ada disini bersama anak laki-laki itu." Gumam Bu Seno.


"Iyaa bener. Ayoo, ayoo silahkan," balas pak Seno sambil tersenyum.


Mereka pun makan siang dengan keceriaan. Dan rumah Pak Seno pun jadi rame penuh dengan canda tawa mereka.


"Pa, kalo boleh. Jaka mau liat-liat kondisi kebun, dan batas tanahnya nanti," kata jaka bersemangat.


"Iyaa boleh dong Mas," jawab Papa.


"Nanti bareng saya saja Mas Jaka, kita keliling kebun bermotor. Mas Jaka mau kan, tapi naik motor butut? Motor khusus ke kebun," sahut Pak Seno ramah.


"Mau dong Pak, mau banget. Butut-butut nggak apa-apa Pak, asalkan motor," seloroh Jaka dengan semangat.


"Rena ikut Mas," ceplos Rena.


"Duh yang lagi kasmaran, maunya nempel aja, kayak prangko," goda Mama.


"Iihh Mama, aku kan cuma pengen tau aja Ma," jawab Rena sewot.


"Pengen tau aja, apa pengen tau banget?" Papa pun ikut godain anaknya.


"Cie cie cie. Kompak beneer Papa dan Mama. Orang tua siapa sih ini," sahut Jaka 😉😉


Pak Seno dan sang istri, hanya tersenyum melihat tingkah laku keluarga ini.


Tak lama mereka berempat pun berkeliling kebun dengan 2 buah sepeda motor. Karena Pak Hadi sudah lama nggak pake motor, dan agak kaku


mengendarai motor.


Akhirnya Pak Seno membonceng Papa, dan Jaka membonceng Sang kekasih tercinta. Seperti kata pepatah sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui.


"Ayoo pelukannya nggak usah kencang-kencangnya. Pegangannya aja yang di kencangin." Goda Mama sambil tertawa 😆😆


Rena pun hanya bisa pasrah, dan tersipu, digodain Sang Mama terus.😚😚


Mama pun ngobrol dengan Bu Sena, biasa, obrolan Emak-emak.

__ADS_1


"Mbak, aku kok ngerasa ada kemiripan, antara almarhum Mas Adjie dengan Jaka ya?" kata Ratih istri pak Seno.


"Iya Ratih, aku dan Mas Hadi juga ngerasain, hal yang sama," sahut Mama.


Hampir 2 jam, mereka berempat mengelilingi kebun itu. Jaka pun mulai memikirkan, apa rencana yang akan dilakukan kedepannya, untuk tanah yang di amanah kan, Sang calon Papa mertua kepadanya.


Setelah puas berkeliling kebun mereka pun kembali ke rumah Pak Seno.


"Gimana Mas Jaka, apakah kamu sudah ada ide?" ucap calon Papa mertuanya.


"Kayaknya sudah mulai ada Pa. Dan, Jaka tau harus memulai dari mana," sahut Jaka.


"Emang apa rencananya Mas?


Papa mau tau dong," sambung Papa.


"Papa mau tau aja, atau mau tau banget," goda Jaka narsis.


"Waduh, kayaknya ada yang bales Papa niih," sahut Papa.


"Ya udahlah, kalo Mas belum mau cerita," sambung Papa.


"Jangan sekarang Pa, jadi nggak surprise lagi dong. Nanti Papa pasti tau kok, kalo rencananya, sudah berjalan dengan baik, dan sempurna.


"Kan hasil kebunnya Jaka setor ke Papa, sambil nyetor duit sambil cerita Pa," balas Jaka.


"Iyaa sudah, kalo kayak gitu," jawab Papa pura-pura kecewa.


"Yee, Papa gitu. Nantikan Papa bisa nanya, ke Rena Pa, atau Papa bisa gabung, waktu Jaka ngapelin anak Papa," sahut Jaka sambil tersenyum jahil.


"Waah, bagus ya. Kayaknya kamu udah pinter ngerjain Papa," ucap Papa sambil tersenyum.


"Ya iyalah Pa, siapa dulu calon mertuanya,"ceplos Rena.


Hahaha. Mereka semuanya tertawa terbahak-bahak, begitu juga Pak Seno dan Sang istri.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 16:10.


Akhirnya Papa dan Mama pun pamit, lalu saling bersalaman. Jaka dan Rena pun mencium tangan Pak Seno dan Bu Seno bergantian, lalu pamit undur diri, agar tidak kemalaman sampai dirumah.


Jaka pun bergegas menyetir mobil, dengan Rena duduk disebelahnya.


Tak ada obrolan didalam mobil, karena Papa, Mama, dan Sang kekasih tercinta, tertidur dimobil. Jaka pun sedikit membesarkan volume music untuk menemaninya mengemudikan mobil.


Setelah satu setengah jam perjalanan, karena Jaka menyetir mobilnya santai. Sampailah mobil didepan rumah Sang calon mertua, lalu Jaka pun bergegas membuka pintu pagar lalu memarkirkan mobil didepan garasi.


Disaat mobil berhenti, penumpang didalam mobil pun terbangun dari tidurnya.


"Sudah nyampe ya Mas?" tanya Papa.


"Iya Pa, baru aja sampe," jawab Jaka.


Reni pun bergegas membuka pintu garasi dan membuka pintu rumah, lalu masuk untuk membuatkan minuman.


Jaka mengeluarkan motornya dari garasi, setelah Papa, dan Mama, turun dari mobil. Jaka pun memasukkan mobil ke garasi.


"Masuk dulu Mas, istirahat?" kata Papa.


"Iya Pa, bentar nutup garasi dulu," jawab Jaka.


Tak lama kemudian dia masuk, dan duduk, di sofa ruang tamu.


"Capek ya Mas?" tanya Mama.


"Nggak Ma, sebenarnya tadi Jaka mau langsung pulang, tapi karena Papa nyuruh istirahat dulu, jadi Jaka tunda dulu." Jawabnya.


"Pulangnya nanti aja, setelah makan malam bersama ya Mas," kata Rena sambil membawa nampan, berisi minuman.


"Silahkan dinikmati, semuanya," sambung Rena.


"Iya Mas, makan malam aja dulu," ucap Papa.


"Iyaa Papa," jawab Jaka, sambil menyeruput secangkir kopi.


Mama berjalan menuju dapur, dan melihat si Bibi, yang sedang menyiapkan makan malam.


"Bibi, apakah makan malam nya sudah siap?" tanya Mama.


"Sudah Bu," jawab Bibi.


Mama pun berjalan menuju ruang tamu lagi.


"Ayoo semua nya, makan malam dulu yuk," ajak Mama.


Mereka pun menuju meja makan, dan makan malam bersama. Tak lama setelah makan.

__ADS_1


Jaka pun kembali duduk ke ruang tamu. Dan melanjutkan acara minum kopinya, sambil ditemani Rena mengobrol.


Tak lama berselang kopi pun habis dan Jaka pun pamit undur diri ke kontrakannya.


__ADS_2