SESUATU YANG TERTUNDA

SESUATU YANG TERTUNDA
53. Kantor baru


__ADS_3

3 gelas Kopi hitam pun datang, ke balkon ruangan kerja Jaka.


"Ini Bang kopinya, dan cemilannya," kata Fendi.


"Iya, terima kasih Fendi," ucap Jaka, dan Jarko bersamaan.


Mereka bertiga pun menyeruput kopi hitam nya, dan merokok bersama.


Jaka pun melakukan panggilan telepon ke Ayah.


"Assalamu'alaikum Yah, Ayah lagi ngapain?" tanya Jaka.


"Ayah lagi suntuk, di balkon kamar Nak, kamu kemana sih? Dari jam 10:00, ngilang aja." Kata ayah.


"Jaka di Bank KH, disebelah kanan Hotel Yah. Ayah mau ke sini nggak, kalo mau tolong Ayah ajak Bunda, dan yang lainnya ke lobby Hotel. Biar nanti dijemput Jarko, ke kantor Jaka." Sahut Jaka santai.


"Jarko, kamu jemput Ayah, Bunda angkat ku, dan istri-istri ku tersayang, di lobby Hotel ya!" kata Jaka sambil tersenyum jahil.


"Iya Bang, akan ku jemput mereka sekarang," sahut Jarko.


"Baiklah Jaka, Ayah dan yang lainnya, menuju ke lobby Hotel ya," kata Ayah semangat.


Jaka pun memutuskan panggilan teleponnya.


"Bunda mau ikut nggak, liat kantor baru Jaka?" kata Ayah semangat.


Tanpa banyak tanya Bunda pun menyusul ayah keluar kamar dan mengunci pintu kamar.


Tok, tok, tok. Ayah mengetuk kamar Jaka.


Dira pun membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Ada apa Yah?" tanya Dira.


"Kalian mau ikut liat kantor barunya Jaka nggak? Kalo mau, kita ke lobby Hotel sekarang," kata Ayah semangat.


Tok tok tok. Bunda pun mengetuk kamar Dani dan Ibunya.


"Ada apa Bunda?" tanya Dani.


"Kalian mau ikut liat kantor baru Jaka apa nggak? Kalo mau, ikuti kami ke lobby Hotel," kata Bunda semangat.


Rena dan Dira pun keluar kamar, dan mengunci pintu.


Diikuti Ibu dan Dani yang keluar kamar, dan mengunci pintu juga.


Mereka pun bergegas menuju ke lobby Hotel.


Sampai di lobby Hotel, mereka pun bertemu dengan Jarko, yang sedang mengobrol dengan Sani.


"Jarko?" sahut Ibu yang langsung memeluk Jarko, yang sedang dipeluk Dani.


Mereka berpelukan seperti Teletubbies, sambil menangis bahagia.


Jarko pun menyudahi pelukan itu. Dia pun bergegas mencium tangan Ibu angkatnya, dan mencium pipi kiri dan kanan Ibunya.


Lalu bergegas menuju Paklek Seno, mencium tangan, dan berpelukan.


Lalu dia pun mencium tangan Bulik Ratih, dan juga mencium pipi kiri dan kanan Bulik nya.


Lalu Jarko pun bersalaman, dengan Dira dan Rena.


Jarko pun menelpon Sania.

__ADS_1


Panggilan telepon pun masuk.


"Sania dimana kamu?" tanya Jarko semangat.


"Aku baru nyampe gerbang Hotel Bang," sahut Sania.


"Parkir kan motormu, trus nyusul ke lobby Hotel ya!" kata Jarko tegas.


"Iya Bang," sahut Sania, dan langsung mematikan panggilan telpon itu.


Tak lama berselang, Sania pun mulai terlihat sedang berjalan menuju lobby Hotel.


"Mbak Sania," kata Dani sambil berlari, dan langsung memeluk Mbak kandungnya.


"Yee! Adik Mbak yang satu ini, masih aja manja, padahal sudah besar." Kata Sania.


Sania pun mencium kening Dani, dan melepaskan pelukannya.


"Ibu!" teriak Sania, dan langsung memeluk Ibunya, dan menciumi pipi kiri, dan kanan, serta kening Ibu angkatnya, yang sudah dianggap sebagai Ibunya sendiri.


"Bulik Ratih," kata Sania bergegas mencium tangan, lalu memeluk Bulik, sambil mencium pipi kiri dan kanan.


Lalu Sania pun mencium tangan Paklek Seno, dan memeluknya hangat.


Lalu Sania pun bergegas ke Mbak Dira, Rena, dan langsung memeluk mereka berdua.


"Kalian berdua sudah menjadi istri Mas Jaka kan?" tanya Sania.


"Iya Sania kami sudah menjadi istri Mas Jaka, tinggal kamu yang belum," seloroh Rena, dan Dira yang membuat pipi Sania memerah, karena malu.


"Sudah, sudah! Sekarang kita ke lantai atas Bank KH yuk, melihat kantor barunya Bang Jaka," ajak Jarko. Sambil berjalan menuju lobby Bank KH, melalui jalur khusus, dan menuju lift.

__ADS_1


Mereka pun masuk kedalam lift, dan langsung menuju ke lantai 7 Bank KH.


__ADS_2