
Seperti biasa, Jaka menghisap rokok kretek nya dalam-dalam, dan menghembuskan dengan santai.
"Sebenarnya Om mengajakmu ke rumah ini, karena kami ingin tau, kemana kamu menghilang, 8 tahun yang lalu, waktu tragedi tragis itu terjadi. Itupun kalo Jaka mau cerita, kalo Jaka nggak mau cerita, ya sudah nggak apa-apa," ucap Om Seno dengan wajah penasaran.
"Iya Jaka. Tante juga ingin tahu bagaimana kamu bisa menghilang, dan tidak dapat kami temukan saat itu," kata Tante Ratih penasaran.
Jaka pun melihat wajah penuh harapan Om dan Tante nya.
"Baiklah Om, Tante, aku akan ceritakan semuanya. Semua yang aku lewati, hingga aku sampai dikampung GIG ini." Kata Jaka, sambil menyeruput kopinya, lalu menghisap rokoknya dalam-dalam, dan menghembuskan dengan santai.
"Waktu tragedi tragis itu terjadi, terus terang aku nggak tahu Om. Aku masih Sekolah, di SMP unggulan terfavorit di kota X, dan aku tinggal di asrama siswa. Setelah sekitar 6 bulan, dari kejadian itu, aku lulus peringkat 1 umum disekolah, dan sekota madya, serta mendapatkan piagam penghargaan, dan ijazah. Yang aku bingung saat itu Om, Tante.
Semua orang tua dan wali murid SMP itu datang, ke sekolah. Tapi Papa dan Mama, nggak ada satupun yang datang, menghadiri acara pembagian ijazah, dan piagam penghargaan.
Saat itu aku mau pulang Om, Tante. Tapi Kepala Sekolah melarang ku, dan meminta ku mengikuti acara itu, dengan Pak Kepala Sekolah, yang menjadi waliku," kata Jaka, sambil mengelap air mata yang membasahi pipinya.
Om dan Tante nya pun ikut menangis.
"Setelah acara itu selesai, aku dipanggil ke kantor Kepala Sekolah, dan pihak Sekolah meminta maaf kepada ku, karena telah merahasiakan, tragedi tragis itu. Aku pun bersikeras, untuk pulang ke kota Z, dengan 2 amplop, yang berisi uang tabunganku, dan tambahan sebagai hadiah, dan sebagai tanda permintaan maaf katanya. Aku nggak ngitung duitnya lagi, karena langsung ku masukkan ke tas bersama pakaian," kata Jaka sambil terisak.
"Aku naik mobil yang sudah dipersiapkan Kepala Sekolah, untuk mengantarkan ku sampai tujuan. Aku pun sampai di depan rumah Papa Om, tapi dipagar rumah ada tulisan RUMAH INI DISITA DAN DALAM PENGAWASAN BANK, dengan pintu pagar digembok dari luar.
__ADS_1
Aku pun bingung Om." Kata Jaka.
"Sopir mobil itupun bertanya. Dek, sebenarnya Adek ini mau kemana sih?
Dalam keadaan yang kacau, kalut, dan bingung. aku pun memutuskan.
Tolong antar kan saya ke pasar induk aja pak.
bapak itu pun mengantar ku ke pasar induk. Lalu bertanya, berhenti di mana Dek?
Aku nggak tau pak. Aku sebatang kara, dan nggak ada keluarga pak. Orang tuaku sudah meninggal, dan rumah kami disita Bank. Tunggu sebentar Dek, bapak itu keluar mobil ke arah sebuah warung, trus balik lagi ke mobil, lalu menjalankan mobil, dan menghentikan mobilnya, di belakang pasar. bapak itu bertanya, pada seseorang yang sedang berjalan kaki.
Kebetulan yang ditanya itu pak Kosim, Om. Yang punya bedeng kontrakan.
Saya Kosim pak, yang bapak cari. Mari pak Slamet mampir ke rumah aja dulu. Setelah memarkirkan mobilnya, pak Slamet ngajak turun, dan kerumah pak Kosim. Mereka berdua pun mengobrol panjang kali lebar, tentang apa maksud, dan tujuan kedatangan kami mencarinya. Akhirnya aku pun dapat bedeng kontrakan.
"Sebulannya berapa ya Mas?" tanya Tante.
"Awalnya Rp200.000 Tante, tapi awal tahun tadi naik Rp50.000."Jawab Jaka.
"Sekarang kita ngatur napas lagi ya," ajak Om Seno.
__ADS_1
"Kayak di TV gitu, ada iklannya," sambung Om Seno, sambil tersenyum.
"Sebentar ya, Tante masuk dulu. Mau lewat kayak iklan," selorohnya.
Jaka pun langsung tersenyum, sambil menyalakan sebatang rokok kreteknya, dan lanjut menyeruput kopinya.
"Tante pun datang dengan membawa nampan, berisi sepiring ubi rebus panas, Ayoo, Jaka dicicip ubi rebus nya, mumpung masih anget. Enak lhoo," ucap Tante.
"Jaka pun mencoba satu, sambil minum kopi, dan menghisap rokoknya. Ada satu sensasi rasa unik, yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Dia pun mengambil satu lagi, trus meminum kopi, dan menghisap rokoknya.
Bener Tan, memang enak ubi nya." Kata Jaka sambil tersenyum.
"Kopinya mau tambah lagi?" kata Tante.
"Mau dong Tante, tapi ubi rebus nya, ditambah juga ya Tan," request Jaka.
Sambil membuang puntung rokok kreteknya, dan menyalakan yang baru.
"Aku juga mau ditambahin kopi nya," kata Om Seno.
"Iya Mas Seno, sabar ya." jawab Tante.
__ADS_1