SESUATU YANG TERTUNDA

SESUATU YANG TERTUNDA
16. Antara keraguan dan keinginan 02


__ADS_3

Marilah kita saling bersalaman, dan berpelukan, sebagai tanda persaudaraan kita.


Mereka pun saling bersalaman dan berpelukan, dengan penuh kasih, dan kebahagiaan.


Jaka pun menceritakan tentang keinginannya, menjadi orang sukses, yang melebihi almarhum Sang papa.


Dan dia juga bertekad, untuk menyelidiki tragedi kematian kedua orang tuanya, yang menurut nya banyak sekali kejanggalan.


"Pokoknya Abang tenang saja, karena kami sudah berjanji dan bertekad, untuk mengikuti Bang Jaka, apapun yang terjadi." Jawab Gatot, yang diikuti dengan anggukan kepala yang lainnya.


"Apalagi kita sekarang ini sudah jadi keluarga, dan itu berarti kita harus kompak, dan bersatu, untuk menyelesaikan apapun masalah yang dihadapi keluarga ini." Kata Gatot dengan semangat.


"Benar Bang, apapun yang terjadi di masa depan, akan kita hadapi bersama." Ucap Nanang, dan yang lainnya, bersamaan.


"Terima kasih saudara-saudara ku semuanya, aku terharu mendengar perkataan, dan ke kompakan kalian semuanya." Sahut Jaka.


"Oh iya, ngomong-ngomong, apakah di antara kalian, ada yang bisa menyetir mobil?" tanya Jaka.


"Di antara kami kayaknya cuma Tedi, dan Nanang, Bang, yang nggak bisa nyetir mobil." Kata Gatot sambil tersenyum, dan melihat kearah Tedi.


"Ngapain Bang Gatot liat aku sambil senyum-senyum. Aku kan bisa nyetir mobil Bang!" Sahut Tedi, agak sewot.


"Benar kata Bang Gatot Ted, kamu kan nggak bisa nyetir mobil, kalo tangan kamu belum sembuh," kata Nanang.


"Emang bener sih Nang, tapi kan nggak gitu juga ngomong nya." Sahut Tedi sendu.


Sedangkan Jaka hanya tersenyum melihat Tedi dikerjain.


"Apakah kalian punya SIM?" kata Jaka.


"Aku punya SIM B1 umum Bang," kata Gatot.


"Aku punya SIM B1 biasa Bang ," kata Nurdin.


"Dan kalian berdua ada SIM apa nggak?" tanya Jaka sambil tersenyum.


"Kami cuma bisa nyetir, tapi nggak punya SIM Bang," jawab Darno dan Lubis bersamaan, dengan malu-malu.


"Dan kamu Ted, ada SIM apa nggak?" sambung Jaka.


"Aku ada SIM A Bang," jawab Tedi sambil tersenyum.


Emang ada apa Bang, kok Abang nanyain ada SIM apa nggak?" tanya Gatot penasaran.


"Rencana kedepannya, aku mau bekerjasama, dengan PT. TBS. Dan aku mau ambil 1 unit mobil truk, dan 1 unit mobil pick up, untuk armada angkutan kebun kita," sahut Jaka.


"Apakah kalian sanggup memenuhi keinginan ku, untuk rencana awal ini?" tanya Jaka.


"Kami sanggup Bang," kata mereka dengan semangat.


"Bagus, kalo gitu seminggu lagi, kita ambil mobilnya ke showroom. Sekarang kalian semua istirahat. Untuk menyembuhkan fisik kalian dulu, kecuali Nanang, karena dia sehat, dan terlihat fit, aku butuh bantuan nya untuk survei, armada baru kita ke kota Z hari ini." sambung Jaka.


"Siap Bang," sahut Nanang semangat.


"Bang, dia memang tidak bisa nyetir mobil, tapi kalo soal memperbaiki mobil rusak, dan modifikasi, Nanang jagonya," kata Gatot.


"Bener gitu Nang?" tanya Jaka.


"Ya... begitulah kira-kira Bang." Jawab Nanang.


"Nang kita berangkat sekarang ya?" ucap Jaka.


"Oke Bang," sahut Nanang.


"Kalian berlima bisa istirahat disini dulu, nanti kalo kalian semua mau pulang, kunci rumah titipkan aja, ke Ayah angkat ku, Pak Seno." Kata Jaka.


Mereka berenam pun terkejut, mendengar perkataan Jaka barusan.


"Sejak kapan Bang, Pak Seno jadi Ayah angkat Abang?" tanya Gatot penasaran.


"Sejak semalam, nggak taunya Ayah, dan Bunda, adalah Adik angkat Almarhum Papa," jawab Jaka dengan polosnya.


"Aku sama Nanang berangkat dulu, dan jangan lupa nitipin kunci rumah ya," sambung Jaka.


"Iya Bang, hati-hati dijalan ya,' sahut mereka berlima bersamaan.


Jaka dan Nanang pun bergegas memakai helm, dan menuju motor, untuk berangkat survei armada baru ke showroom mobil.


Setelah 1 jam perjalanan.


Akhirnya, Jaka dan Nanang sampai di showroom mobil Mitsubishi di kota Z.

__ADS_1


Jaka pun mengarahkan motornya ke parkiran. Mereka berdua bergegas melepaskan helmnya, dan berjalan menuju bagian penjualan.


"Ada yang bisa saya bantu mas?" tanya seorang petugas penjualan di showroom mobil tersebut ramah.


"Kami mau mencari informasi tentang harga mobil Pak, karena kami berencana mengambil 1 unit truk, dan 1 unit mobil pick up, mungkin kredit Pak, mohon bantuannya ya Pak," jawab Jaka ramah.


"Nama saya Rudi, dengan Mas siapa, kalo boleh tau?" Sahut Pak Rudi ramah.


"Saya Jaka, Pak Rudi, dan ini, Nanang saudara saya." Balas jaka ramah.


"Ini Mas Jaka, Mas Nanang, silahkan dilihat brosur-brosur kendaraan angkutan barang nya, siapa tau ada yang yang diminati," sahut Pak Rudi ramah.


Jaka dan Nanang pun mengambil brosur-brosur mobil truk, dan pick up yang diberikan oleh Pak Rudi.


"Ayoo Nang, kasih aku saran dong," kata Jaka.


"Yang ini aja Bang," sahut Nanang dengan semangat, sambil memberikan 2 brosur pilihannya.


"Pak Rudi kalo saya ambil 2 mobil ini, berapa perincian biayanya Pak?" ucap Jaka ramah, sambil memberikan 2 brosur pilihan mereka, kepada Pak Rudi.


Lalu ada seorang laki-laki berusia sekitar 50 tahunan, memasuki showroom mobil tersebut. Dan mendekati ke arah mereka. sambil tersenyum, dan terus menatap wajah Jaka.


Pak Rudi pun dengan terpaksa harus mengabaikan, Jaka, dan Nanang, untuk sementara waktu.


"Pak Dodi, selamat pagi Pak." Sapa Pak Rudi ramah, sambil tersenyum, dan sedikit menundukkan kepalanya.


"Selamat pagi, Pak Rudi," balas Pak Dodi ramah.


"Kamu Nak Jaka kan?" tanya Pak Dodi ramah.


"Iya benar Pak, saya Jaka," sahut Jaka sambil tersenyum, dan berjalan mendekati Pak Dodi untuk bersalaman.


"Pak Rudi tolong antar kan Nak Jaka keruangan saya ya," pinta Pak Dodi ramah.


Pak Rudi agak terkejut mendengar perkataan Pak Dodi.


"Baik Pak Dodi, saya akan mengantarkan Mas Jaka, dan temannya, ke ruangan Bapak," balas Pak Rudi ramah.


"Mari, Mas Jaka, tolong ikuti saya," kata Pak Rudi ramah.


Sampailah mereka di ruangan Pak Dodi.


Jaka tertegun sejenak, melihat ruangan Pak Dodi yang besar dan rapi. Dia pun teringat, kalo Pak Dodi adalah pelanggan ojol Gojek nya.


"Kalian mau minum apa Mas?" sambung Pak Rudi ramah.


"Kopi hitam aja Pak," sahut Jaka sambil tersenyum, yang disertai anggukan Nanang.


Pak Rudi pun bergegas menelpon seorang OG, untuk membuat kopi hitam, dan membawa cemilan ke ruangan Pak Dodi.


Lalu masuklah Pak Dodi keruangan itu. Dan duduk di salah satu sofa, yang ada di ruangan itu.


"Apa kabar Nak Jaka?" tanya Pak Dodi.


"Yang bersama Nak Jaka ini siapa?" sambung Pak Dodi.


"Alhamdulillah baik Pak, saya bersama Nanang, Pak saudara angkat saya." Kata Jaka sambil tersenyum.


"Saya Nanang Pak," jawab Nanang sambil bergegas bersalaman, dengan Pak Dodi.


Pak Rudi hanya diam, dan hendak pamit untuk kembali ke tempat kerja nya.


"Saya permisi kembali ke tempat kerja saya Pak Dodi," ucapnya ramah.


"Oh iya Pak Rudi, silahkan," jawab Pak Dodi lugas.


"Mari, Mas Jaka, Mas Nanang," sambungnya ramah.


"Iya Pak Rudi, silahkan." Jawab Jaka, dan Nanang bersamaan


Tak lama dari Pak Rudi keluar ruangan itu, masuklah seorang OG membawa nampan, berisi minuman, dan cemilan, dan langsung menyajikan nya.


"Silahkan dinikmati Pak Dodi, dan Mas nya berdua," ucap OG itu.


"Terima kasih Mita," sahut Pak Dodi.


Disaat Pak Dodi menyebutkan nama Mita, jaka pun langsung melihat kearah Sang OG.


"Jaka, kamu Jaka kan?" sambung Sang OG penasaran.


"Mita Maharani, apa kabar Mita, kamu kerja disini?" sahut Jaka.

__ADS_1


"Kalian berdua saling kenal," kata Pak Dodi penasaran.


"Iya Pak Dodi, Jaka ini teman sekelas saya, waktu SMP di kota X Pak," sahut Mita.


"Iya Jaka, aku Mita Maharani teman sekelas mu dulu, dan aku memang bekerja di sini jadi Office Girl, aku boleh minta nomor HP mu?" sambung Mita.


Nanang hanya diam sambil tersenyum, melihat keakraban keduanya


Mereka pun bertukar nomor HP.


"Jadi kalian teman SMP, dan sekarang baru bertemu lagi, kalo gitu kamu gabung disini aja Mita, ngobrol gabung kami," ajak Pak Dodi ramah.


"Nggak usah Pak, sebaiknya saya kembali ke tempat kerja saya aja. karena sekarang masih jam kerja. Saya permisi Pak, Jaka, Mas," Jawab Mita sambil tersenyum.


"Baiklah kalo kamu maunya begitu , silahkan." Ucap Pak Dodi.


"Iya Mita," sahut Jaka sambil tersenyum, yang diiringi anggukan Nanang.


"Ayo silahkan," kata Pak Dodi sambil mengambil secangkir teh, dan menyeruputnya.


"Iya Pak," sahut Jaka dan Nanang, sambil mengambil secangkir kopi masing-masing, dan menyeruputnya.


"Kalo saya boleh tau, apa maksud kedatangan Nak Jaka, dan Nak Nanang, ke showroom mobil saya ini," kata Pak Dodi memulai obrolan.


"Maksud kami datang ke sini, untuk mencari informasi, tentang harga mobil, dan berniat untuk mengambil 2 unit mobil Pak, bisa secara tunai, dan bisa juga secara kredit Pak. Tapi saya belum akan mengambil mobilnya, hari ini Pak, karena saya harus berembuk, dengan keluarga besar saya dulu," jawab Jaka dengan jujur sambil tersenyum.


"Apa yang membuatmu ingin mengambil 2 unit mobil ini Nak Jaka?" sahut Pak Dodi penasaran.


Jaka pun mulai menceritakan dari awal, tentang dia memperoleh kesempatan, dan kepercayaan, dari om Hadi yang ternyata, adalah adik angkat Almarhum Sang papa. Dan berakhir di showroom Pak Dodi hari ini.


"Hebat kamu, saya suka dengan semangat anak-anak muda seperti kamu. Kalo saya boleh tau, siapa nama lengkap om Hadi, dan siapa nama Almarhum papa Nak Jaka?" sahut Pak Dodi penasaran.


Karena dia agak curiga, kalo Jaka adalah anak dari seseorang yang dia kenal, 8 tahun yang lalu, karena karakter, dan watak, Jaka sangat mirip, dengan seseorang yang pernah berjuang keras, dari nol bersamanya dulu.


Orang yang telah banyak berjasa, membantu merubah nasib, dan takdir hidupnya yang kelam.


"Terima kasih atas pujiannya Pak Dodi, tapi saya minta tolong Bapak jangan terlalu sering memuji saya Pak, takutnya nanti saya jadi besar kepala," seloroh Jaka.


Pak Dodi dan Nanang pun tersenyum.


"om Hadi bernama lengkap Hadi Rudyatmo, dan Almarhum papa saya bernama..." Sebelum Jaka menyelesaikan kata-katanya.


mas Setyo Adjie Pambudi kan nama Almarhum papa mu, dan Almarhumah mama mu, bernama mbak Safira Putri Guntoro," potong Pak Dodi.


"Iya Pak, bagaimana Bapak bisa tau," sahut Jaka terkejut dan penasaran.


"Berarti kamu, adalah anak yang hilang, yang telah kami cari beberapa tahun terakhir ini." Sahut Pak Dodi.


"Maksudnya Pak?" balas Jaka dengan bingung.


Pak Dodi pun bergegas bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju Jaka yang ikut berdiri, lalu memeluk hangat Jaka.


"Iya Nak, kami telah lama mencaritahu tentang keberadaan mu. Aku, mas Harto, Hadi, Seno dan mas Haryo. Kami berlima adalah Adik angkat Almarhum papa mu. Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan mu Nak, mulai hari ini panggil aku Om Dodi." Sambung Om Dodi dengan bangga, dan penuh dengan perasaan haru, tapi dia belum membuka identitas Jaka yang sebenarnya.


Nanang pun terkejut dan terharu melihat interaksi antara Pak Dodi, dan Abang angkatnya. Tanpa sadar air matanya mengalir, membasahi pipinya.


Setelah saling berpelukan, dan saling bertukar cerita, tentang kenangan bersama dengan almarhum papa Jaka. Dan Jaka pun bercerita tentang yang dialaminya, saat tragedi tragis yang di alami orangtuanya. Sampai akhirnya, dia ada di showroom mobil ini, dan bertemu dengan Om Dodi.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 11: 45. dan Om Dodi pun bergegas menelpon, untuk memesan makanan, dan minuman, untuk makan siang bersama. Setelah makan bersama, mereka bertiga pun melanjutkan mengobrol, dan saling bertukar nomor HP.


Dan akhirnya Jaka dan Nanang pun pamit untuk pulang, setelah mereka berdua mencium tangan Om Dodi. Mereka pun bergegas keluar dari kantor, menuju ke parkiran motor, dan melanjutkan perjalanan menuju ke kampung GIG.


Hari sudah sore, sekitar jam 17:07. Mereka baru memasuki kampung GIG, Jaka pun langsung mengantarkan Nanang pulang ke rumahnya.


"Nggak mampir dulu Bang," kata Nanang tersenyum, sambil memberikan helm ke Jaka.


"Terima kasih Nang, lagian sudah mau malam, aku langsung pamit istirahat ya? Lain kali aja, aku mampir ke rumah mu," tolak Jaka dengan ramah.


Jaka pun langsung mengarahkan motornya pulang. Tak disangka, ternyata Sang kekasih tercinta, kedua calon mertuanya, dan Tami, sudah nyampe di rumah, karena Jaka melihat mobil parkir, di samping rumah. Dia pun memarkirkan motornya, di dekat mobil.


"Assalamu'alaikum," ucap Jaka.


"Wa alaikumussalam warahmatullah." Waah, calon mantu kami sudah pulang, ayoo masuk Mas." Sahut Papa, yang diiringi dengan senyuman Mama.


"Dari mana Mas? Kok baru pulang," tanya Mama.


Rena yang tak sengaja mendengar, kalo Mas Jaka nya sudah pulang, langsung bergegas membuat kopi hitam di dapur.


"Untuk siapa Dek?" tanya Tami, yang baru keluar dari kamar mandi.


"Untuk Mas Jaka Mbak," ceplos Rena, sambil membawa secangkir kopi ke depan.

__ADS_1


"Iya Pa, aku baru anter Nanang pulang ke rumahnya Ma, tadi kami ke showroom mobil di kota Z. Nggak taunya, ketemu Om Dodi, jadi kami ngobrol, dan makan siang bersama, di kantor nya Ma." Sahut Jaka.


__ADS_2