
Rencana Jaka hanya ingin merekrut anggota, dan orang kepercayaan, yang akan membantunya, menjalankan rencana awal, dan cita-citanya, untuk menjadi orang yang sukses, melebihi Almarhum Sang papa. Dan Jaka pun bertekad menyelidiki kematian orangtuanya, yang banyak sekali kejanggalan.
Jaka pun menjelaskan kepada Sang Ayah.
"Ayah. Sesungguhnya aku hanya ingin menjadikan mereka berenam, sebagai orang-orang kepercayaan ku saja, karena aku sangat yakin, dengan kemampuan mereka di masa depan." Kata Jaka bersemangat.
"Mereka berenam? Maksudmu apa Jaka, mereka kan cuma berdua," ucap Ayah bingung.
"Iya Ayah mereka berenam. Gatot, Tedi, Darno, Lubis, Nanang, dan Nurdin. Tapi mereka sekarang, lagi rawat jalan Yah, karena mereka semuanya, habis ku hajar kemarin." Jawab Jaka sambil cengengesan.
"Apakah kamu yakin dengan ucapan mu barusan Nak?" tanya Ayahnya.
"Iya Jaka, kami meragukan mereka," ceplos Bunda.
"Bunda dan Ayah janganlah khawatir, dengan semua itu, serahkan saja semuanya padaku. Dan Jaka sangat yakin, kalo mereka berenam, pasti mampu, dan bisa dipercaya." Sahut Jaka menenangkan keraguan orangtua angkatnya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 23:45. Dan mereka pun sudah tampak lelah, ingin beristirahat.
"Bunda sudah ngantuk, Bunda istirahat dulu ya." Kata Bunda.
"Iya Bun. Bunda istirahat aja dulu," sahut Jaka.
"Pantesan Bunda ngantuk, lagian sekarang sudah jam 23:45, Bunda kan nggak pernah tidur larut seperti ini. Ayoo Jaka, kita istirahat juga." Ucap Ayah.
"Kamu tidur disini kan?" sambung Ayah.
"Nggak usah dulu Yah, aku tidur di rumah Papa aja malam ini. Takutnya gangguin Ayah, dan Bunda," seloroh Jaka.😉😉
"Bisa aja kamu, ya udah kalo gitu, ayah masuk duluan ya," sahut Ayah.
"Iya Ayah," jawab Jaka sambil tersenyum, dan berjalan menuju ke rumah Papa.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 08:00. Dan Jaka pun masih belum beranjak dari tempat tidur. Jaka pun bergegas bangun, dan beranjak dari tempat tidurnya, setelah melihat jam tangannya sudah menunjukkan jam 09:00.
Dia pun bergegas menuju ke pintu depan rumah, karena mendengar ada suara orang lagi tertawa terbahak-bahak.
"Assalamu'alaikum Bang," ucap Gatot, Tedi, Nurdin, Lubis, Darno,dan Nanang bersamaan.
"Wa alaikumussalam warahmatullah. Oh, ternyata kalian. Ayoo masuk," ucap Jaka sambil tersenyum.
"Dari jam berapa kalian kesini," sambung Jaka.
__ADS_1
"Maaf Bang, kalo kami mengganggu istirahat Abang. Kami baru aja datang jam 8 tadi kok," kata Gatot sambil tersenyum.
"Baru sejam ya," seloroh Jaka.
"Nggaklah, kalian semua nggak ganggu aku kok. Malahan aku berterima kasih, karena kalian sudah membangunkan aku," balas Jaka sambil tersenyum.
"Kalian semua sudah sarapan? Kalo belum, bikin sarapan dulu di dapur. Ada roti dimeja makan, dan didalam lemari ada mie, sekalian bikin minum sana. Anggap aja rumah sendiri ya, aku mau mandi dulu," sambung Jaka ramah.
"Siap Bang," sahut Nanang dan Gatot dengan semangat.
"Gatot, ini bawa ATM ku. Tolong tarik duit Rp10.000.000, pin nya 123456. Sekalian mampir beri rokok ya, 1 selop/orang," ucap Jaka.
"Oke Bang," sahut Gatot dengan semangat, karena dikasih Jaka kepercayaan.
"Din, kamu ikut aku yuk?" kata Gatot.
"Siap Bang," sahut Nurdin.
Jaka pun bergegas mandi. Nanang, Darno, dan Lubis ke dapur, dan Tedi hanya diam diruang tamu, sambil merokok, karena luka di bahunya belum sembuh.
Setelah selesai mandi, Jaka dan berpakaian rapi, Jaka pun bergegas menuju ke dapur.
"Aku kopi hitam aja Nang, adukan 2:1 ya," sahut Jaka.
"Oke Bang, Abang nunggu di depan aja sekalian temenin Tedi ngobrol ya. Karena Tedi agak galau tadi Bang, mau bantu, tapi lukanya masih belum sembuh," pinta Nanang sambil tersenyum.
"Oke kalo gitu, aku ke depan ya," sahut Jaka sambil berjalan menuju ke ruang tamu.
"Apa kabar Ted?" kata Jaka ramah.
"Baik Bang," sahut Tedi, agak kaget.
"Biasa aja Ted, jangan kaku dan malu-malu, kayak anak perawan lagi beranjak aja kamu," seloroh Jaka.
"Gimana luka di bahu mu," kata Jaka, sambil melihat kearah perban, di bahu Tedi.
"Alhamdulillah Bang, sudah dijahit, dan sudah mulai kering," jawab Tedi.
Gatot dan Nurdin pun datang dengan membawa kantong plastik. Mereka pun mendengar perkataan Jaka barusan.
"Maafin aku ya Ted, gara-gara aku, kamu jadi kayak gini," sambung Jaka penuh penyesalan.
__ADS_1
Nanang, Darno, dan Lubis pun datang dengan membawa nampan, berisi sarapan dan minuman, yang mereka siapkan dari dapur.
"Abang nggak usah minta maaf Bang, karena semua itu bermula, dari kesalahan kami," kata Nanang.
"Iya Bang. Abang nggak usah minta maaf ke kami. Kami jadi nggak enak Bang," sahut mereka berenam bersamaan, dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Iya sudah kalo kayak gitu, kita nggak usah bahas tentang ini lagi. Dari sini ke depan kita adalah keluarga, dan harus saling mengingatkan, kalau ada diantara kita yang berbuat kesalahan," ucap Jaka bijak.
"Sekarang kita sarapan dulu aja, lagian aku sudah lapar, kalian semua lapar juga kan?" sambung Jaka.
"Iya Bang," jawab mereka berenam, dengan kompaknya.
Jaka bergegas mengambil piring dan sarapan, yang diikuti oleh mereka berenam.
Jaka dan mereka berenam pun sarapan dengan bahagia dan akrab, layaknya sebuah keluarga besar, yang sudah lama tidak berjumpa.
"Bang ini kartu ATM, dan duit sisanya, ini nota belanjanya." Kata Gatot memulai pembicaraan mereka, setelah selesai sarapan, sambil menyerahkan duit, dan nota.
Jaka pun menerima ATM, duit, dan nota belanjaan, yang diserahkan Gatot.
Jaka pun menghitung duit itu ada Rp 8.468.300-.
"Ini untuk kalian bagi rata, sambil menyodorkan uang Rp 6.000.000, kemeja tersebut, dan rokoknya langsung bagikan," kata Jaka tegas
Mereka berenam pun terkejut, dan saling pandang, dengan apa yang dilakukan oleh Jaka barusan.
"Nggak usah Bang, Abang nggak usah repot-repot, memberikan uang ini. Karena hal ini, malah membuat kami semakin merasa bersalah, dengan Abang," sahut mereka berenam, dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Nggak apa-apa kok, terima aja. Lagian keluarga kalian semua pasti butuh uang ini, apalagi kalian masih belum bisa berkerja," sahut Jaka dengan ramah, dan bersahaja.
"Terima kasih Bang, atas semua kebaikan Abang ke kami berenam," sambung Gatot dengan nada penyesalan, yang di ikuti dengan anggukan kepala yang lainnya.
"Mulai dari detik ini, aku bersumpah, akan mengikuti semua perkataan, dan perintah Abang, dengan sepenuh hati. dan aku pun bersumpah, apapun yang terjadi, aku Gatot Subroto tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan Abang, dan akan selalu mengikuti Abang, kata Gatot dengan semangat. dan bersungguh-sungguh.
Iya Bang, kami juga akan melakukan hal yang sama, seperti yang Bang Gatot katakan barusan, sahut yang lainnya bersamaan.
Oke kalo emang itu keputusan kalian semua, aku pun sangat senang mendengarnya, karena sejujurnya, itu juga adalah keinginan ku." Balas Jaka dengan jujur.
"Dan mulai sekarang kita semuanya, adalah saudara. Susah, atau senang, kita akan hadapi bersama," sambung Jaka bijak.
"Siaaap Bang, kami tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan Bang Jaka, susah, dan senang, akan kita hadapi bersama." Kata mereka berenam dengan kompaknya.
__ADS_1