
Jarko agak terkejut mendengar perkataan Fendi barusan. Dan dia masih bingung mengapa Fendi membawa Pak Jaka dan dirinya ke ruangan Direktur Utama Bank KH.
"Silahkan masuk Pak Jaka, ini ruangan Bapak." Kata Fendi, yang diikuti dengan keterkejutan Jaka dan Jarko.
"Apa maksud kamu Pak Fendi!" kata Jaka penasaran.
"Iya Pak Jaka, saya nggak main-main dengan kata-kata saya Pak. Nama Anda, Jaka Pambudi kan Pak?" tanya Fendi.
"Iya benar itu nama saya!" jawab Jaka tegas.
"Dan ruangan Direktur Utama Bank KH ini, adalah ruangan kerja Anda. Karena Anda adalah, anak dari Almarhum pak Setyo Adjie Pambudi. Sang pemilik Bank KH, dan beberapa properti lain, di Ibukota DC." Sahut Fendi ramah.
"Kalo Anda nggak percaya, Anda bisa masuk keruangan khusus anda itu, karena hanya anda, yang tau kode masuk ke ruangan itu." Sambung Fendi, yang diikuti dengan keterkejutan Jaka dan Jarko.
"Silahkan duduk Pak Jaka, Bang Jarko. Maaf kalo saya bersikap lancang, karena menyuruh Bapak duduk, di ruangan Bapak sendiri." Kata Fendi, sambil menundukkan kepalanya.
Jaka pun mengingat pesan Papanya yang selalu diulang-ulang Papa, sewaktu dia pulang dan liburan sekolah, sebelum masuk SMP, semasa Papa dan Mama masih hidup.
Bahwa Papa akan membuat satu pintu yang hanya Papa, Mama, dan Jaka yang bisa masuk melalui pintu itu.
Kode password nya, adalah hari ulang tahun Mama mu.
Yang didalamnya ada brangkas besar, yang kode password nya hari ulang tahunmu Jaka.
__ADS_1
Jaka pun tanpa sadar meneteskan air matanya, yang sudah membasahi pipinya.
'Ternyata Papa berhasil menggapai cita-cita nya," kata Jaka, sambil meratapi kepergian, papa dan mama lewat foto keluarga yang ada dimeja ruangan itu.
"Yang sabar Pak Jaka," kata Jarko yang berusaha menghibur Jaka.
"Terima kasih Pak Jarko," sahut Jaka, sambil mengelap air matanya, dengan tisu yang ada di meja, dan berusaha untuk tersenyum.
"Panggil saya Jarko aja Bang, itu pun kalo saya boleh memanggil Anda dengan sebutan Bang Jaka?" sahut Jarko.
"Nggak apa-apa Jarko, kamu boleh panggil aku Bang Jaka,' kata Jaka sambil tersenyum.
"Terima kasih Bang," sahut Jarko.
Jadilah Putra Papa dan Mama yang tangguh, bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur.
Apakah Bang Jaka ingat pesan terakhir, Almarhum dan Almarhumah Bang?" tanya Jarko tegas.
"Aku ingat Jarko. Terima kasih ya. Kamu tau dari mana kata-kata terakhir itu?" tanya Jaka tegas.
"Aku melihat video itu Bang, karena aku adalah anak bodyguard, sekaligus supir pribadi Almarhum papa dan mama Bang Jaka," sahut Jarko yang tanpa sadar, meneteskan air matanya.
Jaka pun mengusap air mata Jarko dengan tisu ditangannya.
__ADS_1
"Berarti kau ini anaknya, Om Jarwo dan Tante Komariah?" tanya Jaka antusias.
"Iya Bang," sahut Jarko terisak.
Jaka pun langsung bergegas memeluk Jarko, yang menangis.
"Jarko kalo kamu ingin menangis, menangislah hari ini, tapi kalo kau menangis lagi besok awas kau!" Kata Jaka tegas.
"Apa kabar Om Jarwo" dan Tante Kokom, Jarko?" tanya Jaka penasaran.
Jarko pun tambah terisak-isak menangis,ðŸ˜
"Abah meninggal, bareng dengan kejadian meninggalkannya Almarhum papa, dan Almarhumah mama Bang Jaka, sedangkan emak meninggal, karena sakit, dua bulan setelah Abah meninggal." Jawab Jarko. sambil membuang ingus nya, menggunakan tisu yang ada dimeja.
"Ternyata nasib kita sama, trus adik-adik mu kemana Jarko?" tanya Jaka penasaran.
"Sepeninggalan Abah, dan Emak, kami bertiga diangkat anak, oleh Ayah Haryo Almarhum, dan Ibu Maryam Bang. Sania masih kuliah di Universitas negeri Republik, semester akhir Bang, sebentar lagi dia akan wisuda." Jawab Jarko.
"Kalian berdua tinggal di mana sekarang?" tanya Jaka lagi.
"Kami berdua tinggal di Mes karyawan, dibelakang Hotel Grand Republik Bang," jawab Jarko.
"Jangan-jangan adik ketiga mu Dani ya?" tanya Jaka.
__ADS_1