SESUATU YANG TERTUNDA

SESUATU YANG TERTUNDA
18. Tak diduga


__ADS_3

"Sekarang semuanya terserah pada mu Jaka, apapun keputusan mu akan kami terima dengan baik, lapang dada, dan rasa bangga, karena kami sudah menjalankan, dan menyampaikan salah satu pesan terakhir mas Adjie papamu." Ucap Om Dodi sambil tersenyum bangga.


Jaka hanya terdiam, dan masih syok dengan apa yang terjadi, dan dia dengar barusan. Dia bingung. 😕😕


"Ya sudah kalo kayak gitu, aku istirahat dulu. Karena besok aku, dan Mas Harto serta anak dan istri almarhum Mas Haryo akan mampir ke sana. Kita akan ngobrol langsung, dan menunggu keputusan Jaka! Assalamu'alaikum," ucap Om Dodi ramah dan tegas.


"Iya Mas, kami tunggu kedatangannya." Jawab Ayah dan Papa.


'Wa alaikumussalam warahmatullah," jawab Ayah dan Papa bersamaan.


video call pun ditutup.


Akhirnya Jaka pun tersadar dari syok nya setelah mendengar ucapan salam tadi, dan dia pun membalas ucapan itu.


"Wa alaikumussalam warahmatullah."


Papa dan Mama serta yang lainnya, menyadari kejadian yang dialami oleh Jaka barusan.


"Apakah kalian semua akan meninggalkan Jaka, setelah apa yang terjadi barusan?" tanya Jaka sendu, sambil mengambil sebatang rokok kretek, dan menyalakan rokoknya, lalu menghisapnya dalam-dalam.


Jaka pun melanjutkan meminum kopinya, sambil merokok.


"Maksud kamu apa Mas?" tanya Papa bingung. 😕😕


Mereka semua menatap Jaka, dengan tatapan bingung.


"Tadi kan Om Dodi bilang, kalo apapun keputusan Jaka, kami akan terima dengan baik, lapang dada, dan rasa bangga, karena kami sudah menjalankan, dan menyampaikan pesan, serta amanat terakhir Almarhum papa. Apakah itu berarti kalian semuanya, akan meninggalkan Jaka?" ucapnya sendu 😓😓


"Jaka, Jaka! Nak, orang biasanya akan senang dan bahagia, mendengar kalo dirinya mendapatkan uang dan harta yang berlimpah, tapi kamu aneh," ucap Ayah sambil tersenyum, lalu mengambil sebatang rokok, dan menyalakan rokoknya.


"Iya Mas Jaka aneh, kata" Rena dan Tami kompak.


Sedangkan Mama, dan Bunda hanya tersenyum.

__ADS_1


"Mas, Mas" maksud mas Dodi tadi, kamu adalah pemilik sah, semua rumah, beberapa perusahaan, dan showroom. Dan kamu harus mengambil keputusan, apakah semua aset itu mau dirubah atas nama mu, atau dibiarkan masih atas nama mas Adjie Almarhum papa mu. Masalah kami masih bisa tinggal di rumah, mengelola perusahaan, dan showroom, yang Mas miliki atau nggak kan, tergantung izin dari yang punya aset kan?" ucap Papa panjang kali lebar.


Mas Jaka aneh banget,


yang seharusnya bersikap, seperti Mas Jaka barusan itu, seharusnya kami semua Mas, kalo Mas Jaka mau ngusir kami semua yang ada di sini, Mas Jaka bisa kok, dan kami harus menerima dengan baik, lapang dada, dan bangga diusir oleh Mas Jaka!" ucap Rena sewot


Oh gitu ya, berarti?" sahut Jaka sambil tersenyum jahil 😉😉🤔👿


"Berarti, apa Mas?" tanya Rena bingung 😕😕


"Kalo sekarang aku usir Papa, Mama dan Tami pulang kerumah sebelah untuk tidur. Serta Ayah dan Bunda juga disuruh tidur, berarti bisa dong.


Kan kata Om Dodi nunggu keputusan aku," sahut Jaka jahil.


"Terus Adek gimana Mas," tanya Rena dengan polosnya.


"Adek temenin Mas Jaka ngobrol sampe pagi," seloroh Jaka sambil terkekeh.


"Boleh Nak, boleh banget! Dijewer anak Bunda ini," sahut Bunda sambil menjewer telinga Jaka.


"Ampuuun Bunda. Ampuuun Bun, sakit telinga nya," rengek Jaka.


"Biarin, biarin tau rasanya bikin Bunda marah," sahut Bunda sambil ngedipin mata ke Mama.


"Mau cepat dinikahkan kamu?" sambung Bunda.


"Jaka kan cuma becanda Bunda. Tapi kalo mau cepat dinikahkan, Jaka mau banget Bun," balas Jaka sambil meringis kesakitan.


Papa dan Ayah hanya tersenyum, melihat tingkah Jaka, dan kelakuan para istrinya.


Akhirnya, setelah peristiwa penyiksaan terhadap Jaka barusan, semuanya pamit untuk beristirahat. Tinggallah Jaka dan Ayahnya, yang masih meneruskan kegiatan mengatur nafas lewat sebatang rokok.


Jaka masih meringis kesakitan, karena peristiwa penyiksaan barusan. Dia pun meminum kopinya, sambil menggosok-gosok telinganya.

__ADS_1


Lalu Jaka pun mengikuti kegiatan Ayah nya, mengatur nafas.


"Gimana Jaka, telinga mu masih sakit?" kata Ayah.


"Sudah agak mendingan Yah," sahut Jaka.


"Kamu juga sih, becanda nya kelewatan, didepan Bunda pula. Wajarlah Bunda mu sampe kayak gitu." Balas Ayah.


"Iya Yah, maaf," jawab Jaka.


"Ya sudah nanti kamu ulangi lagi ya! Ayah ke kamar dulu mau istirahat." Kata Ayah sambil tersenyum.dan beranjak dari tempat itu.


"Ayah kayaknya senang banget ngeliat aku dijewer Bunda." Gumam Jaka.


'Iya Yah, sebentar lagi aku istirahat juga." Sahut Jaka.


"Aku tidak pernah menduga, bahwa kehidupan ku akan seperti sekarang. Terlalu banyak hal yang tak diduga, hadir dalam perjalanan hidup ku," gumam Jaka sambil menikmati rokoknya.


Akhirnya Jaka pun bergegas menghabiskan kopinya, dan membereskan gelas ke dapur. Lalu dia mengunci pintu.


Jaka langsung ke kamar, lalu duduk di kasur nya, dan mengambil tas pinggangnya, dan menghitung jumlah uang yang tersisa, karena sudah beberapa hari ini dia tidak ada pemasukan dari ojol gojek.


Uang di tas pinggangnya ada Rp2.468.300.-.


Uang di dompet Rp68.000.- karena terpakai untuk mengisi BBM motornya waktu pulang dari showroom mobil.


Jaka pun mengecek m-banking nya, tertera saldo Rp158.159.563.-.


Karena sudah ditarik Gatot


Rp10.000.000.- . Beberapa hari yang lewat.


Jaka pun menyetel alarm, lalu meletakkan HP nya, dan langsung tidur.

__ADS_1


__ADS_2