
Akhirnya Jaka pun menghabiskan makanannya, dia pun meminum jus pokat separuh, Lalu beranjak dari duduknya, untuk mengambil rokoknya di mobil.
Jaka pun mengambil sebatang rokok kreteknya, dan menyalakan rokoknya, dengan santai. Lalu kembali duduk ke pondok.
Ayah, Bunda, Dani, Rena, Dira dan Tante Maryam pun menyelesaikan makan siang mereka. Dan sama-sama menikmati jus pokat mereka.
"Jaka kenapa kamu tidak menanyakan alamat mereka ber_8, atau meminta salah satu KTP mereka?" tanya Ayah penasaran.
"Sengaja Yah, kalo omongan Roki, Ujang, dan Zaki bisa dipegang, lalu mereka berniat untuk berubah, dan merubah diri mereka, menjadi lebih baik. Mereka ber_8 pasti akan mendatangi Jaka Yah," kata Jaka tegas dan pede.
"Mas Harto dan Papi mu memang benar! Watak dan karakter kamu memang sama, seperti Mas Adjie dan Mbak Fira." Kata Papa.
"Dan itu memang terjadi, dan terlihat dari cara kamu bicara, dan mengambil sikap, untuk menyelesaikan masalah." Sambung Ayah bijak, sambil tersenyum bangga.
Yang lainnya mengangguk bersamaan,dan cuma menyimak obrolan Ayah dan Jaka.
"Jalan hidup itu pilihan Yah, dan semua yang kita jalani, adalah pilihan kita sendiri. Walaupun berhasil atau tidaknya usaha seseorang tetap tergantung kepada takdir, dan ketentuan Allah. Tapi kita tidak boleh menyerah pada nasib kan Yah? Karena hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha yang dilakukan sepenuh hati." Ucap Jaka bijak.
"Iya Jaka, kamu sangat benar," seloroh Ayah.
"Keren banget bahasanya Mas, Aku jadi tersentuh," kata Dira sambil tersenyum.
"Mas Jaka emang keren banget Mbak Dira," sahut Dani dan Rena bersamaan.
Yang disertai anggukan kepala Bunda dan Tante Maryam.
__ADS_1
"Jaka, Dira, dan Rena, kalo aku bisa request, tolong panggil aku, Ibu aja ya, seperti Dani. Biar sama, soalnya kalian ada yang panggil Bude, ada yang panggil Tante," kata Tante Maryam.
"Oke deh Tante Maryam, mulai dari sekarang kami akan panggil Tante Maryam dengan sebutan Ibu," sahut Jaka sambil tersenyum manis.
"Iya Ibu," sambung Rena dan Dira antusias.
"Dani juga ya, panggilannya dirubah. Nggak ada panggilan Tante, Om, Bude dan Pakde lagi," sahut Ibu.
"Iya Ibu," jawab Dani.
"Kami setuju aja Mbak Maryam," sahut Ayah dan Bunda bersamaan sambil tersenyum.
Bunda, Ibu, Rena dan Dira pun membereskan piring kotor, dan memasukkan ke dalam box Tupperware.
Tak lama kemudian, datanglah Pak Ruhut membawa 4 orang anggota Satpam, menggunakan mobil patroli areal perkebunan. Mobil pun berhenti di dekat pondok.
"Siap Pak," sahut ke-4 anggotanya.
"Kami langsung menuju kantor ya Pak," sahut salah satu anggotanya.
"Ya silahkan," kata Pak Ruhut tegas.
Pak Ruhut pun mendekat ke arah Jaka.
"Tugas sudah selesai dilaksanakan Pak, menunggu instruksi selanjutnya," kata Pak Ruhut tegas.
__ADS_1
"Terima kasih ya Pak," sahut Jaka ramah.
"Siap Pak Jaka, sama-sama." Jawab Pak Ruhut.
"Saya titip areal perkebunan sawit ini ya Pak. Kalo ada apa-apa, langsung aja telpon saya!" sambung Jaka tegas.
"Siap Pak Jaka," kata Pak Ruhut.
"Apakah ada yang lain Pak?" sambung Pak Ruhut.
"Untuk sementara ini, cukup Pak, belum ada yang lain!" sahut Jaka tegas.
"Siap Pak Jaka, izin kembali ke markas Pak," balas Pak Ruhut.
"Oke Pak Ruhut, silahkan! Terima kasih ya Pak," sahut Jaka tegas.
"Mari Bapak-bapak, dan Ibu-ibu saya pamit ke markas Satpam," ucap Pak Ruhut sambil menganggukkan kepalanya.
"Silahkan Pak," sahut Ayah, yang diikuti dengan anggukan yang lainnya.
Pak Ruhut pun bergegas ke mobil patroli areal perkebunan, dan bergerak meninggalkan tempat itu.
Terima kasih ya atas kunjungan dan dukungannya.
Author akan selalu mengusahakan untuk update episode terbaru.
__ADS_1
Karena terbentur dengan waktu kerja sebagai supir kendaraan dinas perusahaan.
Mohon maaf jika ada kata yang salah dan kurang berkenan.🙏🙏