
Jaka terbangun dari tidurnya, karena bunyi alarm HP, yang memang dia setel.
Dia pun bergegas bangun untuk mandi. Dan menjalankan kewajibannya seperti biasa.
"Ternyata Anak Bunda sudah bangun tidur nih, Bunda kirain masih molor dikamar. Sudah sholat Subuh Nak?" tanya Bunda.
"Yee Bunda! Jaka tuh selama di GIG cuma bangun kesiangan sekali Bun, itupun gara-gara begadang sama Ayah.
Belom Bun, nih baru mau ke kamar, mau sholat dulu." sahut Jaka.
"Ya sudah sana, buruan sholat. Sudah itu sarapan ya," balas Bunda.
"Iya Bun," jawab Jaka sambil tersenyum dan berjalan menuju kamarnya.
"Jaka sudah bangun Bun?" tanya Ayah yang baru selesai sholat, yang tak sengaja mendengar percakapan mereka barusan.
"Sudah Mas, tuh baru masuk kamar, mau sholat Subuh dulu," jawab Bunda.
Selesai sholat, Jaka pun keluar dari kamarnya, untuk sarapan pagi. Setelah selesai sarapan, Jaka pun membawa kopinya ke teras depan rumah.
Karena melihat daun kering berserakan, Jaka dengan semangat mengambil sapu lidi, dan mengumpulkan daun kering tersebut dan membakarnya.
Setelah selesai Jaka kembali duduk, di kursi teras depan rumah sambil menyeruput kopinya, lalu mengambil sebatang rokok kreteknya, dan membakar daun kering yang ada di rokoknya.
Sang Ayah pun datang ke teras depan rumah, langsung duduk disebelah Jaka, di iringi Bunda dengan membawa segelas kopi.
"Lhoo, siapa yang membersihkan halamannya?" tanya Bunda, saat melihat tumpukan daun kering yang terbakar.
"Nggak tau Bun! Jaka kesini tadi memang sampahnya sudah terbakar," sahut Jaka pura-pura tidak tahu.
Ayah pun cuma tersenyum, melihat tingkah laku Sang Anak.
"Masak sih bisa, sampai daun keringnya terkumpul dan terbakar sendiri?" ucap Bunda.
"Bunda, yang ngumpulin daun kering, dan membakarnya itu kan anakmu," ceplos Ayah.
"Oh, Jaka mau ngerjain Bunda ya? Mau Bunda jewer lagi telinganya," sahut Bunda.
"Nggak Bun, nggak usah repot-repot, terima kasih atas tawarannya," sahut Jaka sambil memegang telinganya.
"Bunda kopinya dong, jangan dipegangi terus," ucap Ayah mengalihkan perhatian Sang istri.
__ADS_1
"Ini Yah, kopinya," kata Bunda. Yang lupa kalo lagi memegang segelas kopi hitam.
Lalu terdengar suara dering HP dari kamar depan.
"Jaka ambil HP dulu dikamar, kayak ada yang telpon," sahut Bunda.
"Iya Bun," ucap Jaka sambil beranjak dari duduknya, untuk mengambil HP.
Terlihat nama Gatot di layar HP nya dan Jaka pun langsung menerima telpon itu.
"Halo, Assalamu'alaikum," ucap Jaka. Sambil keluar dari kamarnya, menuju ke teras depan.
"Siapa Nak?" tanya Ayah penasaran.
"Gatot Yah," sahut Jaka.
"Wa alaikumussalam warahmatullah. Abang dimana Bang?" tanya Gatot.
"Aku dirumah Ayah, ada apa?" sahut Jaka.
"Oh iya Bang, aku kesana," balas Gatot sambil memutuskan panggilan teleponnya, dan bergegas kerumah Ayah angkat Jaka.
"Assalamu'alaikum," ucap Gatot sambil bersalaman, dengan semua yang ada di sana.
"Iya Pak Seno," jawab Gatot ramah.
"Assalamu'alaikum," ucap Papa, Mama, Tami dan Rena bersamaan.
"Wa alaikumussalam warahmatullah, ayo masuk Mas Hadi, Mbak dan semuanya, langsung ke dalam aja," sahut Bunda sambil tersenyum ramah.
"Nak Gatot sudah sarapan? Ayoo, sekalian sarapan bareng," sambung Bunda ramah.
"Iya, ayo Mas Gatot, kita sarapan sama-sama," sahut Papa.
"Iya sana sarapan dulu," ucap Jaka dan Ayah bersamaan.
"Nggak apa-apa nih Pak?" sahut Gatot ragu.
"Ya nggak apa-apa dong, kalo kamu nggak enak sarapan didalam, bawa kesini aja sarapannya," balas Jaka sambil tersenyum.
Gatot pun bergegas masuk, mengikuti Bu Seno dan Pak Hadi sekeluarga mengambil sarapan.
__ADS_1
Tak lama kemudian Gatot pun duduk lagi di kursi teras, sambil membawa sepiring sarapan, dan secangkir kopi.
"Bang sebenarnya aku kesini, mau ngomongin tentang tenaga pemanen hasil kebun," sahut Gatot, sambil memegang piring, dan meletakkan cangkir kopi nya di meja.
"Ya udah nanti, sekarang kamu sarapan dulu," balas Jaka sambil tersenyum.
"Iya sarapan aja dulu," sambung Ayah.
Gatot pun bergegas sarapan. Jaka dan ayahnya melanjutkan kegiatan mereka, mengatur nafas lewat sebatang rokok sambil ngopi.
"Yah, kalo Jaka boleh tau, kenapa Om Dodi bilang di telpon, tentang salah satu pesan Almarhum papa. Berarti Almarhum papa berpesan lebih dari satu dong?" ucap Jaka penasaran.
"Iya Nak, memang benar bahwa Almarhum papa mu mempunyai beberapa pesan terakhir untuk mu dan untuk kami," jawab Ayah tegas.
Tapi itu dibahas nanti aja, nunggu Om Dodi, Om Harto mu, dan yang lainnya ngumpul disini, jawab Ayah bijak.
Jaka pun terdiam, mendengar perkataan Ayah barusan. Padahal Jaka berharap ada sedikit bocoran cerita, mengenai pesan Almarhum Papanya.
"Ayah masuk dulu ya? Mau buang air kecil," kata Ayah.
"Iya Yah," sahut Jaka.
Gatot pun menyelesaikan sarapannya, lalu menyeruput kopinya, dan memulai kegiatan mengatur nafas.
Tanpa basa-basi lagi, Gatot langsung menceritakan tujuannya.
"Bang, aku sudah mendapatkan 10 orang, yang bakal menjadi tenaga pemanen hasil kebun kita," kata Gatot semangat.
"Kira-kira masih bisa nambah apa nggak jumlah tenaganya?" tanya Jaka dengan antusias.
"Insya Allah bisa, cuma harus dicari dulu. Emangnya yang dibutuhkan berapa orang Bang? Nanti aku koordinasikan dengan Nanang Bang." Kata Gatot.
"Butuhnya sementara ini sekitar 50 orang, ke_50 orang itu bekerja sebagai tenaga panen, dan tenaga perawatan kebun!" kata Jaka tegas.
"Nanang? Iya Nanang," kata Jaka sambil tersenyum dan mencari nomor di HP nya, dan menelpon nomor tersebut.
Panggilan telepon pun masuk.
"Halo. Assalamu'alaikum, kamu dimana Nang?" tanya Jaka.
"Wa alaikumussalam warahmatullah, aku disini Bang," jawab Nanang sambil tersenyum, dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu disitu Nang?" tanya Jaka lagi, sambil mematikan panggilan telepon nya.
"Sejak ditelpon barusan Bang." Jawab Nanang dengan polosnya.