SESUATU YANG TERTUNDA

SESUATU YANG TERTUNDA
52. Tugas untuk Gatot


__ADS_3

"Dari mana Abang tau?" tanya Jarko penasaran.


"Nanti malam kau ajak Sania, kelantai teratas di Hotel ini. Nanti kalo sudah sampai kau kabari aku ya," jawab Jaka.


"Iya Bang nanti ku telpon Bang Jaka," sahut Jarko.


Mereka pun bertukar nomor HP termasuk Fendi.


"Fendi tolong buatin kami 2 gelas kopi hitam ya? Untuk ku adukan 2:1, kalo untuk Jarko..." Sebelum Jaka menyelesaikan kata-katanya, Jarko langsung memotong omongan Jaka.


"Samain aja Bang kopinya," potong Jarko.


"Ya udah, kamu samain aja kopi hitam nya." Kata Jaka.


"Iya Bang Jaka," sahut Fendi.


"Nah, udah bener itu, jangan kau ganti lagi panggilan mu ya," kata Jaka tegas.


"Siap Bang," sahut Fendi.


Jaka pun melihat balkon diluar ruangan kantor nya


"Kita duduk disana aja ya, biar puas merokok sambil ngopi," kata Jaka.


"Iya Bang," sahut Jarko, dan Fendi bersamaan.


Jaka pun langsung ke balkon kantornya, dia duduk di sofa yang ada di balkon itu, lalu mengambil sebatang rokok kretek dan menyalakan rokoknya dengan santai.


Sedangkan Fendi langsung menelpon bagian dapur, untuk membuat 3 gelas kopi hitam dengan adukan 2:1.

__ADS_1


Disaat Jaka lagi santai merokok dia di kejutkan dengan dering HP nya. Jaka pun melihat HP ada nama Gatot memanggil.


Jaka pun bergegas menerima telpon itu.


"Halo, Assalamualaikum," ucap Jaka.


"Wa alaikumussalam warahmatullah," sahut Gatot.


"Ada apa Gatot?" tanya Jaka.


"Bang Jaka, mobil truk dan mobil pickup nya datang Bang," sahut Gatot.


"Siapa yang nganterin mobilnya Gatot?" tanya Jaka.


"Pak Dadang dengan dua orang supirnya Bang," jawab Gatot.


"Gatot, tolong kasih HP mu ke Pak Dadang," sahut Jaka.


Pak Dadang pun menyambut HP Gatot.


"Halo Pak Jaka, selamat pagi Pak," kata Pak Dadang.


"Selamat pagi Pak Dadang. Begini Pak Dadang. Mobilnya truk, dan mobil pickup itu, langsung ditinggalkan saja dirumah itu, kunci mobil, dan STNK nya, serahkan saja ke Gatot. Masalah surat, dan tanda tangan, bawa saja berkas-berkasnya kerumah Om Harto, nanti secepatnya saya mampir ke rumah Om Harto. Karena saya sekarang masih di Ibukota DC, Pak Dadang." Sahut Jaka tegas.


"Baiklah Pak Jaka kalo begitu," kata Pak Dadang ramah. Sambil menyerahkan HP, ke Gatot lagi.


"Gimana Bang," sahut Gatot.


"Gatot, garasinya sudah jadi kan?" tanya Jaka.

__ADS_1


"Sudah Bang, bisa parkir mobil 5," jawab Gatot.


"Gatot, kamu urus pemanenan sawit, terus kirim pake truk baru kita ke PT. TBS, masalah duit BBM, dan kebutuhan saat pengiriman, kamu pake duit hasil sawit itu dulu ya. Tapi kamu buat laporan pemasukan, dan pengeluaran uangnya ya." Kata Jaka tegas.


"Siap Bang, besok sawitnya akan dipanen, dan ku kirimkan ke PT. TBS bersama Tedi." Sahut Gatot.


"Oke kalo begitu koordinasi dengan Nanang, dan yang lainnya ya." Ucap Jaka.


"Siap Bang," balas Gatot.


"Oke Gatot, ku serahkan tugas ini ke kamu. Karena aku masih ada urusan yang harus diselesaikan di Ibukota DC. Dan jangan kecewakan aku ya," sahut Jaka tegas.


"Siap Bang, Insya Allah aku nggak akan kecewakan Abang," jawab Gatot tegas.


Jaka pun mengakhiri panggilan telepon tersebut.


"Siapa Bang, yang telpon?" tanya Jarko.


"Gatot yang telpon dari Kampung GIG, ada mobil baru masuk 2 unit, untuk menunjang kebun sawit dan buah-buahan di GIG." Jawab Jaka.


"Gatot ini preman kampung yang di pekerjakan Pakde Hadi ya Bang?" tanya Jarko.


"Iya Jarko, kok kamu tau?" tanya Jaka penasaran.


"Ya iyalah Bang, semua usaha, yang bergerak di bawah pengawasan Almarhum papa Bang Jaka, pasti diketahui, oleh semua orang yang mendukung usaha Almarhum papa Bang Jaka lainnya, tanpa ada yang ditutup-tutupi." Sahut Jarko dengan bangga.


"Oh, begitu ya," balas Jaka santai.


"Iyalah Bang, emang begitu," sahut Jarko, dengan polosnya.

__ADS_1


Jaka pun tersenyum bangga dengan apa yang telah dibuat dan dikembangkan Almarhum Papa nya.


__ADS_2