
Jaka pun duduk di kursi teras, untuk merokok, dia pun mengambil sebatang rokok kreteknya, dan menyalakan rokoknya.
Dia merasa tidak nyaman, merokok di ruang tamu, walaupun ada asbak rokok disana.
"Izin bergabung, ngatur nafas Pa," ucap Jaka.
"Lhoo Mas, sejak kapan kamu merokok?" tanya Papa.
"Sejak pertengahan bulan kemaren Pa," jawab Jaka polos.
"Ya udah Mas, kalo kayak gitu, kopi nya bawa kesini aja Mas sekalian," sahut Papa.
Jaka pun meletakkan rokok, yang sudah dinyalakan nya tadi di asbak, lalu dia mengambil kopi hitam nya.
Terdengar suara printer Epson nya, sedang melakukan proses print, proposal pengajuan kerja sama yang dibuatnya.
"Emang sudah di cek semuanya Dek," ucap Jaka.
"Sudah dong Mas, mangkanya Adek print, kalo masih kurang yakin, nanti kan tinggal di cek aja lagi hasil print nya," balas Rena.
"Oke kalo gitu ππ Dek. Mas ke teras lagi ya, nemenin papa bakar daun kering," ujar Jaka tersenyum jahil. sambil berjalan menuju teras depan.
"Jadi Mas, rencana mu besok mau tinggal dirumah GIG?" tanya Papa, sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Insya Allah jadi Pa, habis dari PT. TBS, Jaka langsung lanjut aktivitas biasanya, ngojek dulu. Trus, pulangnya, baru ke rumah di GIG," Jaka menjelaskan.
"Lhoo, kata Mas Jaka tadi nemenin Papa bakar daun kering. Ternyata lagi ngerokok bareng," ceplos Rena, yang baru keluar, ke teras depan rumah.
"Lha bener kan, Mas nggak bohong. Mas dan Papa lagi bakar daun tembakau kering yang ada di rokok," sahut Jaka ππ
"Iyaa iya, nggak nyangka aja, kalo calon mantu, dan calon mertua nya kompak banget," π₯±π₯±πbalas Rena malas.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 21:45.
Jaka pun pamit pulang ke kontrakan nya, sambil membawa tas ransel nya.
Keesokan harinya, Jaka tetap melakukan aktivitas seperti biasa yang dia lakukan setiap pagi. Setelah bangun tidur jam 04:45.
Tapi hari ini agak berbeda, karena Jaka harus menyiapkan baju, dan barang keperluan nya dirumah GIG.
Setelah selesai persiapan nya, dia pun bergegas menuju ke jalan Melati no 8, Komplek Perumahan Gajah Putih, untuk menitipkan tas ransel nya, sebelum dia pergi ke PT. TBS.
"Assalamu'alaikum," ucap Jaka.
"Wa alaikumussalam warahmatullah," jawab Bibi sambil membuka pintu.
"Mas Jaka, silahkan masuk Mas, saya bikinin kopi hitam dulu Mas," kata Bibi.
"Terima kasih bibi. Kok sepi, sudah pada berangkat semua ya Bi?" sahut Jaka.
"Iya Mas, pesan ibu Mirna dan mbak Rena tadi kalo Mas Jaka datang, tawarin sarapan dan bikinin kopi hitam favoritnya. Sama sediakan asbak untuk bakar daun kering," kata Sang Bibi polos.
"Terima kasih Bi, saya sudah sarapan, kopi hitam aja ya Bi," jawab Jaka sambil tersenyum.
Jaka pun mengecek, dan mempersiapkan proposal, pengajuan kerja sama yang akan dibawanya. Sambil menyalakan rokok kretek nya.
Tak lama bibi pun datang, membawa nampan berisi kopi hitam.
"Silahkan Mas Jaka, kopinya," kata Bibi.
"Bibi ke belakang dulu ya," sambung nya.
"Iya Bi, terima kasih," ucap Jaka sambil menyeruput kopi nya.
Jaka pun bersantai sejenak diruang tamu, sambil merokok, dan menyeruput kopi hitamnya. Setelah kopinya habis, Jaka pun pamit, untuk melanjutkan aktivitasnya.
Jaka pun bergegas menuju ke PT. TBS, untuk memberikan proposal, pengajuan kerja sama nya. Sampailah Jaka diparkiran motor di PT. TBS.
Jaka langsung ke arah kantor, dan bertanya dengan sopan kepada seorang sekuriti, yang berjaga di kantor tersebut.
'Permisi Pak, numpang nanya, kantor bagian marketing dimana ya Pak?" tanya Jaka.
"Maaf Pak, kalo boleh tau, dengan Bapak siapa Pak?" tanya Pak sekuriti.
"Saya Jaka Pambudi Pak," jawab Jaka lugas.
"Sebentar ya Pak, saya cek buku laporan saya dulu, kayaknya nama Bapak ada di catatan tugas saya." kata Pak sekuriti.
Kalo ada orang yang bernama Jaka Pambudi kesini, tolong antarkan ke ruang DIREKTUR UTAMA.
"Maaf Pak, karena sudah membuat Anda menunggu," kata Pak sekuriti ramah.
"Mari Pak Jaka, tolong ikuti saya ke lantai dua," sambung Pak sekuriti.
Jaka pun agak bingung ππ, tapi dia tetap mengikuti sekuriti tersebut.
"Nggak apa-apa kok Pak, mari Pak," kata Pak sekuriti ramah.
Setelah berjalan menaiki tangga, sampailah mereka berdua didepan ruangan, yang ada tulisan " RUANG DIREKTUR UTAMA" diatas pintunya.
Tok tok tok. Pintu di ketuk Pak sekuriti.
__ADS_1
"Silahkan masuk!" Jawab orang yang didalamnya.
"Permisi Pak direktur, saya mengantarkan Pak Jaka Pambudi," kata Pak sekuriti. "Silahkan masuk Pak Jaka," sambung nya ramah.
"Oh iya Pak terima kasih," ucap Jaka ramah.
"Pak direktur, saya izin kembali ke Pos Pak," ucap Pak sekuriti lugas.
"Silahkan Pak, terima kasih ya," sahut Pak direktur tegas.
"Silahkan duduk Nak Jaka," ucap Pak direktur ramah.
'Iya Pak terima kasih," sahut Jaka sopan. Sambil melihat kearah Pak direktur utama dengan penasaran.
"Pak Harto? Apa kabar Pak?" sambung Jaka, sambil bersalaman.
"Iya Nak Jaka, saya Harto. Seperti yang kamu lihat, kabar saya baik. Kabar kamu gimana? Masih jadi ojol Gojek?" ucap Pak Harto.
"Alhamdulillah Pak, kabar saya baik. Dan saya masih tetap jadi ojol Gojek Pak," jawab Jaka ramah.
"Saya nggak nyangka kalo Pak Harto, adalah Direktur Utama PT. TBS ini," sambung Jaka.
Mereka berdua mengobrol dengan akrab, layaknya teman lama, yang tidak pernah bertemu. Jaka pun membicarakan tentang tujuan kedatangan nya, dan langsung di setujui Pak Harto. Tapi, tetap dengan persyaratan yang ditetapkan perusahaan.
Tak terasa sekarang sudah jam 10:25, sudah hampir 3 jam, mereka berdua mengobrol sambil ngopi, dan akhirnya, Jaka pun pamit undur diri.
Untuk melanjutkan aktivitasnya sebagai ojol Gojek.
Disaat sampai di meja sekuriti, tak lupa Jaka pun pamit, dan mengucapkan terima kasih, dan dibalas Pak sekuriti dengan anggukan.
Jaka menuju ke motornya, dan mengaktifkan aplikasi Gojek nya.
Dia pun bergegas meninggalkan PT. TBS.
Sekitar 15 menit perjalanan HP nya berdering.
Jaka pun meminggirkan motornya, dan melihat HP nya.
"Alhamdulillah, ada orderan," gumam Jaka.
Dia pun bergegas menuju titik penjemputan penumpang,p yang ternyata seorang pria. Tapi setibanya dititik penjemputan, dia melihat seorang waria yang berdandan menor banget.
Jaka pun mengirimkan pesan ke penumpangnya.
"Saya sudah dititik penjemputan Pak, anda dimana?" tanya Jaka.
Dan tiba-tiba ada balasan.
"Anda Pak Dandi?" tanya Jaka penasaran.ππ
"Ya iyaa dong Mas, saya Pak Dandi. Tapi, kalo udah cantik gini, panggil saya Mbak Dinda aja," kata Dandi cuek, dengan suara wanita.
"Oke Mbak Dinda, ini helmnya," ucap Jaka pasrah, ππ dan berusaha tetap profesional.π π
"Tolong agak ngebut ya Mas, soalnya saya terburu-buru," request Dinda.
"Nah lhoo... Aku harus profesional," gumam Jaka, sambil menarik nafas dalam-dalam, sedalam samudera.π π
"Pegangan ya Mbak Dinda," ucap Jaka ramah.
"Iya Mas," sahut Dinda, sambil memeluk pinggang Jaka.
Jaka pun langsung memacu motornya. Karena jalanan yang tidak terlalu rame, dan padat, Jaka pun sampai di tujuan dalam waktu 15 menit, dengan jarak tempuh 35 km.
"Alhamdulillah kita sudah sampai, 10 menit sebelum acaranya dimulai, terima kasih ya Mas," ucap Mbak Dandi. Upss, salah, Mbak Dinda. Sambil tersenyum manis, dan menyodorkan selembar uang
Rp 50.000.-.
"Iyaa Mbak sama-sama, kembaliannya Mbak," ucap Jaka.
"Kembaliannya untuk Mas aja," jawab Dinda, sambil tersenyum, dan menjauh dari motor Jaka.
Jaka pun menyelesaikan orderan nya.
"Inilah namanya sengsara membawa nikmat," gumam Jaka sambil tersenyum getir.
Di saat Jaka mau melanjutkan aktivitasnya, tiba-tiba HP nya berdering kembali. Dia pun mengecek HP nya.
"Ternyata ada orderan lagi," gumam nya.
Jaka bergegas menuju ke titik penjemputan penumpang. Jaka pun sampai, lalu melayani penumpang nya, sampai ke tujuan, dengan ramah, dan profesional, seperti biasa nya.
Jaka pun menyelesaikan orderan ke-5 nya, dengan sukses, dan waktu sudah menunjukkan jam 17:05.
Jaka menonaktifkan aplikasi Gojek nya, Jaka pun bergegas menuju ke rumah calon mertua, untuk mengambil tas ranselnya.
Akhirnya Jaka sampe di rumah calon mertua, karena pintu pagar rumah terbuka. Jaka pun langsung memasukkan motornya, ke depan garasi.
"Assalamu'alaikum," sapa Jaka.
"Wa alaikumussalam warahmatullah, masuk Mas Jaka," jawab Rena, yang lagi menyiram tanaman.
__ADS_1
"Duh. Yang lagi kasmaran, sigap bener," goda Tami.
"Mbak Tami, jangan mulai lagi deh," rajuk Rena.
"Iya iyaa nggak, udah sana bikinin minuman, untuk Mas tersayang mu. biar Mbak aja yang lanjutkan nyiram tanamannya," ucap Tami.
"Makasih Mbak. Mbak Tami emang Mbak ku yang paling cantik, dan pengertian deh," sahut Rena sambil beranjak ke dalam rumah.
Jaka pun duduk di kursi teras dan menyalakan rokoknya.
Rena pun datang dengan membawa nampan yang berisi cemilan, dan secangkir kopi hitam.
"Diminum Mas, kopi nya," ucap Rena.
"Terima kasih Dek. Papa dan Mama mana Dek, kok sepi?" sahut Jaka.
"Papa dan Mama belum pulang Mas. Oh iya Mas Jaka jadi, tinggal di rumah GIG?" sambung Rena .
"Jadi Dek, emang kenapa?" sahut Jaka.
"Nggak apa-apa Mas, cuma nanya aja. Itu laptop, dan printer, dan perlengkapan yang lain, mau langsung dibawa kesana." Ucap Rena.
"Rencana awalnya emang kayak gitu Dek, tapi kalo Adek, mau pake laptop Mas, ya nggak apa-apa," sahut Jaka.
"Aku kan sudah ada laptop juga Mas, jadi kalo laptop barunya, mau Mas bawa, ya nggak apa-apa Mas," ucap Rena.
"Kapan rencana Mas Jaka berangkat ke GIG?" sambung Rena.
"Rencananya setelah kopi hitam ini habis Dek, biar nggak kemalaman nyampe di sana. Lagian sayangkan? udah capek-capek, calon istri Mas buatin kopinya," gombal Jaka.ππ
"Bisa aja Mas Jaka," sahut Rena tersipu-malu ππ
Setelah kopinya habis, Jaka pun pamit, untuk pulang ke rumah Sang calon mertua, di kampung GIG. Dengan membawa semua barang-barang, yang sudah dititipkan nya, dirumah Sang kekasih tercinta.
Setelah 30 menit, Jaka pun sampai di depan rumah di kampung GIG.
Waktu telah menunjukkan jam 18:35.
Jaka pun memarkirkan motornya di teras depan rumah itu.
Setelah menurunkan barang-barang nya dari motor, dia membuka pintu rumah, dengan mengucapkan "Assalamu'alaikum."
Dan dia pun menjawab salam nya sendiri.
"Wa alaikumussalam," ucapnya. Lalu Jaka bergegas memasukkan barang-barang bawaannya ke dalam rumah.
Jaka pun mengunci pintu depan, dan menyiapkan handuk dan perlengkapan mandi, yang diambilnya dari ransel lalu langsung mandi.
Setelah berpakaian dan menyelesaikan kewajibannya. Dia pun membuka ranselnya lagi, untuk mengambil box Tupperware, yang berisi beras, dan keperluan dapur lainnya, yang dibawanya dari kontrakan nya, lalu bergegas ke dapur, untuk memasak makan malamnya.
"Ternyata perlengkapan dapur dirumah ini benar-benar terawat, lengkap, dan bersih, hebat juga Pak Seno," gumam Jaka.
Sewaktu Jaka mau mengambil beras, tiba-tiba terdengar suara pintu depan diketuk.
Tok... Tok... Tok...
Tok... Tok... Tok...
"Assalamu'alaikum," kata orang yang mengetuk pintu.
"Wa alaikumussalam warahmatullah," jawab Jaka, sambil membuka pintu rumah.
"Oh Pak Seno, silahkan masuk Pak," sambung Jaka.
"Terima kasih Mas Jaka, saya kesini cuma mengantarkan ini Mas." Kata Pak Seno. Sambil menyerahkan rantang susun.
"Tadi Pak Hadi, nelpon saya, minta tolong nganterin nasi, beserta lauk-pauk nya kesini, katanya Mas Jaka, datang ke sini malam ini," ucap Pak Seno.
"Aduuh Papa, jadi nggak enak saya, tapi terima kasih Pak Seno. Maaf ya Pak, karena sudah ngerepotin, Pak Seno sekeluarga," sahut Jaka sopan.
"Mas Jaka ngomong apaan sih, saya malah merasa senang, kalo bisa membantu Mas Jaka, dan keluarga Pak Hadi," sambung Pak Seno ramah.
"Silahkan dimakan dulu Mas Jaka, mumpung masih anget, saya keluar dulu Mas, karena masih ada kerjaan dikit. Kalo Mas masih mau ngobrol, nanti pintu depannya dibuka aja Mas, nanti saya mampir," sambung Pak Seno.
"Baiklah Pak Seno , kalo gitu saya makan dulu ya Pak," ucap Jaka santun.
"Silahkan Mas," balas Pak Seno sambil tersenyum, dan berjalan kearah motornya.
Akhirnya Jaka pun menuju dapur, dan memakan makanan yang diantarkan Pak Seno.
Entah, karena memang laper atau memang nggeragas.
Jaka pun menghabiskan semua nasi, beserta lauk-pauk nya dalam sekejap.
Setelah makan, Jaka pun mencuci bersih peralatan makan nya tadi, serta memasak air agak banyak, untuk membuat kopi, dan memasukkan sisanya ke termos air panas.
air panas sudah siap, Jaka membuat segelas kopi hitam lalu mengisi termos air panas. Dia membawa segelas kopi hitam dan asbak rokok ke ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu dia agak kaget, karena ada orang lagi duduk diruang tamu.
"Pak Seno sudah datang? Sudah lama Pak datangnya, kok nggak manggil saya Pak?" tanya Jaka.
__ADS_1