
"Ternyata emang bener kata Pak ustadz. Sesungguhnya apa yang dilihat, belum tentu itu yang terlihat, apa yang didengar, belum tentu itu yang terdengar, dan apa yang dirasa, belum itu yang dirasa.
Ternyata apa yang terjadi juga, belum tentu itu yang terjadi." Kata Jaka sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu membuang asapnya perlahan.
"Jarko, Jarko!" kata Jaka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jarko pun melihat Jaka sebentar, lalu menundukkan kepalanya karena malu.
"Ya udah, berarti gini aja.
Dini!" kata Jaka memutuskan arah omongannya.
"Iya Bang," sahut Dini.
"Kamu mau nggak jadi istri Jarko?" tanya Jaka to the points, tanpa basa-basi lagi.
Sontak saja Dini pun terkejut, mendengar pertanyaan Jaka barusan.
Setelah melihat situasi, Jaka pun berkata dengan suara tegasnya.
"Jarko! Jawab dengan serius. Kamu mau nggak kalo Dini, menjadi istri mu?" tanya Jaka.
Dengan gelagapan, karena terkejut, Jarko pun berkata.
"Kalo, aku sih, mau Bang, mau banget malahan, karena memang, itu keinginan ku, yang belum bisa diungkapkan," jawab Jarko semangat, dengan binar-binar kebahagiaan diwajahnya.
"Gimana Dini, apakah kamu menerima lamaran ini? Kalo kamu menerima Jarko, berarti malam ini juga kami akan ke rumahmu, untuk melamar ke orang tuamu. Dan kamu tinggal menyebutkan persyaratannya." Kata Jaka sambil tersenyum ramah.
Sontak saja Dini pun terkejut mendengar perkataan Jaka barusan.
__ADS_1
"Aduh! Gimana nih, kalo ditolak, sayang, karena aku pun menyukai Bang Jarko. Kalo diterima, memang itu keinginan ku. Tapi, gimana cara ngomongnya ya," gumam Dini bingung. 😕
"Terima aja Dini, jangan ditolak," kata Dira. Yang sedari tadi sempat mendengar, dan memperhatikan, obrolan yang berlangsung di balkon.
"Sayang! Sejak kapan Adek disitu?" tanya Jaka terkejut.
"Sejak 10 menit yang lalu Mas," jawab Dira.
"Iya Mbak Dini, terima aja. Sayangkan, ada barang bagus dicuekin," ceplos Sania sambil melihat ke arah Abang Jarko.
"Bagaimana Dini! Apakah kamu mau dan setuju? Ini semua tergantung kamu, tidak ada yang memaksamu disini. Kalo kamu mau, Alhamdulillah, kalo kamu nggak mau, juga nggak apa-apa kok. Kamu nggak akan saya pecat gara-gara masalah ini!" kata Jaka tegas.
"Beneran Bang? Saya nggak akan dipecat?" sahut Dini.
"Beneran saya janji, tapi tetap. Jaga mutu pekerjaan, jaga kekompakan, dan selalu profesional dalam bekerja." Kata Jaka.
Hhuuu...
"Kalo gitu saya mau Bang," jawab Dini pelan, karena grogi.
"Apa Dini? Coba kamu ulangi lagi," sahut Jarko penasaran.
"Duh yang lagi berharap, semangat bener nanyanya," sahut Dira.
"Iya nih Jarko, tadi lemes banget, pas udah dijawab, mau minta diulangi lagi," seloroh Jaka.😉
"Aku kan tadi nggak jelas dengarnya Bang," sahut Jarko.
"Nggak jelas, apa nggak dengar?" goda Jaka.😉
__ADS_1
"Yee Abang, orang sudah grogi gini, masih aja dijahili!" sahut Jarko sewot.
"Gimana Dini, apakah kamu mau mengulangi, jawaban mu lagi, untuk calon suamimu?" tanya Jaka sambil tersenyum jahil. 😉
"Iya Bang Jarko, aku mau," jawab Dini, dengan wajah tersipu. 😚😚
Jarko pun tiba-tiba berdiri dan memeluk Dini dengan erat.
"Terima kasih sayang," ucap Jarko dengan perasaan haru, dan bahagia yang teramat sangat.
"Tadi malu-malu, sekarang malah malu-maluin. Main sosor aja kayak angsa," seloroh Jaka.😉
"Bang Jaka, kayak nggak tau aja bagaimana bahagianya hati ini, setelah sekian tahun berharap, lalu mendengar jawaban Dini barusan," kata Jarko semangat.
"Berarti kalo gitu, kita akad nikahnya barengan aja ya, disini besok," sahut Jaka bersemangat.
"Maksudnya apa Bang?" tanya Jarko.
"Sekalian aja, sekalian aku nikahi Sania, disini besok." Jawab Jaka bersemangat.
"Maksudnya Mas Jaka gimana?" tanya Sania yang masih kaget.
"Emangnya Adek nggak mau?" goda Jaka.
"Mau sih Mas, tapi apa nggak ke cepetan Mas?" tanya Sania tersipu.😚😚
"Ikan sepat, ikan gabus. Makin cepat makin bagus," seloroh Jaka.
"Iya nggak apa-apa Mbak, makin cepat makin bagus, seperti kata Jaka barusan," sahut Ibu yang masih berdiri didekat pintu balkon, sambil tersenyum, dan melihat ke arah Sania.
__ADS_1