
Lalu sebuah mobil pun datang, dan berhenti di dekat pondok. Pak Marsan pun keluar dari mobil tersebut, dengan bingung melihat sekelilingnya. Akhirnya dia pun melihat Dira, lagi duduk di bangku pondok, yang ada dipinggiran danau.
Dira yang melihat Pak Marsan pun langsung bangkit dari duduknya, dia pun menyerahkan HP nya ke Rena.
Dira sempat merekam kejadian itu dari awal sampai akhir.
"Pak Marsan, sini Pak!" panggil Dira.
"Apa kabar Mbak Dira," tegur Pak Marsan.
"Alhamdulillah, baik Pak," sahut Dira sambil tersenyum dan bersalaman.
Pak Ruhut pun mendekat ke arah pondok.
"Pak Ruhut," kata Pak Marsan terkejut.
"Pak Ruhut, Komandan Satpam di sini," sahut Dira terkejut.
"Perkenalkan Pak, saya Dira salah satu istri dari Mas Jaka Pambudi Pak," sambung Dira ramah.
"Perkenalkan Pak, ini keluarga saya semuanya," kata Dira.
"Ini mertua saya, Ayah dan Bunda Mas Jaka, ini Bude Maryam, dan Dani anaknya, ini Rena salah satu istri Mas Jaka," sambung Dira ramah.
Semua orang yang ada di dalam pondok pun bersalaman dan berkenalan.
"Berarti istrinya Pak Jaka 2 orang," sahut Pak Ruhut kaget.
"Wajarlah Pak Jaka beristri dua, orangnya' masih muda, ganteng dan hebat pula," gumam Pak Ruhut.
"Iya Pak, rezekinya Jaka emang bagus," sahut Ayah.
"Ini sebenarnya ada apa Mbak Dira?" tanya Pak Marsan.
"Dek tolong HP nya," pinta Dira.
__ADS_1
"Ini Mbak," sahut Rena sambil menyerahkan HP.
Dira pun memutar video rekamannya, dan menyerahkannya ke Pak Marsan.
"Ini Pak, langsung aja liat rekaman video ini," jawab Dira.
Jaka yang masih sibuk dengan sekelompok orang, yang menyerangnya pun meneruskan rencananya.
Jaka pun mengecek detak nadi 5 orang yang terkapar, dia memegang pergelangan tangan, dan meletakkan jari telunjuk nya, ke hidung orang yang terkapar satu persatu.
"Alhamdulillah, mereka cuma pingsan." Gumam Jaka.
"Ampuuun Bang, tolong jangan penjarakan kami, jangan laporkan kami ke polisi," sahut ketiga orang yang masih berlutut, dengan gemetar di hadapan Jaka.
"Aku tidak akan melaporkan kalian semua ke polisi.Tapi, ada empat persyaratan yang harus kalian patuhi dan laksanakan!" kata Jaka tegas.
Mereka pun saling menoleh diantara mereka, lalu saling mengangguk.
"Apa syarat nya Bang?" tanya mereka bertiga.
menjaga kehormatan diri sendiri, dan keluarga.
Kedua,
selalu melakukan kebajikan, dan tidak melakukan kejahatan.
Ketiga,
selalu patuh, dan tidak akan pernah menentang ku.
Keempat,
selalu menjaga solidaritas, dan kekompakan.
Apakah kalian siap dan sanggup memenuhi persyaratan ku!" kata Jaka dengan tegas dan lugas.
__ADS_1
"Kami siap Bang," kata mereka bertiga kompak.
"Berdiri kalian berdua!" kata Jaka tegas dan berwibawa.
Mereka berdua saling pandang, dan masih dalam posisi berlutut.
"Berdiri kalian berdua!" bentak Jaka.
Mereka berdua pun bergegas berdiri dengan ketakutan.
"Ampuuun Bang, tolong maafkan kami," ucap mereka bersama dengan gemetar.
"Siapa nama kalian," ucap Jaka sambil menyodorkan tangannya, untuk bersalaman.
Mereka berdua pun kaget, lalu dengan reflek melompat mundur, karena takut dihajar Jaka.
"Namaku Roki, temanku ini bernama Ujang, dan dia bernama Zaki Bang," sahut Roki ketakutan.
"Kenapa kalian berdua melompat mundur," kata Jaka ramah sambil tersenyum manis.
"Kami takut Abang hajar, kayak mereka berenam. Jadi waktu Abang menyodorkan tangan Abang tadi, kami langsung reflek melompat mundur." Sahut Ujang, sambil menundukkan kepalanya.
"Sekarang kita berkenalan, dan sambut tangan ku," kata Jaka tegas dan ramah.
"Aku Jaka Pambudi!" kata Jaka tegas.
Setelah melihat video, Pak Ruhut pun bergegas datang mendekati Jaka.
"Selamat siang Pak Jaka, perkenalkan saya Ruhut. Biarkan kejadian ini saya yang urus Pak," ucap Pak Ruhut sambil menyodorkan tangannya.
"Oh Pak Ruhut ya," sahut Jaka sambil menyambut tangan Pak Ruhut bersalaman.
"Apakah Pak Ruhut kenal dengan mereka?" tanya Jaka tegas.
"Siap Pak, saya nggak kenal dengan mereka Pak!" jawab Pak Ruhut tegas.
__ADS_1
"Rumah sakit terdekat dari sini, dimana Pak Ruhut?" tanya Jaka, yang masih memegang 2 pentungan kayu di tangan kirinya.