
Semua orang yang ada disitu pun memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan.
Sania pun mulai mencium bau kejahilan calon suaminya.
"Mas Jaka! Mas, nggak lagi ngerjain aku kan?" tanya Sania penasaran. Yang diikuti dengan senyuman semua orang yang ada disitu.
"Nggak kok Dek, Mas nggak lagi ngerjain Adek kok! Mas kan lagi makan kue, ya kan?" tanya Jaka yang pura-pura bingung.
"Udahlah Mas, ngaku aja," sahut Rena sambil tersenyum.
"Iyaa Mas, ngaku aja, kata Dira sambil tersenyum jahil.
"Ngaku aja Nak," kata Ibu dan Bunda bersamaan.
"Iya Mas, ngaku aja," kata Dani sambil tersenyum.
"Waah! Kayaknya sudah main keroyokan nih," sahut Jaka sambil tersenyum.
"Ternyata Mas Jaka jahilnya kebangetan ya," kata Sania sewot, dan langsung memberi kode bertukar tempat dengan Rena, lalu Sania pun menyelipkan tangannya dibawah rompi dan langsung mencubit pinggang Jaka.
"Aduuh, aduuh, mana tahan," teriak Jaka sambil bersenandung. Sambil menjatuhkan garpu yang dipakainya ke piring kue.
Triing ...
Yang diikuti dengan gelak tawa semua orang yang ada disitu.
Sania pun menguatkan cubitannya.
__ADS_1
"Aduuh, aduuh, sakit sayangku, cintaku dambaan hatiku. Jangan dicubit lagi ya? Di cium aja," kata Jaka merayu.
"Enak aja," sahut Sania setelah puas mencubit pinggang Jaka.
"Yee, ntar kalo mau ngasih awas ya?" seloroh Jaka.
"Dasar ganjen," sahut Sania.
Yang membuat muka Sania memerah seperti kepiting rebus, diikuti senyuman Rena, Dira dan yang lainnya.
Jaka pun melihat jam ditangan kirinya, yang menunjukkan jam 15:50.
Lalu Jaka pun bergegas menghabiskan makanan dan minuman yang dipesannya. Rena, Dira dan Sania pun mengikuti Jaka.
"Fendi, tolong selesaikan urusan makanan dan minuman yang sudah dipesan ya, nanti kalo duitnya kurang, kamu kabari aku!" kata Jaka tegas.
"Aku mau mandi Fendi, gerah! Gara-gara abis di cubitin calon Mbak mu," kata Jaka sambil tersenyum.
"Lha, itukan ada kolam renang Bang? Kan tinggal nyebur aja," seloroh Fendi.
"Fendi!" kata Jaka tegas.
"Mangap Bang, mangap," seloroh Fendi.
"Mangap, mangap? Maaf!" kata Jaka.
"Iya Bang, aku maafin," jawab Fendi.
__ADS_1
"Awas! Kamu ya," kata Jaka sambil tersenyum jahil.
Jaka pun melihat lift di dekat cafe dan resto tersebut, dan langsung diikuti oleh yang lainnya.
Kecuali Fendi, karena dia harus menyelesaikan pembayaran makanan dan minuman yang sudah dipesan dan dimakan.
Setelah Fendi melakukan pembayaran, semua kru cafe dan resto itu pun mendekati Fendi. Ada orang 20 termasuk Sari.
"Siapa itu tadi Bang?" tanya Sari, yang tadi sempat melayani Jaka memesan kopi dan jus pokat.
"Itu tadi, Boss baru kita Sari, Jaka Pambudi! Orang yang harus kita jaga dengan mempertaruhkan jiwa dan raga kita!" sahut Fendi tegas.
Apakah semua orang, sudah tau Bang? Dengan status Boss baru kita ini?" tanya Sari.
"Belum semuanya Sari, kita masih harus menutup rapat identitas Boss baru kita ini, takutnya kejadian di masa lalu terulang lagi. Kita harus bersiap-siap mengungkapkan tragedi kematian, kedua orang tua Bang Jaka!" kata Fendi tegas.
"Siap Bang!" sahut Sari.
"Apakah kalian semuanya siap menjalankan tugas, dan tanggung jawab kita!" kata Sari tegas.
"Kami siap Ndan!" jawab ke_19 orang bawahannya serempak.
"Baiklah, tutup identitas kalian semua, dan kembali ke posisi semula!" kata Fendi tegas.
Tanpa menjawab, mereka semua membubarkan barisan dan kembali ke posisi semula.
Fendi pun bergegas menuju kantor manajer Hotel, untuk melihat laporan, persiapan acara akad dan resepsi pernikahan dirooftop Hotel lewat komputer yang ada di ruangan tersebut.
__ADS_1