SESUATU YANG TERTUNDA

SESUATU YANG TERTUNDA
27. Pingsan


__ADS_3

Mereka pun berbagi tugas, Nanang dan Nurdin menggulung karpet,


Jaka, Dani, Darno, Lubis mengembalikan kursi, dan meja tamu, dari teras depan ke ruang tamu.


Tante Maryam, Dira dan Rena ke dapur, bantuin Bunda bikin kopi, dan cemilan.


Karena bergotong royong, para pria telah selesai, merapikan ruang tamu. mereka pun bersantai di teras depan.


Rena dan Dira pun datang, dengan membawa nampan, berisi kopi dan cemilan.


"Silahkan dinikmati," ucap Rena dan Dira bersamaan.


"Iya Mbak Rena, Mbak Dira terima kasih ya," sahut Dani.


"Terima kasih ya istri-istri ku tersayang," balas Jaka.


Tak lama Gatot dan Tedi pun datang.


"Ini Bang sisa duit, dan kartu ATM nya," ucap Gatot sambil menyodorkan kartu ATM.


"Ayo dibagikan rokoknya, terima kasih ya," sahut Jaka sambil mengambil kartu ATM nya.


"Sama-sama Bang," balas Gatot.


"Ini Rp 6.000.000.- kalian bagi untuk pegangan ya," ucap Jaka sambil menyodorkan uang.


"Tapi Bang?" sahut Gatot.


"Tapi apa! Kalian nggak mau! Kasihkan uang itu, untuk keluarga kalian!" balas Jaka tegas.


"Siap Bang kami terima, terima kasih Bang," jawab mereka berenam kompak.


"Sekarang kalian istirahat, kalian pulang dulu. Siapkan fisik kalian, untuk tugas kalian besok. Dan rokoknya dibawa.Terima kasih ya," ucap Jaka.


Mereka pun bergegas berpamitan, dan bersalaman, dan langsung pulang dengan wajah gembira.


Jaka pun bergegas mengambil barang-barangnya, dan pindah kerumah Papa disebelah.


"Ayah, Bunda kami kerumah sebelah dulu ya, mau mandi," ucap Jaka sambil tersenyum dibarengi anggukan Rena dan Dira.


"Iya Nak, mandinya jangan lama-lama ya, nanti masuk angin. Ingat nanti makan malam bersama di sini," jawab Bunda sambil tersenyum jahil.😉😉


"Oke Bun," sahut Dira dan Rena bersamaan, dengan wajah tersipu-malu.


Rena pun membuka kunci pintu, dan memasuki rumah.


"Assalamu'alaikum," ucapnya.


"Wa alaikumussalam warahmatullah," jawab mereka bertiga bersamaan.


"Mas Jaka mau mandi duluan, atau kami yang duluan mandi," ucap Dira.


"Kalo mandinya barengan gimana? Tanya Jaka sambil tersenyum jahil.

__ADS_1


😉😉


"Yee, Mas Jaka, mau curi-curi kesempatan nih," seloroh Rena.


"Nggak apa-apa kan, lagian sama istri sendiri juga," sahut Jaka sambil main mata, menggoda kedua belahan jiwanya.


"Boleh Mas, tapi nggak pake plus-plus ya?" balas Rena, karena dia belum siap, untuk berhubungan badan.


Mereka pun menutup pintu, dan jendela rumah. Lalu mandi bertiga.


Jaka pun membuka pakaiannya, dan menyisakan CD nya. Di ikuti Rena dan Dira yang membuka pakaian mereka hingga menyisakan pakaian dalam.


Sontak saja kejadian itu membuat Jaka terkesima, melihat kearah lekuk tubuh kedua istrinya, tanpa berkedip.


"Mas, Mas Jaka, Mas Jaka kenapa?" ucap Dira dan Rena, dengan wajah tersipu, sambil menepuk pipi Sang suami.


Jaka pun kaget, dan langsung sadar dari lamunannya.


"Iya Dek, Mas nggak apa-apa kok. Cuma terkesima aja, melihat kalian berdua kayak gini. Kalian terlihat lebih cantik," seloroh Jaka sambil tersenyum jahil.


"Gombal, ternyata Mas pinter banget ngegombalnya," sahut Dira.


"Ya udah, sesuai omongan sebelum mandi tadi, mandinya nggak pake plus-plus ya Mas, nanti malam aja plus-plus nya," ucap Rena.


"Waduh, gimana nih, adik kecil ku sudah terbangun dari tidurnya," rengek Jaka.


Mereka bertiga pun melepaskan pakaian yang tersisa, lalu mengguyurkan air dan saling menggosokkan sabun di badan.


"Aahh, gede banget," teriak Rena, dan langsung pingsan, setelah melihat adik kecil Jaka.


Jaka dan Dira pun langsung berpakaian, lalu membantu Rena yang masih pingsan berpakaian. Jaka pun bergegas mengambil minyak angin.


Sedangkan Dira membuat teh hangat di dapur. Setelah selesai, Dira pun bergegas ke kamar, sambil membawa nampan, berisi segelas teh manis hangat.


"Mas Jaka juga sih, ngapain juga ngajak mandi bareng," ucap Dira asal.


"Jadi aku yang salah nih?" sahut Jaka pasrah.


"Ya iyalah Mas, Rena kan pingsan, gara-gara liat adik kecilnya Mas Jaka." balas Dira.


Hhuuu...


Jaka pun hanya menghembuskan nafas panjang, setelah mendengar ocehan Dira.


Jaka langsung mengoleskan minyak angin di bawah hidung, di belakang telinga, dan kaki, sambil memijat pelan kaki Rena.


Akhirnya Rena pun sadar dari pingsannya, sambil melihat sekelilingnya, dan melihat Jaka dan Dira.


"Aku dimana Mas? Perasaan aku tadi lagi mandi, bareng kalian," ucap Rena lemas.


"Kamu tadi pingsan dikamar mandi Dek, untungnya aku langsung menangkap tubuh mu." Sahut Jaka.


"Maafkan Mas Jaka ya Dek," sambung jaka sendu.

__ADS_1


"Makasih ya Mas, kenapa Mas minta maaf? Mas Jaka nggak salah kok," balas Rena.


"Soalnya Dek Dira ngomong tadi, aku yang salah. Kalo aku nggak ngajak mandi bareng, kan nggak bakalan kayak gini ceritanya." Sahut Jaka.


"Ya ampun, ternyata suami kita baperan Rena. Nggak kayak gitu juga kali Mas, itu kan cuma omongan orang lagi panik Mas." Ucap Dira.


'Ini Dek, diminum dulu teh hangatnya," sambung Dira, sambil membantu Rena meminum teh.


"Makasih ya Mbak," sahut Rena.


Setelah Rena merasa baikan, mereka pun melakukan sholat Maghrib berjamaah. Lalu bergegas pergi kerumah Ayah, Bunda, untuk makan malam bersama.


Selesai makan malam bersama, Jaka pun langsung ke teras depan rumah, untuk melanjutkan aktivitas mengatur nafas, lewat sebatang rokok.


Sang Ayah pun bergegas mengikuti nya, sedangkan Dira dan Rena membantu Bunda membereskan meja makan.


Bunda memasak air, untuk membuat dua gelas kopi hitam.


"Bunda masak air, mau bikin kopi ya?" tanya Rena.


"Iya Nak, kalian berdua mau bikin kopi hitam juga?" sahut Bunda.


"Nggak Bun, kami bikin teh aja," sambung Dira yang disertai dengan anggukan Rena.


Bunda pun mengambil 5 gelas, untuk membuat dua kopi hitam dan 3 teh manis.


Ayah dan Jaka asyik mengobrol sambil merokok.


"Jaka, Ayah masih bingung, rencana apa yang akan kamu lakukan, dengan segala aset yang kamu miliki sekarang." Ucap Ayah.


"Aku masih belum tahu Yah, tapi nanti sambil jalan aja. Kalo memang ada yang harus dibenahi, dan diperbaharui, tentang manajemen, dan sistem operasinya. Kapan -kapan Jaka akan berkunjung ke perusahaan, dan showroom Yah.


Tapi yang pastinya Jaka mau ke Bank KH dulu di ibukota, untuk melakukan perubahan data identitas tabungan." Sahut Jaka panjang kali lebar.


"Ayah kurang mengerti tentang urusan manajemen, karena ayah cuma petani Nak, Ayah menyesal karena dulu nggak bersekolah dengan benar," ucap Ayah sendu.


"Kalo dulu Ayah tidak bertemu, dengan almarhum mas Adjie Papamu. Mungkin Ayah nggak bisa kayak sekarang.


papamu banyak membawa perubahan, pada kehidupan kami berlima." Sambung Ayah sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu membuang asapnya perlahan.


"Ayah, apapun yang terjadi adalah takdir, dan ketentuan Allah, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, tapi tetap rezeki, jodoh dan maut Allah lah yang menentukan dan mengaturnya." Jawab Jaka bijak.


"Kamu benar Nak, Ayah cuma terkenang, masa lalu Ayah yang kelam." Sahut Ayah angkatnya.


Ayah nggak usah larut dalam masa lalu Yah. Sekarang kita bersama-sama harus bisa memperbaiki diri, dan memberikan yang terbaik, untuk masa depan yang lebih baik dan cerah." Kata Jaka bijak.


"Asyik banget ngobrolnya," ceplos Bunda, dengan di ikuti oleh Rena dan Dira, yang membawa nampan, berisi cemilan dan minuman.


"Ini Yah, Mas biar tambah enak ngobrolnya." Ucap Rena, sambil menyodorkan gelas kopi hitam di meja. Dan Dira pun, menyodorkan sepiring cemilan sambil tersenyum.


"Makasih istri-istri ku tersayang," ucap Jaka sambil tersenyum manis.


Mereka pun melanjutkan mengobrol, dengan akrab dan semangat.

__ADS_1


Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 21:45, mereka pun berpamitan untuk istirahat. Setelah Rena dan Dira membantu Bunda membereskan dan mencuci piring dan gelas kotor.


Setelah pulang ke rumah sebelah, mungkin karena kecapaian. Karena kasur dikamar Papa berukuran besar, mereka pun langsung beristirahat dikamar Papa bertiga.


__ADS_2